”Jadilah Pemimpin ala Lebah”

6 10 2008

Dalam surat Al-Baqarah: 30 Allah berfirman ”…sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang pemimpin di muka bumi…”. Dalam firman tersebut Allah akan menjadikan pemimpin untuk mengurusi jagat alam raya. Kepemimpin menjadi keniscayaan untuk mengelola segala bentuk instansi baik secara individual maupun secara ‘ammah. Disamping Al-Qur’an menjelaskan tentang kepemimpinan, dalam hadits juga Nabi menjelaskan bahwa setiap “individu adalah sebagai pemimpin dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya” (Bukhori: 2232).
Betapa pentingnya sebuah kepemimpinan sehingga banyak disebut dalam dua sumber utama umat Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Disamping itu dalam Al-Qur’an juga banyak dicontohkan beberapa pemimpin yang sukses dan juga yang tidak sukses. Berangkat dari itu semua mengapa manusia tidak mau berpijak pada sumber utama sehingga kepemimpinan saat ini baik secara individual maupun secara ‘am sangat jauh dari nilai-nilai relegius yang mestinya kita banggakan. Tidak malukah manusia terhadap binatang Lebah (tawon) yang memiliki organisasi yang solid sehingga tertata rapi dalam kepemimpinannya?
Beberapa pendapat menyebutkan bahwa dalam satu sarang komunitas lebah mencapai 40.000-60.000 dan ada yang berpendapat antara 25.000 – 100.000 anggota (ekor). Setiap lebah (tawon) memiliki tugas masing-masing dalam sarangnya. (Hasnain Walji, Ph.D, 2001;3). Dari puluhan ribu lebah pekerja hanya diketuai oleh satu ratu yang dijaga ketat dari marabahaya oleh anggotanya yang ditugaskan untuk melindunginya. Sementara yang lainnya bekerja sesuai posnya masing-masing.
Lebah-lebah pekerja bertugas mencari sari-sari bunga (nectar) dengan menggunakan lidah panjangnya yang berbentuk seperti tabung. Lebah-lebah ini sangat selektif memilih bunga, dimana mereka mengambil nectar-nya dan bisa berkeliling hingga dua mil jauhnya hanya untuk mencari bunga yang tepat. Mereka umumnya tertarik dengan warna (lebih suka warna kuning dan biru) dan bau bunga tersebut. (Ibid;7)
Lebah (tawon) merupakan hewan yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Nabi Muhammad pernah bersabda “madu merupakan obat dari segala penyakit (Al-Hadits). Dalam surat An-Nahl: 69 Allah berfirman, “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Disamping madu sangat bermanfaat, serbuk lebah juga mengandung manfaat yang luar biasa. Menurut Dr. Lunden bahwa serbuk lebah memiliki kandungan thiamine, riboflavin, asam nikotin, pyridoxine, asam panthotenic, biotin, asam foli,dan vitamin B 12. (Lunden, 1954)
Berpijak dari uraian di atas betapa hebatnya binatang lebah yang bisa mengorganisir sebegitu rapinya dan menghasilkan yang terbaik bagi makhluk yang lainnya. Tentunya kehidupan lebah akan menjadi inspirasi tersendiri bagi umat manusia sebagai makhluk yang berakal dan untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Paling tidak ada tiga hal yang bisa dicermati dalam kehidupan lebah bagi kehidupan manusia.
Pertama, Soliditas dan manajemen keorganisasian Lebah menjadi modal utama untuk diaplikasikan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman yang sengaja dikelola oleh dunia Barat yang menginginkan kehancuran Islam. Ratu Lebah bisa memimpin puluhan ribu bahkan ratusan ribu Lebah lainnya dalam satu komunitas. Ratu Lebah membagi tugas lebah-lebah lainnya dengan tugas yang berbeda-beda baik dari aspek Hankam, pembangunan,dan ekonomi yang meliputi pengadaan bahan dan pencari sari-sari bunga. Mereka merupakan Team Work yang solid bekerja sesuai bidang-nya masing-masing. Ratu Lebah sebagai pemimpin tunggal telah menerapkan unsur-unsur manajemen dalam kepemimpinannya. Menurut As-Sayyid al-Hawary unsur-unsur manajemen meliputi “Planning (التخطيط), Organising (التتظيم), Commanding (إصدارالأوامر), Coordinating (التنسيق), Controlling (الرقابة) (ِAs-Sayyid Mahmud al-Hawary, 1976, Cet., III;542). Apabila kepemimpinan umat Islam bisa mengadopsi keorganisasian Lebah tidak heran lagi bila umat Islam akan maju dan solid memegang Ukhuwah Islamiyah. Hal ini sangat beralasan karena Lebah memiliki manajemen yang aplikatif, pekerja keras, tunduk kepada pimpinannya, amanah sesuai tugas yang diembannya.
Kedua, binatang Lebah mengkonsumsi sari-sari bunga yang terbaik walaupun ia setiap harinya harus mencari sari-sari itu sampai sejauh 2 mil. Bagaimana seorang muslim dalam mencari nafkah benar-benar mencari sari-sari bunga yang bersih (harta yang halal) walaupun harus melalui perjalanan panjang. Seorang muslim harus memilih hidup terhormat walau melarat dengan mengkonsumsi barang yang halal. Kuantitas harta benda bukan menjadi tujuan tetapi bagaimana kualitas harta benda menjadi pilihan umat Islam, karena dengan kualitas itu manusia akan hidup layak dan hiudp barakah. Dalam pepatah “Berakit-rakit kehulu berenang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” Hatta Yaumal Akhirah.
Ketiga, dengan mengkonsumsi sari-sari bunga (harta yang halal) maka menjadi keniscayaan apabila ia akan menhasilkan sesuatu yang terbaik dan akan memberi manfaat bagi orang lain, sehinga dengan mengkonsumsi barang yang halal dia akan bersikap dengan “huluqun karim” yang tercipta dari makanan yang halal, tentunya hal ini yang menjadi idaman setiap insan.sebagaimana disabdakan “paling baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain (خيرالناس أنفعهم للناس) sebagaimana madu merupakan hasil karya lebah yang sangat bermanfaat bagi makhluk lain.
Dari tiga hal ini bagaimana seorang muslim bisa ibda’ bi nafsik dengan mengambil suri tauladan dari kehidupan lebah yang rapi dalam bidang organisasinya, mengkonsumsi makanan yang terbaik (halal) dan tentunya akan memberi manfaat bukan hanya pada dirinya tetapi kepada makhluk lainnya. Sebagaimana Para ‘Alim, para Wali termasuk Wali Songo yang sampai sekarang bermanfaat bagi umat Islam baik yang berziarah ke Maqbarah-nya, Pemilik kendaraan yang disewanya, asset daerah yang ditempatinya, termasuk masyarakat sekitarnya yang berjualan mencari nafkah untuk jalan hidupnya. Semoga umat Islam akan menjadi pemimpin ala “Lebah” sehingga menjadi manusia yang bermanfaat dan menjadi Rahmatan lil ‘Alamin. Amin. (Majalah Missi SMU NJ 2008)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: