Pesantren dan Globalisasi

6 10 2008

A. Globalisasi dan dampaknya
Kehidupan manusia yang pada awalnya terpisah antara budaya satu dengan lainnya, antar daerah dan terskat-skat oleh negara, kini dengan mudahnya skat-skat yang dulu kokoh sudah melebur tanpa batas. Pengembangan ekonomi, sosial, seni, budaya, politik antar negara bisa masuk dengan mudahnya. Itulah globalisasi dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan zona, sehingga “transparansi” menjadi keniscayaan.
Dulu pepatah mengatakan “dunia tidak selebar daun kelor” maksudnya bahwa dunia itu sangat luas sulit terjangkau, sehingga untuk mengetahui situasi dan kondisi di Mekkah saja orang harus naik haji ke Baitullah. Bagi yang ingin mengetahui keadaan Amerika ia harus berkunjung ke negeri Paman Sam. Kini pepatah itu dengan sendirinya di-nasakh menjadi “dunia selebar daun kelor. Artinya saat ini manusia dengan mudahnya bisa mengakses segala keadaan suatu negara di ujung paling Barat-pun, bahkan suatu kejadian di suatu negara satu menit yang lalu sudah bisa di akses dengan menggunakan telepon seluler atau media elektronik lainnya.
Tidak adanya pembatas antara satu negara dengan negara lainnya menjadikan arus informasi tidak bisa difilter lagi masuk ke lorong-lorong kecil, gang-gang sempit, bahkan pelosok pedalaman sekalipun. Tentunya hal ini pada satu sisi akan berdampak posisitf karena perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan dengan mudahnya bisa tersosialisasi dengan sangat mudah kepada masyarakat luas. Namun pada sisi yang lain juga berdampak negatif terutama yang menyangkut moralitas manusia yang akan semakin bobrok, karena dengan sangat mudahnya orang akan meniru budaya dan prilaku yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Arus budaya Barat yang mengalir dengan derasnya melalui media televisi menjadi suguhan rutin bagi anak kecil, remaja, orang tua, tokoh-tokoh masyarakat bahkan kiai sekalipun. Bagi anak kecil dan remaja akan mudah untuk mengapresiasikan apa yang mereka lihat, baik dari segi pakaian, tingkah-laku dan gaya hidup yang ingin mewah dan hedonis. Bagi orang tua juga akan terbawa oleh kultur-kultur non Islam yang sengaja di-setting untuk menghancurkan nilai-nilai akhlakul karimah, sehingga mereka terkikis oleh nilai-nilai tersebut. Bagi tokoh masyarakat dan “kiai” paling tidak mereka yang dulunya ruhul jihad-nya sangat kuat menentang hal-hal yang berbeda dengan nilai-nilai relegius kini menjadi “moderat” dan menyaksikan budaya-budaya Barat melalui media bahkan “memberi permakluman” terhadap tayangan-tayangan yang jelas-jelas mengkikis norma-norma agama.
Suatu ketika almarhum KH. Hasan Abdul Wafi pernah dawuh “sekarang orang-orang perempuan yang telanjang tiap saat dengan mudah dan bebasnya bisa keluar masuk ke rumah-rumah kiai, yaitu melalui media televisi.” Apa yang beliau sampaikan memang memprihatinkan karena sangat tipis perbedaan antara orang yang telanjang bedeneran dengan tayangan televisi yang sering berpakaian tidak senonoh. Menurut pandangan beliau hal ini sangat ironis sehingga selama hidupnya beliau tidak pernah melihat TV dan bahkan melarang-putra-putrinya memiliki Televisi. Hal ini merupakan jihad beliau dalam memfilter westernisasi yang semakin menjadi-jadi untuk menghancurkan moralitas manusia khususnya umat Islam.
Moralitas manusia menjadi barometer kemajuan suatu bangsa secara hakiki. Karena bagaimanapun kemajuan di suatu negara tanpa di dasari akhlakul karimah maka pembangunan akan sia-sia. Kemajuan dalam bidang knowledge dan skill-nya merupakan harapan setiap insan, namun tanpa didasari oleh ahkhlakul karimah maka akan menjadi bumerang, sehingga kemampuan apapun yang diperoleh oleh perkembangan jaman akan digunakan untuk berma’syiat kepada Allah SWT. Realitas di masyarakat, orang yang tidak berilmu ia bisa mencuri seekor ayam lalu dijebloskan ke tahanan dan di dera sekitar 2-3 tahun. Sementara dengan kepandaiannya seorang pejabat bisa mencuri uang rakyat milyaran bahkan trilyunan dan hebatnya selang beberapa hari saja ia bisa menghirup alam bebas. Inilah kepandaian yang sistematis baik pelaku, jaksa, dan pihak keamanannya, sehingga pada sisi yang lain ia sangat mudah untuk melakukan NKK (Nepotisme, Kolusi, Korupsi) dan kema’syiatan lain. Begitu juga kema’syiatan berupa kesopanan sikap, cara berpakaian yang dengan mudah mengikuti tren-tren di televisi yang tentunya telah melanggar syari’at Allah.

B. Pesantren yang Realistik
Pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan Islam tertua dan eksis dalam setiap pergantian masa menjadi sangat urgen untuk memegang peran dalam menanamkan tatanan kehidupan yang islami. Filterisasi budaya Barat menjadi keniscayaan untuk selalu diupayakan. Adanya filterisasi tersebut tidak sertamerta dengan menutup mata terhadap perkembangan zaman dan suguhan media informasi yang sulit dibendung. Atau dengan uzlah hidup di tempat pedalaman yang jauh dari keramaian sebagaimana pada saat kejayaan sufisme klasik tempo dulu. Tentunya pesantren harus pro aktif melakukan upaya-upaya konstruktif dengan meminimalisir bahkan mencegah arus globalisasi yang lebih cenderung kepada mafsadah.
Dalam bidang keilmuan diniyah, pesantren telah cukup untuk memenuhi kebutuhan relegius bagi umat Islam. Pesantren dengan konsisten tetap eksis dalam kesehariannya membahas nilai-nilai keagamaan dari sekedar furudul ainiyah-nya juga dari pemikiran keagamaan baik secara tekstual maupun kontekstual. Artinya secara konseptual keagamaan seluruh pesantren telah ikut andil dalam mentransfer keilmuannya dibidang diniyah. Hal ini merupakan nilai positif pesantren dalam mensosialisasi pemahaman relegius.
Dalam perspektif yang lain semestinya pesantren tidak hanya berkutat pada sosialisasi pemahaman diniyah-nya saja, namun lebih diharapkan pada aplikasi dari pemahamannya. Sehingga ada istilah “ilmu yang bermanfaat”, maksudnya ilmu dari hasil pemahaman tersebut harus direfleksikan pada kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari pemahaman agama nampaknya sangat lemah yang dilakukan oleh pesantren, sehingga alumni pesantren lebih banyak pandai terhadap teoritisnya tapi sangat kering dari pengamalannya.
Tentunya kedepan pesantren harus lebih mengintegralkan antara konsep diniyah dan realitas, sehingga konsep diniyahnya yang melangit menjadi relaistis dan membumi. Hal ini harus dimulai oleh top figur di pesantren (dari jajaran pengasuh, pengurus, asatidz dan pengurus struktural pada tingkatan terendahpun), untuk merealisasi ajaran agamanya. Contoh paling sederhana bagaimana komunitas pesantren membiasakan ubudiayah, berpakaian, bertutur kata dengan akhlakul karimah yang telah dicontohkan oleh Nabi sebagai panutan umat manusia, karena hanya Nabi yang pantas menjadi idola umat Islam. Hal ini perlu Ibda’ bi nafsik dari masing-masing individu sehingga umat Islam akan bisa “Beramal Ilmiah Berilmu Amaliah. Wallahu A’lam. (dalam Bulletin Duniyah Nurul Jadid Juli 2008)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: