Pendidik Dalam Perspektif Al-Qur-an

6 10 2008

Abstrak: Pendidik menjadi icon penting dalam dunia pendidikan, sehingga keberhasilan lembaga pendidikan dalam mencetak anak didiknya tidak terlepas dari eksistensi pendidik yang memiliki sifat-sifat pendidik yang baik disamping kemampuan skillnya. Al-Qur’an banyak berbicara tentang pendidik yang siap mengantarkan pada ranah kehidupan yang lebih baik. Pendidik sebagai ujung tombak yang bisa merobah manusia baik dari aspek budaya, sosial, dan agama.
Kata Kunci: Pendidik, Perspektif, Al-Qur’an
A. Pendahuluan
Tuntunan Islam sangat menekankan akan urgensi pendidikan bagi umat manusia. Pada hakikatnya pendidikan sebagai jalan satu-satunya menuju kehidupan yang tentram dan damai baik di dunia juga di akhirat. Bagaimana manusia akan tentram di dunia apabila ia tidak mengetahui ilmu-ilmu dunia ? begitu juga untuk memperoleh kedamaian di akhirat harus mengetahui jalan menuju kedamaian akhirat. Untuk mengetahui kedua jalan tersebut harus menggunakan kendaraan ilmu, berupa pendidikan.
Pendidikan merupakan sarana potensial menuju keharibaan Tuhan. Keberhasilan sebuah pendidikan tidak akan terlepas oleh profesionalisme pendidik yang menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya. Bila dalam Al-Qur’an Allah menjadi subyek sebagai pendidik alam semesta (رب العالمين) tentunya hal itu sebagai gambaran bagi manusia untuk bisa mengaplikasikan ajaran langit dengan meggunakan bahasa yang membumi. Dengan demikian diharapkan bagaimana Allah sebagai pendidik “menjadi integral dengan manusia sebagai pendidik”, sehingga pendidikan yang ideal menurut Al-Qur’an menjadi realistis di muka bumi ini. Keberhasilan Allah sebagai pendidik alam raya menjadi manefestasi manusia untuk meraih kesuksesan “yang serupa”.
Namun realisasinya dengan semakin “majunya perkembangan zaman”, menjadikan ajaran Al-Qur’an semakin termarjinalkan. Hal ini bisa diresapi oleh setiap individu bagaimana eksistensi pendidikan belakangan ini yang tidak memiliki arah secara hakiki. Pendidikan yang mestinya menjadi kewajiban individu terhadap penciptanya, kini hal tersebut sudah tidak memiliki atsar lagi. Kini pendidikan sudah tidak mengarah kepada ranah yang hakiki, justeru mengarah pada prestise, tidak mementingkan moral, dan mempreoritaskan pada hal yang berbau materi.
Imam Suprayogo menyatakan bahwa “cukup banyak bukti, bahwa seseorang yang memiliki kekayaan ilmu dan keterampilan, jika tidak dilengkapi dengan kekayaan akhlak atau moral, maka justru ilmu dan keterampilan yang disandang akan melahirkan sikap-sikap individualistik dan materialistik. Dua sifat ini akan menampakkan perilaku yang kurang terpuji seperti serakah, tidak mementingkan orang lain dan sifat-sifat jelek lainnya.
Adanya ranah pendidikan yang semakin melenceng jauh dari kehakikiannya, tidak terlepas dari seorang pendidik yang mestinya menjadi suri teladan bagi peserta didiknya justru belakangan ini banyak guru yang membiarkan bahkan membentuk anak didik menjauh dari ajaran Al-Qur’an sehingga dekadensi moral tak bisa dielakkan lagi. Bukankah pepatah mengatakan, guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari?
B. Pendidikan dalam Al-Qur’an
Kelebihan manusia dari makhluk lainnya adalah terletak pada kemampuan akal pikirannya. Menurut Ibnu Khaldun manusia adalah makhluk yang berfikir. Oleh karena itu ia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Sifat-sifat seperti ini tidak dimiliki makhluk lainya. Lewat kemampuan berfikirnya itu manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses yang seperti ini melahirkan peradaban. Untuk mengantarkan pada suatu pemikiran yang dinamis dan prospektif Al-Qur’an mengajarkan umat manusia untuk selalu membaca (belajar). Konteks membaca baik secara tekstual maupun membaca secara kontekstual. Sebenarnya membaca dan menulis menjadi simbol pertama dan utama dalam ajaran Al-Qur;an sebagaimana firman Allah yang pertama dalam surat Al-Alaq;
اقراء باسم ربك الذي خلق. خلق الإنسان من علق. إقراء وربك الأكرم. الذي علم بالقلم .علم الانسان مالم يعلم
“Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia tela menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yg pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.” (Q.S. Al-‘Alaq/ 96: 1-5 )

Dari firman di atas betapa Allah SWT. sangat apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Dia memberi isyarat pentingnya manusia untuk belajar membaca dan menulis dan menganalisa dari segala yang ada ini dengan diberi potensi akal sebagai pisau pengasahnya. Dengan membaca dan menulis, manusia akan eksis menjadi khalifah di bumi sebagaimana yang dijanjikan-Nya.
Dengan diawali membaca, menulis dan selanjutnya mengetahui jagat raya dan dibalik semuanya, kemudian manusia beriman, disinilah baru nampak kedudukan manusia yang tinggi, sebagaimana Allah SWT. berfirman:
…يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتواالعلم درجات، والله بماتعملون خبير.
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antarmu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuanbeberapa derajat. Dan Alla Maha mengatahui apa yang kam kerjakan”.(Q.S. Al-Mujaadilah/ 58: 11).

Dengan demikian betapa pentingnya pendidikan dalam Al-Qur’an. Pendidikan dengan melalui media membaca, menulis dan menganalisa segala relaitas yang terbesit dalam benak manusia menjadi keniscayaan bagi manusia yg memiliki potensi sehingga lebih sempurna ketimbang makhluk Tuhan lainnya. Tentunya apabila potensi tersebut digunakan secara dinamis dan benar akan mengantarkan manusia pada posisi hasanah di dunia dan hasanah di akhirat.
C. Pendidik dalam Islam
1. pengertian Pendidik
Pendidik menurut W.J.S. Poerwadarminta adalah orang yang mendidik. Definisi ini memberi pengertian, bahwa pendidik adalah orang yang melakukan aktivitas dalam bidang mendidik. Dalam bahasa Inggris disebut dengan Teacher yang diartikan guru atau pengajar dan Tutor yang berarti guru privat, atau guru yang mengajar dirumah. Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata Ustadz, Mudarris, Mu’allim dan Mu’addib. Kata Ustadz jamaknya Asatidz yang berarti Teacher (guru), professor (gelar akademik), jenjang dibidang intektual, pelatif, penulis, dan penyair. Adapun kata Mudarris berarti Teacher (guru), Instructor (pelatih) dan Lecturer (dosen). Selanjutnya kata Mu’allim yang juga berarti Teacher (guru), Instructor (pelatih), Trainer (pemandu). Selanjutnya kata Mu’addib berarti Educator (pendidik) atau teacher in Koranic School (guru dalam lembaga pendidikan Al-Qur-an).
Dengan demikian, istilah-istilah di atas mengindikasikan dalam arti pendidik, karena seluruh kata tersebut mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain. Secara umum, pendidik adalah orang yang memiliki tanggungjawab untuk mendidik. Apabila dililihat secara khusus, pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peseta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Menurut Suryosubrata, pendidik adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. di bumi, dan mampu sebagai makhluk soial, dan sebagai makhluk individu yang mandiri.
Menurut Al-Ghazali, pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mesucikan hati sehingga menajdi dekat dengan Khaliknya.
Dari beberapa istilah tersebut nampaknya istilah pendidik lebih refresentatif bila dibandingkan dengan istilah guru, pengajar, tutor dan istilah lainnya. Pendidik mengandung pengertian yang sangat luas dalam cakupannya. Seorang pendidik tidak cukup hanya sekedar menyampaikan materi kepada anak didiknya, namun lebih jauh lagi dia harus membimbing anak didiknya sampai ke akar-akarnya. Disamping pendidik menyampaikan ilmu pegetahuan juga menjadikan peserta didik mengamalkan pengetahuan tersebut.
Seorang pendidik akan selalu respek terhadap gejala dan tingkah laku negatif sekecil apapun dan ia akan selalu memonitor anak didiknya tanpa mengenal batas waktu. Karena tugas pendidik disamping mengajarkan materi dan yang lebih penting lagi ialah mengantarkan anak didik lepas dari perilaku negatif sekecil apapun. Sehingga pembinaan pendidik terhadap anak didiknya mencakup luas tanpa batas materi yang disampaikan, ia akan selalu respek terhadap kondisi yang harus mengantarkan pada suasana pendidikan. Sementara pengajar apabila dilihat dari akar katanya hanya sekedar menyampaikan dan mengajarkan materi kepada anak didiknya, sehingga purnalah tgas dia setelah ia mengajarkannya.
2. Dasar-dasar Pendidik dalam Al-Qur-an
Pada hakikatnya yang menjadi pendidik paling utama adalah Allah SWT. Sebagai guru Allah telah memberi segala gambaran yang baik dan yang buruk sebagai sarana ikhtiar umat manusia menjadi baik dan bahagia hidup di dunia dan akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut Allah mengutus nabi-nabi yang patuh dan tunduk kepada kehendak-Nya untuk menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia.
Apabila melihat petunjuk yang ada di dalam Al-Qur-an, maka pendidik bisa diklasifikasikan menjadi empat:
a. Allah SWT.
Allah sebagai pendidik utama yang menyampaikan kepada para Nabi berupa berita gembira untuk disosialisasikan kepada umat manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya:
وعلّم ادم الاسماء كلها ثم عرضهم على الملئكة فقال انبؤني باسماء هؤلاء ان كنتم صديقين.
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar-benar orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah/2: 31)

Ayat di atas dengan jelas bahwa Allah mengajar nabi Adam, kemudian di ayat lain Allah mendidik manusia dengan perantaraan tulis baca:
علّم الانسان مالم يعلم.
“Dia megajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuina. (Q.S. al-‘Alaq/ 96: 5).

Allah mendidik manusia sesuatu yang tidak manusia ketahui. Pendidikan Allah menyangkut segala kebutuhan alam semesta ini. Allah sebagai pendidik alam semesta dengan penuh kasih sayang sebagimana firman-Nya dalam surat al-Fatihah; (…رب العالمين. الرحمن الرحيم) Allah sebagai pendidik telah mengajar nabi Muhammad berupa turunnya ayat-ayat Al-Qur-an untuk di sampaikan kepada umatnya. Seperti Allah mengajari/ menganjurkan nabi berdakwah (Q.S. Al-Muddatstsir/ 74) serta ayat-ayat lain yang pada intinya sebagai imtitsal yang disampaikan pada Nabi untuk disebarkan pada umatnya.
b. Rasulullah SAW.
Nabi Muhammad SAW. Sebagai penerima wahyu Al-Qur-an yang diajari segala aspek kehidupan oleh Allah SWT (melalui malaikat jibril) untuk disosialisasikan kepada umat manusia. Hal ini pada intinya menegaskan bahwa kedudukan Nabi sebagai pendidik atau guru yang langsung ditunjuk oleh Allah SWT., dimana tingkah lakunya sebagai suri teladan bagi umatnya. Allah berfirman;
لقدكان لكم في رسول لله اسوة حسنة لمن كان يرجواالله واليوم الاخروذكراالله كثيرا.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab/33: 15).

Dengan demikian segala tingkah laku Rasulullah senantiasa terpelihara dan dikontrol oleh Allah SWT. segala anjuran dan laranganya benar-benar wahyu dari Allah sebagaimana dalam firman-Nya:
وماينطق عن الهوى. ان هو الاوحي يوحى.
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Q.S. An-Najm/ 53: 3-4).

Segala perbuatan Nabi yang dilakukan secara wajar merupakan suri teladan bagi umat manusia. Nabi yang secara langsung dibimbing oleh Tuhan menjadikan aktifitas Nabi sebagai sesuatu yang terbaik untuk diaplikasikan oleh umat manusia. Nabi sebagai Pendidik yang “sempurna” menjadi keniscayaan bagi manusia untuk menteladaninya.
c. Orang Tua
Dalam Al-Qur’an juga telah dijelaskan kedudukan orang tua sebagai pendidik anak-anaknya, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Luqman:
وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يبني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya “Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”.

Al-Qur’an menyebutkan sifat-sifat yag harus dimiliki orang tua sebagai guru yaitu pertama dan utama adalah ketuhanan dan pengenalan Tuhan yang pada akhirnya akan memiliki hikmah atau kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio. dapat bersukur kepada Allah, suka menasihati anaknya agar tidak mensekutukan Tuhan, memerintahkan anaknya agar melaksanakan salat, sabar dalam menghadapi penderitaan.
Kedudukan orang tua sangat penting dalam membina dan mendidik anak-anaknya, karena orang tua yang paling bertanggung jawab terhadap anak keturunannya. Apakah anak-anaknya mau dijadikan orang yang baik atau sebaliknya? Nabi bersabda;
عن أبي هريرة ….كل مولود يولج على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه. (رواه البخاري و مسلم وأحمد)
“Tiap-tiap anak terlahir dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, Majusi.

Orang tua disamping memiliki kewajiban memberi nafkah kepada anak-anaknya juga berkewajiban untuk membina dan mendidiknya. Dua kewajiban ini tidak bisa dipisahkan, karena menjadi tanggungan orang tua kepada anaknya. Dalam realitanya kebanyakan orang tua tidak kuasa secara langsung untuk mendidik anak-anaknya. Hal ini karena beberapa aspek yang tidak mungkin untuk dilaksanaknnya, baik karena aspek kesempatan, kemampuan dan kendala-kendala lainnya.
d. Orang lain
Pendidik yang keempat dalam perspektif Al-Qur’an adalah orang lain. Yaitu kebanyakan orang yang tidak terkait langsung dengan nasabnya terhadap anak didiknya. sebagaimana firman Allah:
فلمّا جاوز قال لفته اتنا غدائنا لقد لقينا من سفرنا هذا نصبا .
“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhny kita telah merasa letih karena perjalanan ini”.

Menurut para ahli tafsir nabi Musa berkata kepada muridnya yang bernama Yusya bin Nun. Ayat di atas menjelaskan tentang nabi Musa yang mendidik orang yang bukan kerabat dekatnya (orang lain). Selanjutnya dalam ayat lain yang menjelaskan ketika nabi Musa berguru kepada nabi Khidir, Allah berfirman;
قال له موسى هل أتبعك على أن تعلمني مما علمت رشدا
“Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”.

Dalam konteks ayat ini nabi Musa berguru kepada nabi Hidir, dimana nabi Musa kurang bisa bersabar menjadi murid nabi Hidir, sehingga yang bisa diambil hikmahnya bagaimana peserta didik bisa bersabar terhadap pendidiknya. Nampaknya Al-Qur-an secara jelas telah menjelaskan tentang empat klasifikasi pendidik (Allah sebagai pendidik seisi alam semesta, Anbiya’ sebagai pendidik umat manusia, kedua orang tua sebagai pendidik anak dari nasabnya, dan orang lain sebagai orang yang membantu mendidik anak didik secara universal.. Orang lain inilah yang selanjutnya disebut pendidik/ guru. Bergesernya kewajiban orang tua mendidik anak-anaknya kepada pendidik/ guru, setidaknya karena dual hal; pertama karena orang tua lebih fokus kepada kewajiban finansial terhadap anak-anaknya. Kedua karena orang tu memiliki keterbatasan waktu atau kemampuan mendidik/ mengajar.
Dengan demikian menjadi keniscayaan bagi orang tua untuk menyerahkan dan mempercayakan anak-anaknya kepada pendidik yang berada di lembaga pendidikan. Tentunya dengan hal tersebut kewajiban orang tua mendidik secara langsung anak-anaknya bisa diwakili oleh pendidik-pendidik tersebut, sehingga kewajiban orang memberi nafkah anak-anaknya bisa terpenuhi termasuk kewajiban mendidiknya.
3. Sifat-sifat Pendidik
Sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik sebagaimana tercantum dalam Al-Qur-an, diantaranya: sifat shiddiq, sebagaimana surat. An-Nisa’: 104, amanah sebagaimana surat Al-Qashash: 26, Tabligh, Fathanah, Mukhlish sebagaimana surat Al-Bayyinah: 5, Sabar sebagaimana surat Al-Muzammil: 10, dan surat Ali Imron:159, Saleh (mencintai, membina, menyokong kebaikan) sebagaimana surat An-Nur: 55, Adil sebagaimana surat Al-Maidah: 8, mampu mengendalikan diri sesuai diri sendiri sebagaimana surat An-Nur: 30, kemampuan kemasyarakatan sesuai surat Ali Imron: 112, dan ketaqwaan kepada Allah sebagimana surat Al-A’raf: 26, dan surat Al-Mudatstsir : 1-7).
Menurut Al-Ghazali pendidik dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadiannya, diantanya: (a) Sabar (b) kasih sayang (c) sopan (d) tidak riya’ (e) tidak takabbur (f) tawadhu’ (g) pembicaraan terarah (h) bersahabat (i) tidak pemarah (j) membimbing dan mendidik dengan baik (k) sportif (l) iklash dan lainnya. Sehingga Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidik tidak boleh meminta bayaran dan apabila bila mengajar ilmu agama hanya boleh menerimanya.
Sedangkan menurut Ibnu Khaldun bahwa pendidik harus memiliki metode yang baik dan mengetahui faedah yang dipergunakannya. Disamping itu Ibnu Khaldun menganjurkan agar pendidik bersikap sopan dan halus pada muridnya. Hal ini termasuk juga sikap orang tua terhadap anaknya, karena orang tua adalah pendidik utama. Selanjutnya jika keadaan memaksa harus memukul si anak, maka pukulan tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali. Sedangkan pendidik boleh menerima ujrah dari hasil mengajarnya.
Sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik menurut Ikhwan al-Safa ialah, pendidik harus cerdas, baik akhlaknya, lurus tabi’atnya, bersih hatinya, menyukai ilmu, bertugas mencari kebenaran, dan tidak bersifat fanatisme terhadap suatu aliran, walaupun dalam hal ini Ikhwan al-Safa tidak konsisten karena pendidik versi mereka harus sesuai denan organisasi dan tujuannya. Mereka memiliki aturan tentang jenjang pendidik yang dikenal dengan nama ashhab al-namus. Mereka itu adalah Mu’allim, Ustrdz dan mu’addib.
Guru ashhab al-namus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu. Guru, ustadz atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga, dengan tingkatan sebagai berikut: (a) Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia sekitar 25 tahun. (b) Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya sekitar 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan. (c) Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun. (d) Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun. Sedangkan menurutnya bahwa pendidik boleh menerima upah dari hasil mengajarnya.
D. Pendidik masa depan

Pendidikan adalah upaya untuk pengembangan potensi dan sumber daya manusia, artinya pendidikan itu untuk mengaktualisasikan seluruh potensi atau sumber daya manusia secara seimbang dan optimal. Dengan kemampuan mengaktualisasikan potensi atau sumber daya manusia berarti dia telah mampu meralisasikan diri, yakni bersikap sebagai pribadi yang utuh (pribadi muslim).
Pendidik dalam perspek Al-Qur’an tidak hanya sekedar memiliki sifat-sifat yang baik saja sebagaimana konsep Al-Ghazali, tetapi harus memiliki kemampuan dalam mengaktualisasikan ilmu kepada anak didiknya. Transfer ilmu oleh pendidik menjadi keniscayaan akan kualitas sumber daya pendidik dalam mengikuti perkembangan zaman.
Di era globalisasi ini akan berdampak terhadap persoalan nilai moral, sosial budaya dan keagamaan. Hal ini merupakan tantangan yang berat terhadap dunia pendidikan, disinilah pendidik ditantang untuk kiranya mampu mengatasi dan mengantisipasinya.
Sebagai jawaban atas prospek pendidik Muslim di era globalisasi hendaknya pendidik harus memiliki seperangkat ilmu pegetahuan dan keterampilan dan profesional. Disamping profesionalisme pendidik perlu dimantapkan dan dimapankan sebagai jawaban tantangan masa depan, selanjutnya perlu disinkronkan, ketika penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, profesionalisme sudah dimapankan dan dimantapkan, maka disaat itu pendidik mengajarkan ilmu-ilmu agama, saat itu pula pendidik hendaknya menyampaikan iptek islami.
Dengan demikian pendidik Muslim tidak cukup hanya berbekal dengan budi pekerti yang luhur, tetapi pendidik harus profesional yang bisa mengintegralkan Al-Qur-an dengan ilmu pengetahuan yang semakin pesat perkembangannya, sehingga Al-Qur-an benar-benar Kalamullah yang selalu aktual tanpa mengenal batas waktu.
E. Penutup
Pendidik sebagai komponen yang terpenting di dunia pendidikan menjadi figur di lingkungannya dalam mengantarkan anak-anak didiknya pada ranah kehidupan masa depan yang lebih cerah. Pendidik sebagai ujung tombak dalam memberangus kebodohan dan kemaksiatan, tentunya harus memiliki karakteristik Qur’ani dengan jalan yang persuasif dan konstruktif.
Apabila dalam Al-Qur’an setidaknya disebutkan empat klasifikasi pendidik, namun pada dasarnya memiliki “kesamaan” dalam pembinaan terhadap anak didik sesaui dengan obyeknya masing-masing dan berujung kepada penegakan kalimatullah.
Sedangkan menyangkut keikhlasan pendidik dalam Al-Qur-an, untuk tidak mengharapkan apa-apa dalam mentransefer ilmunya kepada orang lain, tentunnya hal ini perlu ditanamkan seorang pendidik dari sejak dini. Namun sebagai pendidik, ia mempunyai dua kewajiban yang bersamaan. Satu sisi pendidik mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ilmunya, mencerdaskan masyarakat, sedangkan sisi lain ia mempunyai kewajiban menyambung hidupnya. Sehingga dua kewajiban yang bersamaan ini semestinya harus terpenuhi tanpa mengurangi keikhlasan yang dianjurkan dalam Al-Qur’an.
Dengan demikian pendidik dalam Al-Qur’an adalah sebagai penentu kebaikan generasi muda masa depan, karena ditangan pendidiklah generasi muda akan menjadi generasi yang tangguh dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan masa dengan yang lebih damai sejahtera sesuai dengan ajaran Al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA
Imam Suprayogo, Pendidikan Berpradikma Al-Qur’an, Malang, Aditya Media; 12
H. M. Arifin, 1991, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara: 91
W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jhon N. Echols dan Hasan Shadily, 1980, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta, Gramedi, cet. Ke 8: 581
Hans Wehr, 1974, A Dictionay of Modern Written Arabic, Beirut, Librairie du Liban, London: Macdonald dan Evans, Ltd; cet. ke-4: 15
Suryosubrata B, 1983, Beberapa Aspek Dasar Kependidikan,Jakarta, Bina Aksara: 26
Al-Ghazali, 1939, Ihya’ ‘Ulumuddin,Beirut, Dar al-Fikr: 13
Muhammad Munir Mursi, 1987, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-‘Arabiyah, Mesir, Dar Al-Ma’arif: 255
Ahmad Fu’ad Al-Ahwani, t.t., Al-Tarbiyah fi al-Islam, Mesir, Dar al-Ma’arif: 248
Ahmad Tafsir, 1992, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya: 32
Ahmad D. Marimba, 1989, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, A-Ma’arif : 19


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: