” Pondok Pesantren Versi Full day School “

6 10 2008

A. Pengantar
“Mencari ilmu wajib bagi orang Islam baik laki-laki maupun perempuan” begitulah nabi bersabda bagi umat manusia. Setiap insan yang bernyawa tanpa melihat status gendernya memiliki hak dan kewajiban untuk mencari ilmu sebagai bekal dan sarana hidup dalam ta’abbud kepada Allah SWT. Allah berfirman ” tidak Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali menyembah (kepadaKu). Kewajiban mencari ilmu bagi manusia sangat integral dalam upaya pangabdian kepada Allah SWT.
Dalam ajaran Islam kewajiban mencari ilmu tidak terbatas hanya ketika kita masih berusia muda sebagaimana lumrah dipahami kebanyakan orang. Justru Islam mewajibkan mencari ilmu sejak dari ia lahir sampai ia tidak bernyawa. (long life education). Nabi bersabda “Carilah ilmu dari sejak buaian sampai liang lahat.
Dari beberapa paparan di atas menjadi jelaslah tentang kewajiban umat Islam secara individual untuk mencari ilmu yang tidak mengenal waktu, sehingga pemahaman kita saat ini yang menganggap bahwa kewajiban belajar itu hanya bagi usia muda dan waktunya berkisar dari jam 07 pagi sampai 13. 30 siang, tetapi dalam pendidikan Islam bahwa kewajiban belajar adalah seumur hidup, serta lama belajarnya adalah sehari semalam (24 jam) atau Full School.

B. Pondok Pesantren
Pondok pesantren pada hakikatnya merupakan warisan pendidikan Islam sejak Nabi Muhammad SAW., diutus sebagai Rasul. Nabi mengajar para shahabat siang dan malam baik di masjid sebagai pusat studi Islam saat itu maupun di tempat lain secara umum. Namun secara formal kelembagaan, menurut Karel Steenbrink, Clifford Geerts dan lainnya sepakat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional asli Indonesia (Amin Haedari dkk., 2004; 1-2). Pendapat lain mengatakan bahwa pesantren “adalah lembaga pendidikan yang dikembangkan secara indegenous oleh masyarakat Indonesia sangatlah tidak berlebihan, karena sebenarnya pesantren merupakan produk budaya masyarakat Indonesia” (Ainurrafiq Dawam dkk., 2005; 5), disamping itu bahwa “pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia (Rohadi Abdul Fatah dkk., 2005; 13).
Pesantren yang didefinisikan secara formal memiliki elemen-elemen yang membedakan dengan dunia pendidikan lainnya. Elemen-elemen pesantren meliputi pondok (asrama), masjid, pengajaran kitab-kitab klasik, santri, dan kyai sebagai top figur dalam dunia pesantren (lihat Zamakhsyari Dhofier, 1994; 44-55).
Pada dasarnya pendidikan pondok pesantren tidak membatasi usia santri/ siswa dalam menempuh pembelajarannya. Siswa diklasifikasikan menurut kemampuan bidang keahliannya dalam bidang agama, sehingga pengetahuan umum dan usia tidak menjadi ukuran kelasnya. Namun dalam perkembangannya pondok pesantren telah mengembangkan pendidikannya, “paling banyak hanya akan dihasilkan pengalihan titik berat dari kurikulum agama menjadi kurikulum yang lebih berorientasi pada kebutuhan masa kini (Abdurrahman Wahid, 2001; 50) yaitu berorientasi pada dunia kerja.
Aktivitas pendidikan pondok pesantren biasanya dimulai sejak jam 03.30 (pagi) sampai jam 24.00 (malam). Itulah kiranya keunikan pendidikan pesantren yang menjadikan efesiensi waktu menjadi hal yang sangat berharga sehingga hampir sehari-semalam sarat dengan suasana pendidikan terutama yang berorientasi kepada aspek ubudiyah dan skill yang dikembangkannya.
C. Full Day School
Dengan semakin berkembangnya kehidupan dan radiasi globalisasi, pendidikan saat ini mulai beramai-ramai meningkatkan kualitas sumber daya siswanya dengan berbagai cara yang dilakukannya. Hal ini berangkat dari banyaknya tuntutan masyarakat dan lingkungan yang mengharapkan adanya output pendidikan yang memiliki pengetahuan yang mampuni dan skill yang bisa diaktuaisasikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Dengan adanya fenomena tersebut, lembaga pendidikan berlomba-lomba melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang melampaui dari jam yang telah ditentukan yang dikenal dengan full day school. Yakni para siswa melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang mestinya hanya dari jam 07.00 sampai 13.00, kini berubah dari jam 07.00 sampai 15.30. tentunya hal ini sangat mengembirakan, paling tidak siswa lebih lama lagi berada di lingkungan pendidikan yang kondusif ketimbang di lingkungan liar di luar sekolah.
Adanya perkembangan tersebut juga terkait dengan adanya kompetisi antar lembaga pendidikan untuk menjadikan instansinya menjadi lembaga favorit yang diminati oleh masyarakat. Tentunya hal ini sangat menguntungkan kepada kedua belah pihak. Satu sisi orang tua yang sehari suntuk bekerja tidak merasa was-was terhadap anak-anaknya karena selama dia bekerja anaknya berada dalam lingkungan yag kondusif. Pada sisi yang lain lembaga pendidikan merasa terkurangi bebannya dengan masalah-masalah siswa yang sering terjadi pelanggaran asusila diluar lingkungan pendidikan, sehingga pendidik yang memiliki tugas menjadikan siswa-siswi yang baik akan terpenuhi.
Full day school sebagaimana dilaksanakan di SMP Al-Hikmah Surabaya misalnya merupakan fenomena baru yang perlu diapresiasi oleh pemerhati dan pelaksana pendidikan lainnya. SMP Al-Hikmah di setting dengan suasana yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa bosan walau harus berlama-lama berada dilingkungan pendidikan. Dalam pembelajarannya juga di setting menyenangkan, karena para pendidiknya memposisikan diri sebagai “pelayan” yang baik dan tidak membosankan. Disamping itu full day school Al-Hikmah sangat efesien dalam kegiatan belajar mengajar, dalam artian tidak ada waktu sedikitpun yang terbuang percuma.

D. Pondok Pesantren dan Full Day School
Lahirnya full day school yang sedang menjamur di balantika pendidikan nasional tidak terlepas dengan pengaruh pendidikan pesantren. Hal ini bisa dilihat dari sejarah pesantren berabad-abad yang lalu telah melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sehari semalam. Tidak menutup kemungkinan bahwa keberhasilan pesantren saat ini terutama yang menyangkut moralitas adalah menjadi inspirasi terbentuknya full day scholl di lembaga-lembaga pendidikan non pesantren.
Pendidikan pesantren dan full day scholl merupakan dua mata rantai yang saling mengisi satu sama lainnya. Satu sisi pesantren KBM-nya sehari semalam pada sisi yang lain full day school kegiatan belajarnya sehari suntuk. Tentunya pendidikan pesantren memiliki nilai plus karena disamping waktu KBM-nya lebih lama juga pendidikan keterampilan dan kemandirian siswa lebih ditekankan walaupun efesiensi waktu kurang mendapat perhatian penuh. Sedangkan full day school aktivitas KBM-nya hanya sehari suntuk dan nilai kemandiriannya kurang menjadi perhatian namun efesiensi waktu yang digunakan sangat optimal, sehingga jarang waktu berjalan dengan sia-sia.
Dalam upaya peningkatan pendidikan pesantren secara prospektif dan ideal menjadi keniscayaan untuk meningkatkan optimalisasi dan efesiensi waktu dalam pelaksanaan KBM, serta merealisasi ajaran-ajaran agama yang secara konseptual telah dikuasi oleh masyarakat pesantren. Nampaknya selama ini dari dua hal tersebut, disamping pesantren memiliki nilai plus namun sisi lain pesantren masih sangat lemah menghargai waktu dan aplikasi dari materi yang telah diajarkan, sehingga timbul image bahwa pesantren tidak istiqamah (kurang disiplin dan tidak aplikatif) dalam menjalani kehidupan, padahal mestinya dua hal tersebut menjadi preoritas.
Dengan demikian bahwa pelaksanaan full day school dan pendidikan pesantren merupakan dua hal yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan berbangsa, sehingga tujuan negara menjadikan manusia seutuhnya akan terealisasi. Sedangkan dalam paradigma agama akan terciptanya insan kamil karena keberadaannya bermanfaat bagi orang lain (Khoirun nas Anfa’uhum Linnas), dan menjadi insan yang berakhlakul karimah sebagaimana tujuan Nabi diutus (Innama Bu’istu li Utammimah Makarimal Akhlaq). Hal ini karena seluruh komponen anak bangsa terkondisi oleh lingkungan pendidikan yang lebih lama sehingga pada akhirnya akan tercipta negara yang subur dan makmur yang diampuni oleh Allah SWT. (Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur). WaLLlahu A’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Wahid, 2001, Menggerakkan Tradisi Esai-esai Pesantren, Yogayakarta, LkiS
Ainurrafiq Dawam dkk., 2005, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, tk., Lista Fariska Putra
Amin Haedari dkk., 2004, Masa Depan Pesantren, Jakarta, IRD PRESS
Rohadi Abdul Fatah, 2005, Rekonstruksi Pesantren Masa Depan, Jakarta Utara, Listafariska Putra
Zamakhsyari Dhofier, 1994, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hiduo Kyai, Jakarta, LP3ES, Cet., VI


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: