EKSISTENSI “ASWAJA” DAN PERKEMBANGANNYA

6 10 2008

A. Sejarah Aswaja
Islam telah mengisaratkan adanya firqah-firqah yang akan terjadi dalam kehidupan umat manusia, termasuk firqah dalam Islam. ٍSetidaknya terdapat 14 hadits yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi;
عن سفيان الثوري… قال النبي صلى الله عليه وسلم:..وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفرقت أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا: ومن هي يارسول الله؟ قال: ماانا عليه و اصحابي {رواه البرميذي: 2565}

Artinya; Dari Sufyan al-Tsauri… Nabi Saw. Bersabda:“…Sesungguhnya Bani Israil itu terpecah menjadi tujuh puluh dua aliran, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran. Semua aliran itu akan masuk neraka, kecuali satu. Para sahabat bertanya: “Siapakah satu aliran itu ya Rasulallah? (mereka itu adalah aliran yang mengikuti) apa yang aku lakukan dan para sahabatku.(Ahli Sunnah wal Jama’ah)
Dalam firqah-firqah tersebut semuanya akan celaka kecuali golongan yang berkometmen melaksanakan segala amaliyah Nabi dan para sahabatnya. Lafadz “Mă Ana ‘alaihi wa Ashhăbĭ” disebut dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah, yang berarti penganut Sunnah Nabi Muhammad dan Jama’ah (sahabat-sahabatnya) (Sirajuddin ‘Abbas, 1983; 16) Menurut pendapat yang lain bahwa, “pada masa sahabat istilah Ahlussunnah wal Jama’ah juga digunakan untuk membedakan dengan golongan Syi’ah (Team Penulis Pendidikan Aswaja & Ke-NU-an, 2007;4). Ada juga yang mengatakan bahwa yang termasuk 72 golongan yang akan celaka adalah golongan Syi’ah terriqah (22), Khowarij (20), Mu’tazilah (20), Murji’ah (5), Najjariyah (3), Jabariyah (2), Musyabihah (1), (Sirajuddin ‘Abbas, 1983; 24) kecuali Ahlussunnah wal Jam’ah.
Adanya beberapa interpretasi hadits tersebut timbul saling klaim antara firqah-firqah Islam sebagai golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah yang berhak masuk surga. Apabila firqah-firqah yang 72 tersebut diinterpretasikan terhadap golongan non Islam (kaum kuffăr), tentunya yang layak masuk surga hanya kaum muslimin terlepas dari golongan manapun. Nampaknya hal ini akan lebih kondusif dalam peningkatan ukhuwah islamiyah. Dalam surat al-Hujarat ; 10 disebutkan “Innamal Mu`minŭna Ikhwatun fa Ashlihŭ Baina Akhawaikum… menunjukkan bahwa orang mukmin adalah sesaudara, begitu juga firman Allah dalam surat al-Anbiyă’; 92 dan al-Mu’minŭn 52 yang artinya “Sesungguhnya (agama Tauhid/ Islam) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaku”. Dan dalam hadits Shahih Bukhori; 2262 Nabi bersabda; Al-Muslimu Akhul Muslim la Yadhlimuhŭ…
Secara historis para imam Aswaja dibidang akidah telah ada sejak zaman sahabat Nabi (sebelum Mu’tazilah ada). Imam Aswaja di zaman itu adalah Ali ibn Abi Thalib yang membendung faham Khawarij tentang al-wa’d wa al-wa’id (janji dan ancaman), juga Qadariyah tentang masyi’ah (kehendak Tuhan) serta istithă’ah (daya manusia). (Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 13). Aswaja juga merespon Mu’tazilah, dan bahkan kemunculan Aswaja sebagai aliran terjadi pada masa Mu’tazilah mencapai kejayaannya (Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 16). Dalam konteks “ke-Indonesiaan” Aswaja identik dengan golongan “Islam Tradisional” atau lebih spesifik lagi golongan Nahdlatul Ulama’ (NU) yang secara konsisten telah melaksanakan amaliyahnya berdasarkan tekstualitas hadits di atas. Disamping itu NU sebagai penerus ajaran Aswaja yang telah dibawa oleh ajaran Wali Songo.
NU dalam mengusung Aswaja disamping karena sesuai dengan hadits juga secara prinsipil termotivasi dengan dua faktor; a). Adanya ancaman “Internasional”, terjadinya perebutan kekuasaan dari penguasa Mekkah Syarif Husain (yang moderat) direbut oleh Abd. Al-‘Aziz ibn Sa’ud (pengikut kaum Wahabi, pengikut sekte puritan yang paling dogmatis dalam Islam yang terkenal keras dan mengancam keyakinan “Islam Tradisional” dalam beribadah di tanah suci Mekkah. b). Adanya gerakan Serikat Islam (SI) dan Muhammadiyah yang memiliki pemahaman berbeda dengan golongan “Islam Tradisional”, dan tidak bisa membawa aspirasi “Islam Tradisional” dalam kancah Internasional (Mekkah), sehingga terbentuklah komite Hijaz yang berlanjut dengan berdirinya Nahdlatoel “Oelama di Surabaya 31 Januari 1926 ( Lihat Martin Van Bruinessen, 1994; 31-32 ).
B. Aswaja Sebagai Madzhab
Ajaran Islam adalah sempurna yang bersifat universal, tentunya membutuhkan kajian dan penafsiran yang cermat supaya menghasilkan akurasi kesimpulan hukum yang tepat. Maka Aswaja juga berpedoman terhadap pemikiran para mujtahid yang dianggap lebih mampu dalam menginterpretasi dari sumber utamanya.
“Aswaja” adalah faham yang berpegang teguh pada tiga madzhab sebagaimana dilansir oleh KH. Bisri Mustofa, yaitu; a). Bidang hukum Islam menganut salah satu empat masdzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali), b). Bidang Tauhid menganut ajaran Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, c). Bidang Tasawuf menganut Imam Abu Qosim al-Junaidi (Zamakhsyari Dhofier, 1994; 149)
C. Aswaja Sebagai Minhaj al-Fikr
Dalam pokok-pokok ajaran Islam secara universal hampir semua golongan memiliki pemahaman yang sama terhadap ayat-ayat dan hadits qath’i dan hal-hal pokok lainnya, seperti tentang ke- Esaan Allah, kewajiban shalat, puasa, zakat dan lainnya. Namun dalam hal-hal yang kurang substansial mereka berbeda dalam minhaj al-Fikrnya sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda pula, karena perbedaan penekanan otoritas akal dan intelektualitas dalam menginterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an dan teks-teks Hadits.
Golongan-golongan dalam Islam memiliki minhaj al-Fikr yang berbeda-beda. Mu’tazilah sering disebut berfikiran liberal atau rasional, Asy’ariyah memiliki minhaj al-Fikr tradisional sedangkan paham Al-Maturidi memiliki pemikiran kombinasi dari keduanya, yaitu rasional-tradisional. Dengan menekankan kekuatan akalnya, Mu’tazilah beranggapan bahwa akal manusia bebas menembus hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan, sementara Asy’ariyah mengganggap bahwa akal tidak akan sanggup kecuali ada petunjuk naql atau nash. Sedangkan menurut faham Al-Maturidi bahwa akal manusia memiliki kekuatan menembus hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga memiliki keterbatasan. Namun golongan kedua bisa digabungkan dengan yang ketiga karena sama-sama mempreoritaskan pada kekuatan naql.
Minhaj al-Fikr Aswaja dalam bidang akidah; a). menggunakan metode yang kondisional dalam membela akidah, b). bersikap tawqif, tanzih, dan tafwidh dalam masalah mutasyăbihăt, c). Tawassŭd dengan tidak me-nafi-kan sifat Allah dan tidak men-tasybih-kan-Nya dengan makhluk, d). memadukan aqal dan naql dengan mendahulukan naql apabila ada pertentangan antara keduanya. (Lihat Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 25)
Minhaj al-Fikr Aswaja dalam bidang syari’ah menjadikan Al-Qur`an Hadits, Ijma’, dan qiyas sebagai rujukan dalam pemahaman keagamaan. Dalam artian bahwa rujukan tersebut harus diambil secara berurutan.. Dalil penggunaan sumber tersebut sebagaimana firman Allah;
يا أيها الذين أمنوا أطيعوالله وأطيع الرسول واولى الأمر منكم فإن تنازعتم في شيئ فردوا إلى الله والرسول…

Artinya; Wahai orang yang beriman Taatlah kepada Allah, kepada Rasul dan pemerintah, maka apabila terjadi pertentangan dalam sesuatu maka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya…(an-Nisă’; 59)
Ayat di atas yang dimaksud athĭ’ullăha merujuk kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) athĭ’urrasŭl (Al-Hadits) wa ulil amri (ijma’) fain tanăza’tum fi syai-in fa ruddŭhu ilaLlah (Qiyas).
Aswaja sebagai Minhaj al-Fikr dalam bidang tashawuh mengikuti thariqah Imam Abu Qosim al-Junaidi dimana ia bertujuan untuk mendapatkan ridla Allah dengan menempuh jalan memerangi hawa nafsu. Perbedaan secara materiil paham tashawuf Aswaja dengan lainnya dalam tingkatan (maqămah) , sedangkan secara materi paham Aswaja tidak menunjukkan paham yang ekstrim melampaui nash agama. (lihat Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004). Dengan demikian ketiga pola pikir tersebut menjadi kental dan menjadi identitas Minhaj al-Fikr Aswaja.
D. Aswaja dan Transformasi Sosial
Aswaja dalam penerapan ajarannya sangat kondisional dengan lingkungan, sehingga terjadi akulturasi dengan kultur dan sosial masyarakat sekitarnya. Tentunya hal ini berawal dari pemahaman Aswaja terhadap Agama yang fithri, suatu agama yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki oleh manusia.(Lihat Kacung Marijan; 1992; 195). Lenturnya Aswaja dengan lingkungan masyarakat menjadikan Aswaja dinamis dan menjadi inspirasi umat karena responsif terhadap segala permasalahan umat. Tentunya hal ini tidak terlepas dari pemahaman Aswaja yang tidak ekstrim (moderat).
Aswaja selalu berada pada posisi di tengah dan mengayomi semua golongan yang menitik beratkan pada penyelesaian dialogis. Dengan banyaknya kasus aliran baru, Aswaja mengambil langkah persuatif dengan komunikasi yang santun sebagaimana disampaikan Ali Maschan Musa. “kepada para pembawa ajaran menyimpang sudah sepatutnya untuk dilakukan pendekatan secara intensif. Jangan sampai mereka dibiarkan apalagi dimusui sehingga menyebarkan ajarannya tanpa dapat dicegah. Sudah waktunya mereka diajak bicara agar kita tahu argumentasinya. (Majalah AULA; 2005; 89).
Dalam masalah kebangsaan Aswaja mengajarkan kecintaan kepada negara secara utuh dengan landasan Hubbul Wathan minal Iman, bahkan demi terciptanya negara yang kondusif oleh semua golongan. “Aswaja tidak menginginkan terbentuknya negara Islam legal-formalistik, tetapi ummat Islam wajib hukumnya untuk mendirikan suatu `negara`. Tipologi masa Rasulullah Saw., berikut Khulafaurrasyidĭn merupakan acuan utama dalam berpolitik dan bernegara. (Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 45).
Dengan demikian menjadi jelas bahwa Aswaja sangat responsif terhadap transpromasi sosial, dengan memberi solusi secara persuasif dan moderat serta memposisikan duduk sama rendah berdiri sama tinggi di tengah-tengah komunitas umat yang heterogen dalam upaya terciptanya Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafŭr.
DAFTAR PUSTAKA

Kacung Marijan, 1992, Quo Vadis NU; Setelah Kembali ke Khittah 1926, Jakarta, Erlangga
Majalah AULA No. 10 Tahun XXVII Oktober 2005
Martin Van Bruinessen, 1994, NU, Tradisi, Relsi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, yogyakarta, LkiS
Sirajuddin ‘Abbas, 1983, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama;ah, Jakarta, Pustaka Tarbiyah
Tim LP. Ma’arif Kraksaan, 2007, Pendidikan Aswaja dan Ke-NU-an kelas VI, Probolinggo, PC-LPM-NU Kraksaan
Tim Pimpinan Pusat LPM-NU, 2004, Nahdlatul Ulama Ideologi Garis Politik dan Cita-cita Pembentukan Umat, Jakarta
Zamakhsyari Dhofier, 1994, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta, LP3ES
Disampaikan dalam diskusi OSPAM BEM-IAINJ tanggal 05 September 2007


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: