<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hefniy's Weblog</title>
	<atom:link href="http://hefniy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hefniy.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Oct 2008 08:49:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hefniy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hefniy's Weblog</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hefniy.wordpress.com/osd.xml" title="Hefniy&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hefniy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>&#8221; Pondok Pesantren Versi Full day School &#8220;</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pondok-pesantren-versi-full-day-school/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pondok-pesantren-versi-full-day-school/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengantar &#8220;Mencari ilmu wajib bagi orang Islam baik laki-laki maupun perempuan&#8221; begitulah nabi bersabda bagi umat manusia. Setiap insan yang bernyawa tanpa melihat status gendernya memiliki hak dan kewajiban untuk mencari ilmu sebagai bekal dan sarana hidup dalam ta&#8217;abbud kepada Allah SWT. Allah berfirman &#8221; tidak Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali menyembah (kepadaKu). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=28&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Pengantar<br />
&#8220;Mencari ilmu wajib bagi orang Islam baik laki-laki maupun perempuan&#8221; begitulah nabi bersabda bagi umat manusia. Setiap insan yang bernyawa tanpa melihat status gendernya memiliki hak dan kewajiban untuk mencari ilmu sebagai bekal dan sarana hidup dalam ta&#8217;abbud kepada Allah SWT. Allah berfirman &#8221; tidak Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali menyembah (kepadaKu). Kewajiban mencari ilmu bagi manusia sangat integral dalam upaya pangabdian kepada Allah SWT.<span id="more-28"></span><br />
Dalam ajaran Islam kewajiban mencari ilmu tidak terbatas hanya ketika kita masih berusia muda sebagaimana lumrah dipahami kebanyakan orang. Justru Islam mewajibkan mencari ilmu sejak dari ia lahir sampai ia tidak bernyawa. (long life education).  Nabi bersabda &#8220;Carilah ilmu dari sejak buaian sampai liang lahat.<br />
Dari beberapa paparan di atas menjadi jelaslah tentang kewajiban umat Islam secara individual untuk mencari ilmu yang tidak mengenal waktu, sehingga pemahaman kita saat ini yang menganggap bahwa kewajiban belajar itu hanya bagi usia muda dan waktunya berkisar dari jam 07 pagi sampai 13. 30 siang, tetapi dalam pendidikan Islam bahwa kewajiban belajar adalah seumur hidup, serta lama belajarnya adalah sehari semalam (24 jam) atau Full School.</p>
<p>B.	Pondok Pesantren<br />
Pondok pesantren pada hakikatnya merupakan warisan pendidikan Islam sejak Nabi Muhammad SAW., diutus sebagai Rasul. Nabi mengajar para shahabat siang dan malam baik di masjid sebagai pusat studi Islam saat itu maupun di tempat lain secara umum. Namun secara formal kelembagaan, menurut Karel Steenbrink, Clifford Geerts dan lainnya sepakat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional asli Indonesia (Amin Haedari dkk., 2004; 1-2). Pendapat lain mengatakan bahwa pesantren &#8220;adalah lembaga pendidikan yang dikembangkan secara indegenous oleh masyarakat Indonesia sangatlah tidak berlebihan, karena sebenarnya pesantren merupakan produk budaya masyarakat Indonesia&#8221; (Ainurrafiq Dawam dkk., 2005; 5), disamping itu bahwa  &#8220;pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia (Rohadi Abdul Fatah dkk., 2005; 13).<br />
Pesantren yang didefinisikan secara formal memiliki elemen-elemen yang membedakan dengan dunia pendidikan lainnya. Elemen-elemen pesantren meliputi pondok (asrama), masjid, pengajaran kitab-kitab klasik, santri, dan kyai sebagai top figur dalam dunia pesantren (lihat Zamakhsyari Dhofier, 1994; 44-55).<br />
Pada dasarnya pendidikan pondok pesantren tidak membatasi usia santri/ siswa dalam menempuh pembelajarannya. Siswa diklasifikasikan menurut kemampuan bidang keahliannya dalam bidang agama, sehingga pengetahuan umum dan usia tidak menjadi ukuran kelasnya. Namun dalam perkembangannya pondok pesantren telah mengembangkan pendidikannya, &#8220;paling banyak  hanya akan dihasilkan pengalihan titik berat dari kurikulum agama menjadi kurikulum yang lebih berorientasi pada kebutuhan masa kini (Abdurrahman Wahid, 2001; 50) yaitu berorientasi pada dunia kerja.<br />
Aktivitas pendidikan pondok pesantren biasanya dimulai sejak jam 03.30 (pagi) sampai jam 24.00 (malam). Itulah kiranya keunikan pendidikan pesantren yang menjadikan efesiensi waktu menjadi hal yang sangat berharga sehingga hampir sehari-semalam sarat dengan suasana pendidikan terutama yang berorientasi kepada aspek ubudiyah dan skill yang dikembangkannya.<br />
C.	Full Day School<br />
Dengan semakin berkembangnya kehidupan dan radiasi globalisasi, pendidikan saat ini mulai beramai-ramai meningkatkan kualitas sumber daya siswanya dengan berbagai cara yang dilakukannya. Hal ini berangkat dari banyaknya tuntutan masyarakat dan lingkungan yang mengharapkan adanya output pendidikan yang memiliki pengetahuan yang mampuni dan skill yang bisa diaktuaisasikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.<br />
Dengan adanya fenomena tersebut, lembaga pendidikan berlomba-lomba melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang melampaui dari jam yang telah ditentukan yang dikenal dengan full day school. Yakni para siswa melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang mestinya hanya dari jam 07.00 sampai 13.00, kini berubah dari jam 07.00 sampai 15.30. tentunya hal ini sangat mengembirakan, paling tidak siswa lebih lama lagi berada di lingkungan pendidikan yang kondusif ketimbang di lingkungan liar di luar sekolah.<br />
Adanya perkembangan tersebut juga terkait dengan adanya kompetisi antar lembaga pendidikan untuk menjadikan instansinya menjadi lembaga favorit yang diminati oleh masyarakat. Tentunya hal ini sangat menguntungkan kepada kedua belah pihak. Satu sisi orang tua yang sehari suntuk bekerja tidak merasa was-was terhadap anak-anaknya karena selama dia bekerja anaknya berada dalam lingkungan yag kondusif. Pada sisi yang lain lembaga pendidikan merasa terkurangi bebannya dengan masalah-masalah siswa yang sering terjadi pelanggaran asusila diluar lingkungan pendidikan, sehingga pendidik yang memiliki  tugas menjadikan siswa-siswi yang baik akan terpenuhi.<br />
Full day school sebagaimana dilaksanakan di SMP Al-Hikmah Surabaya misalnya merupakan fenomena baru yang perlu diapresiasi oleh pemerhati dan pelaksana pendidikan lainnya. SMP Al-Hikmah di setting dengan suasana yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa bosan walau harus berlama-lama berada dilingkungan pendidikan. Dalam pembelajarannya juga di setting menyenangkan, karena para pendidiknya memposisikan diri sebagai &#8220;pelayan&#8221; yang baik dan tidak membosankan. Disamping itu full day school Al-Hikmah sangat efesien dalam kegiatan belajar mengajar, dalam artian tidak ada waktu sedikitpun yang terbuang percuma.</p>
<p>D.	Pondok Pesantren dan Full Day School<br />
Lahirnya full day school yang sedang menjamur di balantika pendidikan nasional tidak terlepas dengan pengaruh pendidikan pesantren. Hal ini bisa dilihat dari sejarah pesantren berabad-abad yang lalu telah melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sehari semalam. Tidak menutup kemungkinan bahwa keberhasilan pesantren saat ini terutama yang menyangkut moralitas adalah menjadi inspirasi terbentuknya full day scholl di lembaga-lembaga pendidikan non pesantren.<br />
Pendidikan pesantren dan full day scholl merupakan dua mata rantai yang saling mengisi satu sama lainnya. Satu sisi pesantren KBM-nya sehari semalam pada sisi yang lain full day school kegiatan belajarnya sehari suntuk. Tentunya pendidikan pesantren memiliki  nilai plus karena disamping waktu KBM-nya lebih lama juga pendidikan keterampilan dan kemandirian siswa lebih ditekankan walaupun efesiensi waktu kurang mendapat perhatian penuh. Sedangkan full day school aktivitas KBM-nya hanya sehari suntuk dan nilai kemandiriannya kurang menjadi perhatian namun efesiensi waktu yang digunakan sangat optimal, sehingga jarang waktu berjalan dengan sia-sia.<br />
Dalam upaya peningkatan pendidikan pesantren secara prospektif dan ideal menjadi keniscayaan untuk meningkatkan optimalisasi dan efesiensi waktu dalam pelaksanaan KBM, serta merealisasi ajaran-ajaran agama yang secara konseptual telah dikuasi oleh masyarakat pesantren. Nampaknya selama ini dari dua hal tersebut, disamping pesantren memiliki nilai plus namun sisi lain pesantren masih sangat lemah menghargai waktu dan aplikasi dari materi yang telah diajarkan, sehingga timbul image bahwa pesantren tidak istiqamah (kurang disiplin  dan tidak aplikatif) dalam  menjalani kehidupan, padahal mestinya dua hal tersebut menjadi preoritas.<br />
Dengan demikian bahwa pelaksanaan full day school  dan pendidikan pesantren merupakan dua hal yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan berbangsa, sehingga tujuan negara menjadikan manusia seutuhnya akan terealisasi. Sedangkan dalam paradigma agama akan terciptanya insan kamil karena keberadaannya bermanfaat bagi orang lain (Khoirun nas Anfa&#8217;uhum Linnas), dan menjadi insan yang berakhlakul karimah sebagaimana tujuan Nabi diutus (Innama Bu&#8217;istu li Utammimah Makarimal Akhlaq). Hal ini karena seluruh komponen anak bangsa terkondisi oleh lingkungan pendidikan yang lebih lama sehingga pada akhirnya akan tercipta negara yang subur dan makmur yang diampuni oleh Allah SWT. (Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur). WaLLlahu A&#8217;lam.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Abdurrahman Wahid, 2001, Menggerakkan Tradisi Esai-esai Pesantren, Yogayakarta, LkiS<br />
Ainurrafiq Dawam dkk., 2005, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, tk., Lista Fariska Putra<br />
Amin Haedari dkk., 2004, Masa Depan Pesantren, Jakarta, IRD PRESS<br />
Rohadi Abdul Fatah, 2005, Rekonstruksi Pesantren Masa Depan, Jakarta Utara, Listafariska Putra<br />
Zamakhsyari Dhofier, 1994, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hiduo Kyai, Jakarta, LP3ES, Cet., VI</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=28&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pondok-pesantren-versi-full-day-school/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APLIKASI TQM DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/aplikasi-tqm-dalam-lembaga-pendidikan/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/aplikasi-tqm-dalam-lembaga-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Abstract: ´Total Quality Management is becoming increasingly used to describe a variety of differentinitiatives in organizations.It refers to the systematic managemen of an organization&#8217;s customer-supplierrelationships in such a way as to ensure sustainable, steep-slope inprovements in quality performance. TQM aims at significant and substantive quality inprovements and performance improvements, not just small, marginal gains. The [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=26&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abstract: ´Total Quality Management is becoming increasingly used to describe a variety of differentinitiatives in organizations.It refers  to the systematic managemen of an organization&#8217;s customer-supplierrelationships in such a way as to ensure sustainable, steep-slope inprovements in quality performance.<br />
TQM aims at significant and substantive quality inprovements and performance improvements, not just small, marginal gains. The idea is that TQM, if applied over the whole chain of customer supplier relationship, can lead to substantial gains in process quality and performance outcomes.<br />
Student and parent are not the only customer for the processes of schooling. But they have a great effect on the way the school functions and operates, on school performance and on its reputation.<span id="more-26"></span></p>
<p>A.	Pendahuluan<br />
Pembangunan bidang pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersa-sama dengan masyarakat dalam rangka upaya pengejawantahan salah satu cita-cita yang sangat mulia dan luhur, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktup dalam UUD &#8217;45.<br />
Dalam upaya tersebut, masyarakat juga pemerintah  bahu-membahu dalam upaya mencerdaskan seluruh komponen bangsa dengan pendidikan baik formal maupun non formal, baik melalui sekolah maupun luar sekolah, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa bisa mengenyam dan menikmati pendidikan sebagai kebutuhan primer masyarakat.<br />
Disaat yang besamaan nampaknya sangat urgen dalam upaya adanya peningkatan kualitas pendidikan untuk memberikan peningkatan mutu  secara signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia. Hal ini berlaku bagi orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan, sehingga kualitas benar-benar menjadi tujuan yang mendasar.<br />
Dengan demikian, lembaga pendidikan harus diusahakan berupa langkah-langkah adanya inovasi-inovasi  pendidikan secara profesional dengan manajemen yang handal, sehingga lembaga pendidikan tersebut bisa mencetak kader-kader yang ready for yours di tengah-tengah masyarakat, baik siap dalam intelektualnya, keterampilannya, maupun spiritualnya.<br />
Pada zaman globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi (iptek) yang semakin canggih terus menggelobal dan berdampak pada hampir smua sistem kehidupan umat manusia di muka bumi dewasa ini .<br />
Lembaga pendidikan sebagai organisasi merupakan salah satu sistem juga tidak dapat terhindar dampak dari kemajuan tersebut, dengan demikian maka disetiap lembaga pendidikan dituntut untuk dapat mengantisipasi  berbagai perubahan-perubahan tersebut.<br />
Keberadaan TQM yang digunakan dalam penerapan di dunia bisnis menuai hasil yang sangat signifikan, sehingga TQM memiliki  daya tarik tersendiri, untuk bisa diaplikasikan pada objek-objek kelembagaan atau organisasi yang lain, baik dalam bidang politik, sosial, termasuk dalam dunia pendidikan. Hal ini dalam rangka efektivitas dan hasil yang baik sebagai target yang diidam-idamkan.</p>
<p>B.	Eksistensi TQM<br />
1	Definisi TQM<br />
Dalam mendefinisikan kualitas produk, ada beberapa pakar utama dalam manajemen mutu terpadu (Total quality Manajement) yang saling berbeda pendapat, tetapi maksudnya sama. Diantara beberapa definisi tersebut adalah :<br />
1.	Menurut Crosby, kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. Standar kualitas meliputi bahan baku, proses produksi dan produksi jadi.<br />
2.	Menurut Feigenbaum, kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full costumer satisfaction). Suatu produk dikatakan berkualitas apabila dapat memberi kapuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk.<br />
3.	Menurut Garvin, kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia atau tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen .<br />
Berangkat dari beberapa definisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa hal mendasar dalam mendefinisikan kualitas adalah quality assurance, contract conformance and costumer driven .<br />
Meskipun tidak ada definisi mengenai kaulitas yang diterima secara universal, namun ketiga definisi kualitas tersebut di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut :<br />
a.	Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.<br />
b.	Kualitas mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan<br />
Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang).<br />
Beberapa ahli managemen memberi definisi TQM (Total Quality Management} sebagai berikut:<br />
a)	Menurut Edward Sallis bahwa &#8220;Total Quality Management is a philosophy and a methodologhy which assits institutions to manage change and to set their oum agendas for dealing whit the pletbora of new external pressures .&#8221;  Pengertian ini menekankan bahwa Total Quality Management merupakan suatu filsafatdan metodologi yang membantu berbgai institusi, terutama industri, dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing-masing untuk menanggapi tekanan-tekanan faktor eksternal.<br />
b)	Menurut Cafee dan Sherr menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu adalah suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas dan mengurangi pembiayaan .<br />
c)	Hradesky; TQM is a philosophy, a set of tools, and a process whose output yield customer satisfaction and continuous improvement<br />
Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas yang diinginkan dengan didasarkan pada kepuasan pelanggan, maka diperlukan manajemen yang tepat guna, yaitu Total Quality Manajement (TQM). Istilah utama yang terkait dengan kajian Total Quality Manajement (TQM) adalah continous improvement (perbaikan terus menerus) dan quality improvement (perbaikan mutu).<br />
Pada dasarnya Managemen Kualitas (Quality Management) Manajemen Kulaitas Terpadu (Total Quality Management = TQM) didefinisikan sebagai suatu cara meningkatkan performansi secara terus-menerus (continuous formanceimprovement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia .<br />
Dari beberapa definisi tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Total Quality Manajement (TQM) memfokuskan pada suatu proses atau system pencapaian tujuan organisasi. Dengan dimulai dari proses perbaikan mutu, maka TQM diharapkan dapat mengurangi peluang membuat kesalahan dalam menghasilkan produk, karena produk yang baik adalah harapan para pelanggan. Jadi rancangan produk diproses sesuai dengan prosedur dan tekhnik untuk mencapai harapan pelanggan. Penggunaan metode ilmiah dalam menganalisis data diperlukan sekali untuk menyelesaikan masalah dalam peningkatan mutu. Partisipasi semua pegawai digerakkan agar mereka memiliki motivasi dan kinerja yang tinggi dalam mencapai tujuan kepusan pelanggan.<br />
2	Sejarah TQM<br />
Landasan histories Manajemen ini sebenarnya adalah Stantistical Process Control (SPC) yang merupakan model manajemen manufaktur yang pertama kali diperkenalkan  oleh Edward Deming dan Joseph Juran sesudah perang dunia II, guna membantu bangsa Jepang untuk membangun kembali infrastruktur  negaranya. Ajaran Deming dan Juran ini berkembang terus hingga kemudian dinamakan Total Quality Management  oleh US Navy pada taahun 1985 .<br />
3	Konsep Dasar dan Prinsip-prinsipTQM<br />
a	Konsep Dasar TQM<br />
Konsep manajemen TQM lebih memusatkan perhatian  kepada uapaya  pergerakan dan pemberdayaan sumber daya manusia (human resources empowering and motivating)<br />
Kepuasan pelanggan merupakan fokus dari pelaksanaan TQM. Filosofi ini menyebabkan beberapa implikasi yang sangat besar dalam pelaksanaan sistem manajemen dibandingkan dengan sistem managemen konvensional. Kepuasan pelanggan yang dinyatakan dalam TQM merupakan kepuasan pelanggan baik pelanggan internal maupun eksternal, sehingga penentuan visi dan tujuan harus selalu melibatkan pelanggan, sehingga sebuah organisasi  yang hendak menerapkan TQM harus mendefinisikan terlebih dahulu siapa yang termasuk dalam pelanggannya yang kebutuhan dan harapannya harus selalu diidentifikasi<br />
b	Prinsip-prinsip TQM<br />
Prinsip-prinsip Total Quality Manajement (TQM) Menurut Hensler &amp; Brunell, yaitu ada empat sprinsip utama:<br />
1)	Kepuasan Pelanggan<br />
Dalam TQM, konsep mengenai kualitas pelanggan diperluas. Kualitas tidak lagi hanya bermakna kesesuaan dengan spesipikasi-spesipikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Pelanggan itu sendiri meliputi pelanggan internal dan eksternal. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan  dalam segala aspek, diantaranya harga, keamanan, dan ketepatan waktu. Oleh karena itu segala aktivitas harus dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan. Kualitas yang dihasilkan suatu perusahaan sama dengan nilai (value) yang diberikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para pelanggan. Semakin tinggi nilai yang diberikan, maka semakin besar pula kepuasan pelanggan.<br />
2)	Respek terhadap setiap orang<br />
Setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta  dan kreativitas tersendiri yang unik. Dengan demikian karyawan merupakan sumber daya organisasi yang peling bernilai. Oleh karena itu setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi  dalam tim pengambil keputusan.<br />
3)	Manajemen berdasarkan fakta<br />
Setiap keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan (feeling). Ada dua konsep pokok berkaitan dengan hal ini. (1) prioritisasi (prioritization) yakni suatu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilkukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu dengan menggunkan data maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital.(2) variasi (variation) atau variabilitas kinerja manusia. Data statistik dapat memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar dari suatu sistem organisasi. Dengan demikian menejemen dapat memberikan prediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.<br />
4)	Perbaikan berkesinambungan<br />
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses secara sistematis dalam melakukan perbaikan berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCA (plan-do-chek-act), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan, dan tindakan korektif terhadap hasil yang diperoleh.<br />
4	Karakteristik TQM<br />
Adapun karakteristik Total Quality Manajement (TQM) menurut Joseph M. Juran adalah meliputi;<br />
a	Kualitas menjadi bagian dari setiap agenda managemen atas<br />
b	Sasaran kualitas dimasukkan dalam mrencana bisnis.<br />
c	Jangkauan sasaran diturunkan  dari benchmarking: fokus adalah pada pelanggan dan pada kesesuaian kompetisi, di sana adalah sasaran untuk peningkatan kualitas tahunan.<br />
d	Sasaran disebarkan ketingkat yang mengambil tindakan.<br />
e	Pelatihan dilaksanakan pada semua tingkat.<br />
f	Pengukuran ditetapkan seluruhnya.<br />
g	Manajer atas sedar teratur meninjau kembali kemajuan dibandingkan dengan sasaran.<br />
h	Penghargaan diberikan untuk performansi terbaik.<br />
i	Sistem imbalan (reward system) diperbaiki .</p>
<p>C.	Implementasi TQM dalam  Pendidikan<br />
Ketika dikaitkan dengan konteks aplikasinya dalam konsep pendidikan, maka Total Quality Manajement dapat didefinisikan sebagai &#8220;a philoshophy improvement which can provide any educational institution with a set of practical tools for meeting and exceeding present and future coctumer need, wants and expextations&#8221;.<br />
Definisi Total Quality Management tersebut menekankan pada dua konsep utama. Pertama, sebagai suatu filosofi perbaikan terus menerus (continous improvement), dan kedua berhubungan dengan alat-alat dan tekhnik seperti &#8220;brainstorming&#8221; dan &#8220;force field analysis&#8221; (analisis kekuatan lapangan), yang digunakan untuk perbaikan kualitas dalam tindakan manajeen untuk mencapai kebutuha dan harapan pelanggan.<br />
Sedangkan Total Quality Management dalam pendidikan telah dinyatakan oleh Sallis, bahwa &#8220;Total Quality Management is about creating a quality culture where the aim of every member of staff is to delight their customer, and where the stucture of their organizations allow todo so . Hal ini mengandung pengertian bahwa Total Quality Management berhubungan dengan penciptaan budaya kualitas dengan memposisikan tujuan karyawan dan staf untuk menyenangkan konsumen sekaligus didukung oleh organisasi mereka dan melakukan sesuatu yang dikehendaki.<br />
Untuk bisa menyenangkan konsumen dalam pendidikan maka perlu perbaikan program sekolah yang mungkin dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif, dan yang paling vital adalah bagaimana mutu kualitas dalam programnya dapat mengobah kultur sekolah para pelajar dan orang tuanya menjadi tertarik dengan adanya inovasi yang ditimbulkan oleh TQM.<br />
Franklin P. Schargel menegaskan bahwa &#8220;Total Quality Educations is a process which involves focussing on meeting and exceeding customer expectations, continuous improvement, sharing responsibilities with employees, and reducing scrap and rework  bahwa mutu terpadu pendidikan dipahami sebagai suatu proses yang melibatkan pemusatan pada pencapaian kepuasan harapan pelanggan pendidikan, perbaikan terus-menerus, pembagian tanggung jawab dengan para pegawai, dan pengurangan pekerjaan  tersisa dan pengerjaan kembali.<br />
Sedangkan konsep Total Quality Management in Educations menurut A.R. Tenner &amp; Detoro, berupa: adanya tujuan TQM tentang peningkatan kualitas sistem layanan jasa pendidikan  secara berkelanjutan, terus-menerus, dan terpadu. Pencapaian tujuan tersebut dapat di wujudkan dengan menggunakan prinsip-prinsip berupa; pemfokusan pada pelanggan sekolah, peningkatan kualitas proses, dan melibatkan semua komponen lembaga .<br />
Dalam rangka melaksanakan peningkatan kualitas pendidikan perlu melaksanakan metode yang dikenal dengan metode PDCA (Plan-Do-Chek-Act). Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Sheward dan divisualisasikan oleh Deming , berupa siklus PDCA</p>
<p>Berangkat dari siklus di atas bisa diambil pengertian dengan beberapa tahapan, yaitu:<br />
1.	Plan berisi penentuan proses yang man yang perlu diperbaiki, menentukan perbaikan apa yang dipilih, dan menentukan data dan informasi yang diperlukwan  untuk perbaikan proses.<br />
2.	Do, beirisi pengumpulan data dasar tentang jalannya proses, implementasi perubahan yang dikehendaki (skala kecil), mengumpulkan data untuk mengetahui perubahan (ada perbaikan atau tidak).<br />
3.	Check, berisi langkah pemimpin untuk menafsirkan hasil implementasi (berhasil atau tidak) atau upaya pemimpin untuk memperoleh pengetahuan baru tentang proses yang berada dalam tanggung jawabnya.<br />
4.	Act, berupa pengambilan keputusan perubahan mana yang akan diimplementasikan, penyusunan prosedur baku, pelatihan ulang bagi anggota terkait, dan pemantauan secara kontineu .<br />
Untuk memperoleh mutu yang diidam-idamkan, tentunya membutuhkan perencaan yang matang, karena total Quality adalah sesuatu yang diraih dengan berkelanjutan. Untukmengejar mutu, maka kesalahan harus dieleminasi untuk mencapai keunggulan kompetitif  alumninya dan keunggulan koperatif dengan lulusan yang lain sesuai dinamika dunia kerja.<br />
Menurut Joseh C. Field, bahwa ada sepuluh langkah-langkah untuk menerakan Total Quality Management dalam pendidikan:<br />
1.	Mempelajari dan memahami Total Quality Management secara menyeluruh.<br />
2.	Memahami dan mengadopsi jiwa dan filosofi untuk perbaikan terus-menerus.<br />
3.	Menilai jaminan kualitas saat ini dan program pengendalian mutu.<br />
4.	Membangun sistem kualitas terpadu (kebijakan kualitas, rencana strategi mutu, impelmentasi rencana, rencana pelatihan, organisasi dan struktur, prosedur bagi tindakan perbaikan, pendefinisian terhadap nilai tambah tindakan).<br />
5.	Mempersiapkan orang-orang untuk perubahan, enilai budaya mutu sebagai tujuan untuk mempersiapkan perbaikan, melatih orang-orang untuk bekerja pada suatu kelompok.<br />
6.	Mempelajari teknik untuk menyerang atau mengatasi akar persoalan (penyebab) dan mengaplikasikan tindakan koreksi dengan menggunakan teknik dan alat Total Quality Management .<br />
7.	Memilih dan menetapkan pilot project untuk diaplikasikan.<br />
8.	Menetapkan prosedur tindakan perbaikan dan sadari akan keberhasilannya.<br />
9.	Menciptakan komitmen dan strategi yang benar mutu terpadu oleh pemimpin yang akan menggunakannya.<br />
10.	Memelihara jiwa mutu terpadu dalam penyelidikan dan aplikasi pengetahuan yang amat luas .<br />
Dari sepuluh langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai total quality sebagaimana disebut di atas, bagaimana TQM bisa di implementarikan terhadap lembaga pendidikan, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:<br />
1.	Peningkatan secara berkesinambungan<br />
Sebagai suatu pendekatan TQM mencari suatu bentuk permanen dalam lembaga, sehingga fokus bukan diarahkan  jangka pendek, melainkan diarahkan pada peningkatan kualitas jangka panjang. Inovasi konstan, peningkatan dan perubahan merupakan inti TQM, dan lembaga-lembaga tersebut dalam pelaksanaan peningkatan secara berlanjut.<br />
2.	Perubahan budaya<br />
Dalam melaksanakan perubahan budaya (kualitas)  dalam organisasi yang pertama-tama harus dilakukan adalah &#8220;melelehkan&#8221; status quo, kemudian menggerakkan ke arah yang baru (budaya baru untuk kualitas), dan jika mantap dipermaninkan lagi.<br />
3.	Komunikasi organisasi<br />
Adanya suatu komunikasi yang efektif , baik secara internal maupun secara eksternal, antara pelanggan dan suplier. Semua jaringan dan media komunikasi baik secara vertikal maupun horizontal perlu dioptimalkan.Hal ini sangat diperlukan untuk membentuk iklim kondusif bagi terciptanya budaya kualitas yang diharapkan.<br />
4.	Menjaga hubungan dengan pelanggan<br />
Lembaga yang unggul akan selalu menjaga kedekatan dengan pelanggan serta memiliki terterik (obsesi)  terhadap kualitas. Pemimpinan lembaga pendidikan harus mempreoritaskan dan memuaskan pelanggan. Hal ini didasarkan pada ciri utama penentu kualitaqs versi TQM bahwa pelangganlah yang akhirnya menentukan kualita.<br />
5.	Kolega sebagai pelanggan<br />
Fokus TQM terhadap pelanggan bukan sekedar memenuhi kebutuhan dari luar, akan tetapi kolega-koleganya yang ada dalam lembaga juga menrupakan pelanggan. Keseimbangan  dalam memenuhi semua pelanggan baik internal maupun eksternal harus dilakukan secara proporsional.<br />
6.	Pemasaran internal<br />
Pemasaran internal adalah alat  untuk mengkomunikasikan berbagai informasi pada staf guna meyakinkan mereka tentang apa yang terjadi di sekolah, sehingga staf memiliki kesempatan untuk membrikan ide umpan balik. Pemasaran internal adalah bentuk  ola mengkomunikasikanide. Jika pemasaran internal berjalan dengan baik, niscaya dukungan terhadap implementasi TQM dalam bidang pendidikan dapat berjalan dengan baik pula, justru melalui pemasaran internal itulah nantinya menjadi pendongkrak pada pemasaran eksternal yang lebih luas.<br />
7.	Profesionalisme dan fokus pelanggan<br />
Menunjukkan kepedulian pada standar akademik yang memadai. Mempersatukan unsur terbaik bagi profesionalisme dengan total quality merupakan modal penting untuk meraih sukses. Fokuskan keprofesionalannya kepada keinginan  dan kepuasan pelanggan dalam jangka panjang. Implikasinya, opini pelanggan terhadap sistem layanan jasa pendidikan disekolah menjadi terbentuk dengan baik.<br />
8.	Kulitas belajar<br />
Dalam menerapkan TQM harus mengantisipasi gaya belajar siswa secara serius, sehingga mendapatkan strategi yang baik untuk melayanimasing-masing invidu yang memiliki perbedaan dalam belajar. Penggunaan TQM dalam kelas  pertama harus menetapkan misi yang disepakati  antar siswa dan guru. Berdasarkan hasil kesepakatan tersebut timbul  keinginan untuk  mencapai misi tersebut. Dalam proses menentukan kesepakatan bersama  diperlukan adanya ketetapan tentang kualitas dari forum agar dapat diberikan umpan balik serta memberikan kesempatan  kepad siswa mengatur cara belajar tersendiri. Selain itu wakil dari orang tua juga diperlukan untuk mengatisipasi kesalahan dan mencari jalan keluar.<br />
9.	Mengatasi hambatan dalam memperkenalkan TQM<br />
Ada beberapa hambatan yang sering timbul dalam pelaksanaan TQM di sekolah, antara lain; (1) pemimpin membutuhkan hasil dri TQM, dipihak lain mereka enggan memberikan dukungan; (2) staf tidak memahami tujuan dan misi lembaga; (3) peran manajer madya, yang memiliki peran sangat penting karena merka bertanggung jawab atas operasional lembaga sehati-hari dan berperan juga sebagai saluran komunikasi yang utama. Manajer madya tidak boleh bertindak sebagai inovator kecuali manajer seniaor sudah mengemukakan misinya dimasa yang akan datang. Manajer senior harus konsisten dalam menasehati dan mengkomunikasikan  pesan-pesan untuk meningkatkan kualitas.<br />
Bagaimanapun baiknya konsep TQM, memang tidak menjamin sepenuhnya bahwa TQM bisa berhasil diimplimentasikan pada organisasi, beberapa contoh yang gagal mengimplementasikannya antara lain General Motor ,Perum Jasa Tirta Malang dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa konsep TQM masih perlu revitalisasi pengembangan inovasi-inovasi konsep sehingga benar-benar lebih baik, disamping itu kiranya perlu adanya sikap ketelatenan dan kesabaran serta proaktif semua pihak untuk selalu ditingkatkan serta diupayakan perbaikan secara terus menerus untuk optimalisasi keberhasilan.  </p>
<p>D.	Penutup<br />
Manajemen merupakan keniscayaan bagi kehidupan umat manusia. Sebenarnya tanpa disengaja manusia talah melaksanakan manajemen baik secara personal maupun secara kolektif (kelompok), baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Namun efektivitas manajemen akan tercapai bila mengetahui ilmu manajemen dan bisa biaplikasikan dalam keseharian.<br />
Walaupun lembaga pendidikan telah melaksanakan manajemen dari sejak keberadaannya, namun lembaga pendidikan perlu meningkatkan inovasi-inovasi manajemen dalam upaya semakin meningkatkan kualitasnya. Diilhami keberhasilan konsep-konsep TQM yang dilahirkan untuk peningkatan mutu produksi di pabrik, nampaknya lembaga pendidikan sangat perlu untuk menerapkan konsep TQM dalam dunia pendidikan.<br />
Apabila dunia industri meningkatkan mutu produknya berupa benda mati, lain halnya dengan lembaga pendidikan, dimana yang diproduksi berupa benda hidup (bergerak), sehingga nampaknya sangat urgen bila konsep TQM yang diaplikasikan kepada lembaga pendidikan untuk di kembangkan kembali, karena bagaimanapun produk pabrik yang pasif tidak sepenuhnya bisa disinkronisasi dengan produk pendidikan yang aktif.<br />
Disamping itu barometer terhadap kepuasan pelanggan dalam dunia pendidikan masih menimbulkan penilaian yang agak abstrak, hampir sama juga dengan kurang jelasnya pengukuran kualitas output yang dihasilkan oleh lembaga.<br />
Masyarakat pedalaman akan merasa puas terhadap prosesi kegiatan belajar mengajar, bahkan terhadap output dari lembaga tersebut karena hanya anaknya bisa sekolah, dana yang relatif murah, dan karena anaknya bisa baca dan menulis. Lain lagi dengan di perkotaan, tentunya akan lain lagi kepuasan pelanggan terhadap pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran-ukuran tersebut sangat kondisional dan tidak ada ukuran yang relatif sama dengan ukuran kualitas barang yang tidak bergerak.<br />
Namun bagaimanapun konsep-konsep TQM saat ini masih sangat relevan untuk peningkatan kualitas lembaga pendidikan, walaupun kita masih perlu melengkapi konsep tersebut dari segala kekurangan-kekurangannya.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>B. Creech, 1996, Lima pilar (Manajemen Mutu Terpadu) TQM: Cara membuat Total Quality Management Bekerja bagi anda,  Alih bahasa: Sindoro. A., Jakarta, Binarupa Aksara</p>
<p>B. Ibrahim, 2000, TQM: Panduan untuk menghadapi persaingan global, Jakarta, Djambatan</p>
<p>Burhanuddin, 2002, Manajemen Pendidikan, Malang, UNM/UM </p>
<p>Field, Joseph C., 1993, Total Quality Management, Wisconsin, ASQC Quality Press</p>
<p>Franklin P. Schargel, 1994, Transforming Education Through Total Quallity Management: A Practitioner&#8221;s Guide. New York, EYE on Education</p>
<p>Gaspersz, Vincent, 2005, Total Quality Management, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama </p>
<p>Hardjosoedarmo, Soewarso, 1996, Total Quality Management, Yogjakarta, Andi Offset </p>
<p>J. Hradesky, 1995, Total Quality Management, New York, McGraw-Hill, Inc </p>
<p>Prabowo, Sugeng Sugeng Listiyo, Manajemen Mutu Terpadu: Alternatif Untuk Mengembangkan Perguruan Tinggi, dalam EL-JADID: Jurnal Ilmiah Pengetahuan Islam, Vol. 2 No. 4, Januari 2005</p>
<p>Sallis, Edward, 1993, Total Quality Management in Education, London, Kogan Page Educational Management Series</p>
<p>Soedarmo, Harjo, 1997, Dasar-dasar Total Quality Management, Yogyakarta, Andi</p>
<p>Tjiptono, Fandy, &amp; Diana, Anastasia, 2003, Total Quality Manajemen, yogyakarta, Andi</p>
<p>Tunner &amp; Detoro, 1992: Total Quality Manajement : Tree Steeps to Continuous Improvement, Massachuset, Addison-Weley Publishing Company</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=26&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/aplikasi-tqm-dalam-lembaga-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUBUNGAN LPI DENGAN MAYARAKAT</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/hubungan-lpi-dengan-mayarakat/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/hubungan-lpi-dengan-mayarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak : Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dengan masyarakat merupakan dua komponen yang integral saat awal pembentukannya. Tentunya integralitas keduanya tidak boleh pupus walau adanya perpuran waktu. Masyarakat sebagai mitra LPI memiliki tanggungjawab yang sama dalam menjalankan dan mengembangkan pendidikan. Oleh sebab itu adanya pendidikan karena adanya masyarakat dan masyarakat membutuhkan pendidikan, sehingga sinergitas keduanya menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=24&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abstrak : Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dengan masyarakat merupakan dua komponen yang integral saat awal pembentukannya. Tentunya integralitas keduanya tidak boleh pupus walau adanya perpuran waktu. Masyarakat sebagai mitra LPI memiliki tanggungjawab yang sama dalam menjalankan dan mengembangkan pendidikan. Oleh sebab itu adanya pendidikan karena adanya masyarakat dan masyarakat membutuhkan pendidikan, sehingga sinergitas keduanya menjadi keniscayaan. Hubungan pendidikan dengan masyarakat perlu ditingkatkan pada ranah yang lebih baik dan dinamis, sehingga tujuan mulia pendidikan akan terealisir sesuai dengan harapan.<span id="more-24"></span></p>
<p>A.	Latar Belakang<br />
Berdirinya Lembapa Pendidikan Islam (LPI) pada awalnya merupakan  prakarsa dan swadaya murni masyarakat sekitarnya. LPI (madrasah) merupakan lembaga yang membumi di tengah-tengah kehidupan masyarakat, hal ini tidak terlepas dari awal berdirinya madrasah yang dimotori oleh masyarakat, dan disisi lain madrasah merupakan lembaga yang sesuai dengan kehidupan masyarakat yang relegius. Antosiasme masyarakat dalam mendirikan madrasah sebagai bukti kepedulian masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam.<br />
Dalam perkembangannya bahwa setelah LPI berdiri tidak jarang ditemukan problem klasik yang sering muncul, sehingga LPI menjadi pilihan lembaga nomor 2 (dua). Ketika akan mendirikan madrasah masyarakat sangat antosias untuk mewujudkan impian yang mulia itu, namun setelah LPI berdiri masyarakat seakan lepas tangan akan keberlangsungannya. tidak jarang ditemukan adanya hubungan yang semu antara lembaga dan masyarakat, sehinga tidak sinergis antara keduanya. Tentunya yang jelas sikap proaktif dari keduanya mutlak perlu untuk ditumbuh-kembangkan.<br />
Keberadaan lembaga-lembaga seperti Furom Masyarakat Peduli Madrasah (FMPM) atau sejenisnya, yang relatif masih sedikit perlu lebih ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Dalam hal ini pihak madrasah harus secara intensif bermitra dengan masyarakat dan organisasi-organisasi yang peduli terhadap pendidikan..<br />
Harus disadari betul oleh pengelola madrasah, bahwa keterbukaan dan hubungan yang bersifat timbal balik antara masyarakat dengan madrasah ini secara betahap dan kontineu akan meningkatkan ketahanan hidup (survival) madrasah. Sedangkan masyarakat akan merasa puas dan tumbuh rasa memiliki yang semakin besar apabila selalu dilibatkannya dalam pengembangan lembaga..<br />
B.	Lembaga Pendidikan Islam (LPI)<br />
Membicarakan wacana kelembagaan pendidikan Islam di Nusantara merupakan hal yang menarik, hal ini setidaknya karena empat faktor, 1) lembaga pendidikan merupakan sarana yang strategis bagi proses terjadinya transformasi nilai dan budaya pada suatu komunitas sosial, 2) pelacakan eksistensi lembaga pendidikan Islam di Minangkabau, 3) kemunculan lembaga pendidikan Islam dalam sebuah komunitas yang dinamis, 4) kehadiran LPI telah memberikan spektrum tersendiri dalam membuka wawasan dan dinamika intelektual umat Islam.<br />
LPI di Indonesia tidak terlepas dengan masuknya Islam ke Indonesia. Masuknya Islam ke Indonesia ada dua versi, ada yang berpendapat pada abad 13 dan ada juga  yang berpendapat sejak abad ke 7 (tujuh). Hal ini sebagaimana pendapat . H.Agus Salim, Zainal Arifin Abbas, Hamka, S. Alwi bin Tahir al-Haddad (mufti Johor), HM. Zainuddin&amp;Juned Pariduri. .<br />
Pengertian dari arti istilah madrasah sebagaimana terdapat di dalam peraturan pemerintah dan keputusan menteri agama serta menteri dalam negeri yang mengatur tentang madrasah, yaitu bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang di dalam kurikulumnya memuat materi pelajaran agama dan pelajaran umum, dimana mata pelajaran agama lebih banyak ketimbang umum.<br />
Dalam RUU Sisdiknas 2003 bahwa semua jenjang pendidikan baik dasar, menengah adalah sama, baik dari segi kurikulum maupun lainnya sehingga definisi lembaga pendidikan Islam semakin berkembang, tidak spesifik kepada madrasah saja.<br />
Menurut Djumran Syah bahwa lembaga pendidikan Islam adalah lembaga yang mempunyai karakteristik islami berupa; pengelola, tujuan, kurikulum, sarana ibadah, tenaga edukasi dan suasana pergaulan, baik madrasah maupun sekolah umum. , sehingga tidak cuma lembaga yang berlebel madrasah saja yang mendapat predikat LPI, tetapi semua lembaga secara umum yang memenuhi kreteria LPI.<br />
C.	Hubungan Masyarakat (HUMAS)<br />
Istilah humas (public Relation) mulai digunakan oleh Thomas Jefferson yang disampaikan dalam kongres ke-X tahun 1807. Pada tahun 1882  Public Relation juga diucapkan pada hari sarjana di Yale Law School. Sedangkan Edward L Bernays seorang ahli dalam bidang public relation mendapat julukan “the father of public relation” karena ia telah berjasa mempopulerkan istilah itu dengan bukunya crystallizing public opinion yang diterbitkan pada tahun 1923.    Sebagian orang mengatakan bahwa Ivy Lee sebagai Bapak public relation, karena tahun 1921 ia secara regular menerbitkan bulletin “Public Relation” di New York.<br />
Definisi Public relation menurut Howard Bonham, Vice Chairman, American National Red Cross menyatakan: “ Public Relation is the art of bringing about better public understanding which breeds greater public confidence for any individual or organization”  ), (Public Relation adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian public yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan public terhadap seseorang atau suatu organisasi/ badan).<br />
Menurut Leslei, public relation dalam sekolah adalah,”School Community relation is a process of communication between the school and the community for the purpose of incresing citizen understanding of educational needs and practices and encouraging intelligent citizen in interest and  cooperation in the work of improving the school. atau Educational publics relation is management’s systematic, continous  two-way, honest communication between educational organization and its publics”.<br />
(Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat, dengan tujuan meningkatkan pengertian aggota masyarakat tentang kebutuhan dan praktek pendidikan serta mendorong minat dan kerja sama para anggota masyarakat dalam rangka untuk memperbaiki masyrakat. Atau sistem manajemen yang berlangsung antara dua jalur, dengan komunikasi jujur antara organisasi pendidikan dan masyarakat)..<br />
Pada dasarnya public relation berfungsi untuk menghubungkan masyarakat yang berkepentingan didalam suatu instansi atau lembaga. Hubungan antara public dengan suatu badan atau lembaga ada yang langsung (direct) dan ada yang tidak langsung (indirect).<br />
Dalam public relation, komunikasi merupakan keniscayaan dalam menghidupkan suatu badan atau lembaga. Komunikasi yang efektif menurut Cutlip dan Center adalah harus dilaksanakan dengan melalui empat tahap, yaitu; 1) fact-finding, yaitu mengumpulkan data-data/ fakta-fakta sebelum melakukan tindakan, 2) Planning, yaitu; dari fakta-fakta tersebut membuat rencana apa yang akan dilakukan, 3) communicating, yaitu; rencana itu disusun dengan baik sebagai hasil pemikiran untuk disampaikan, 4) evaluation, yaitu; mengevaluasi aplikasi dari rencana untuk dinilai tercapai tidaknya.<br />
Untuk mencapai tujuan, hendaknya menciptakan kerja sama  berdasarkan hubungan yang harmonis dengan dua pihak, 1) internal public relation, yaitu, mencapai karyawan yang mempunyai kegairahan kerja, yaitu dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan para pegawai baik ditinjau dari segi ekonomi, sosial, maupun psykologis 2) external public relation, yaitu mengeratkan hubungan dengan masyarakat hingga terbentuklah opini yang baik terhadap badan atau lembaga tersebut.<br />
D.	Hubungan LPI dengan Masyarakat<br />
1.	Program-program LPI dengan Humas<br />
LPI sebagaimana juga lembaga umum merupakan suatu keniscayaan untuk selalu mengadakan hubungan dengan masyarakat sekitarnya.   Menurut Elsbree ada tiga faktor yang menyebabkan perlunya hubungan antar sekolah dan masyarakat, yaitu; 1) perubahan sifat, tujuan dan metode mengajar di sekolah, 2) masyarakat yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di sekolah, dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah 3) perkembangan idea demokrasi di dalam masyarakat terhadap pendidikan.<br />
LPI hendaknya membuat program yang pada ujung-ujungnya bisa memberi hikmah yang konkrit kepada maysarakat. Apabila sudah melaksanakan program, maka secara kontineu bagian interpretation ini mengkomunikasikan dan mempublikasikan proses pelaksanaan program tersebut kepada orang tua dan masyarakat, serta mengajak orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dan membantu pelaksanaan program tersebut dalam rangka memajukan sekolah.<br />
Implimentasi dan pelaksanaan program tersebut adalah sebagai berikut; 1) Program relevan dengan kebutuhan masyarakat, 2) “output sekolah” akan ikut “kiprah” dalam usaha meningkatkan kehidupan dan penghidupan masyarakat (pembangunan daerahnya), 3) masyarakat akan merasa memiliki program pendidikan dan pengajaran tersebut, 4) sekolah merupakan pusat kebudayaan dan ketahanan pendidikan terpadu dengan masyarakat beserta orang tua.<br />
Jadi dengan adanya program hubungan antara sekolah dengan masyarakat akan memiliki pengaruh pada fungsi lulusan sekolah didalam masyarakat.<br />
2	Pengelolaan hubungan LPI dengan masyarakat<br />
Untuk memajukan LPI tentunya perlu adanya usaha-usaha pengelolaan manajemen (diantaranya humas) dan langkah-langkah strategis sebagaimana dilakukan oleh lembaga umum yang maju. Dalam pengelolaan program hubungan sekolah dan masyarakat menurut Leslie ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu; 1) Prosedur pengembangan program, dimana program hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah, 2) Bentuk Organisasi, misalnya Dewan Pendidikan berdasarkan undang-undang pendidikan No. 2 tahun 1989, 3) tanggung jawab anggota staf, 4)penataran bagi anggota staf, 5)Anggaran biaya, 6) penilaian terhadap program.<br />
Pengelolaan tentang hubungan antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat perlu ditingkatkan, karena timbulnya kenakalan-kenakalan remaja sekolah akibat antara lain karena tidak samanya penyikapan antara sekolah dan orang tua terhadap pendidikan anak dan pengaruh globalisasi yang tidak bisa disikapi dengan baik.<br />
Setelah mengoperasionalkan pengelolaan program yang berhubungan antara lembaga dengan masyarakat, tentunya evaluasi merupakan hal yang harus dilakukan untuk mengukur, menilai dan muhasabah dari program yang dilakukan dalam upaya meningkat program-program berikutnya.<br />
Secara garis besar jenis-jenis program yang akan di evaluasi meliputi; 1)evaluasi perencanaan  program pendidikan, 2). Evaluasi monitoring, 3). evaluasi terhadap impact  product  atau akibat dari program, 4). evaluasi efisiensi dan keefektifan program, 5). evaluasi program pendidikan secara komprehensif mencakup monitoring serta pengkajian terhadap impact maupun terhadap efisiensi program , yang dilakukan secara developmental .<br />
Dari jenis-jenis evaluasi tersebut di atas, maka hendaknya antara lembaga pendidikan dan masyarakat untuk mengoptimalkan evaluasi baik itu berupa inisiatif dari masyarkat, lebih-lebih dari lembaga pendidikan, sehingga ada balance antara lembaga pendidikan dengan masyarakat dalam meningkatkan dunia pendidikan.<br />
Adapun langkah-langkah untuk semakin meningkatkan hubungan yang erat antara LPI dengan masyarakat diantaranya dengan mengadakan organisasi masyarakat (Dewan Komite Sekolah, dll.) dengan program-program berupa rapat bersama/ evaluasi secara rutin, mengadakan perkumpulan keagamaan seperti yasinan, memperingati HBI dan kegiatan lain yang bisa mendukung terjalinnya hubungan baik antara lembaga denga masyarakat.<br />
E.	Penutup<br />
Akhir-akhir ini LPI telah mendapat respon yang positif dari masyarakat, setelah bertahun-tahun berada dalam keterpurukan dalam dunia pendidikan. Hal hal ini bisa dilihat adanya indikasi mayarakat lebih cenderung untuk menyekolahkan putra-putrinya kepada LPI ketimbang lembaga umum.<br />
Kemajuan LPI “madrasah” tidak terlepas dari inovasi-inovasi pendidikan oleh DEPAG dan lembaga swadaya dengan mengembangkan manajemen yang bisa memobilisir  lembaga pendidikan. Lemahnya manajemen di madrasah mulai mendapat perhatian serius oleh masing-masing madrasah untuk semakin ditingkatkan diantaranya dengan menggunakan Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) sehingga terbangun peran aktif masyarakat, meningkatnya profesionalisme, kreatif, inisiatif dan lain sebagainya.<br />
Dengan demikian hubungan LPI secara khusus atau lembaga pendidikan secara umum  sangat penting artinya sehingga timbul kerja sama yang baik antara lembaga dengan masyarakat untuk mengembangkan lembaga pendidikan menjadi lembaga lembaga yang maju. Sinergitas antara LPI dengan masyarakat  menjadi keniscayaan untuk tumbuhkan kembali sebagaimana ketika LPI baru didirikan oleh masyarakat.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Abuddin Nata (Ed.), 2001, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Grasindo<br />
Djumransyah, disampaiakan pada mata kuliah HUMAS tanggal 30-05-05 Pascasarjana Konsentrasi MPI  UIN Malang.<br />
Elsbree, W.W., &amp; Mc. Nally, H. 1959, ElementarySchool Administration and Suppervisor, New York, American Book Company<br />
Glenn Griswold, Deni Griswold, 1948, Your Public Relations, New York, Furk &amp; Wagnalls Company:<br />
Ismail SM dkk (ed.), 2002, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar<br />
James B, Orrick, 1967, An Introduction to Public Relation, An Expanded Syllabus, School of Journalism and Communication, University of Ankara<br />
Leslie, W.Kidered. 1967, School Public Relations, Englewood Cliffs, NJ.: Prentice Hall, Inc<br />
……………………, 1975, School  Public Relations. En-gliwood  Cliffs, NJ,Prentice Hall,<br />
Made Pidarta, 1988,  Manajemn Pendidikan Indonesia, Jakarta, Bina Aksara<br />
Muhaimin, 2003, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Surabaya, PSAPM<br />
Maksum, 1999, Madrasah, Sejarah, dan Perkembangannya, Jakarta, Logos<br />
Oemi Abdurrachman, 1979, Dasar-dasar Public Relations, Bandung,  Alumni<br />
Samsul Nizar, Ed. Abuddin Nata, 2001, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Grasindo<br />
Scott M. Cutlip/ Allen H. Center, 1958, Effective Public Relations, Prentice Hall Inc, Englewood Cliffs, NY, ed </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=24&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/hubungan-lpi-dengan-mayarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidik Dalam Perspektif Al-Qur-an</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pendidik-dalam-perspektif-al-qur-an/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pendidik-dalam-perspektif-al-qur-an/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak: Pendidik menjadi icon penting dalam dunia pendidikan, sehingga keberhasilan lembaga pendidikan dalam mencetak anak didiknya tidak terlepas dari eksistensi pendidik yang memiliki sifat-sifat pendidik yang baik disamping kemampuan skillnya. Al-Qur&#8217;an banyak berbicara tentang pendidik yang siap mengantarkan pada ranah kehidupan yang lebih baik. Pendidik sebagai ujung tombak yang bisa merobah manusia baik dari aspek [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=22&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abstrak: Pendidik menjadi icon penting dalam dunia pendidikan, sehingga keberhasilan lembaga pendidikan dalam mencetak anak didiknya tidak terlepas dari eksistensi pendidik yang memiliki sifat-sifat pendidik yang baik disamping kemampuan skillnya. Al-Qur&#8217;an banyak berbicara tentang pendidik yang siap mengantarkan pada ranah kehidupan yang lebih baik. Pendidik sebagai ujung tombak yang bisa merobah manusia baik dari aspek budaya, sosial, dan agama.<br />
Kata Kunci: Pendidik, Perspektif, Al-Qur&#8217;an<span id="more-22"></span><br />
A.	Pendahuluan<br />
Tuntunan Islam sangat menekankan akan urgensi pendidikan bagi umat manusia. Pada hakikatnya pendidikan sebagai jalan satu-satunya menuju kehidupan yang tentram dan damai baik di dunia juga di akhirat. Bagaimana manusia akan tentram di dunia apabila ia tidak mengetahui ilmu-ilmu dunia ? begitu juga untuk memperoleh kedamaian di akhirat harus mengetahui jalan menuju kedamaian akhirat. Untuk mengetahui kedua jalan tersebut harus menggunakan kendaraan ilmu, berupa pendidikan.<br />
Pendidikan merupakan sarana potensial menuju keharibaan Tuhan. Keberhasilan sebuah pendidikan tidak akan terlepas oleh profesionalisme pendidik yang menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya. Bila dalam Al-Qur&#8217;an Allah menjadi subyek sebagai pendidik alam semesta (رب العالمين) tentunya hal itu sebagai gambaran bagi manusia untuk bisa mengaplikasikan ajaran langit dengan meggunakan bahasa yang membumi. Dengan demikian diharapkan bagaimana Allah sebagai pendidik &#8220;menjadi integral dengan manusia sebagai pendidik&#8221;, sehingga pendidikan yang ideal menurut Al-Qur&#8217;an menjadi realistis di muka bumi ini. Keberhasilan Allah sebagai pendidik alam raya menjadi manefestasi manusia untuk meraih kesuksesan &#8220;yang serupa&#8221;.<br />
Namun realisasinya dengan semakin &#8220;majunya perkembangan zaman&#8221;, menjadikan ajaran Al-Qur&#8217;an semakin termarjinalkan. Hal ini bisa diresapi oleh setiap individu bagaimana eksistensi pendidikan belakangan ini yang tidak memiliki arah secara hakiki. Pendidikan yang mestinya menjadi kewajiban individu terhadap penciptanya, kini hal tersebut sudah tidak memiliki atsar lagi. Kini pendidikan sudah tidak mengarah kepada ranah yang hakiki, justeru mengarah pada prestise, tidak mementingkan moral, dan mempreoritaskan pada hal yang berbau materi.<br />
Imam Suprayogo menyatakan bahwa &#8220;cukup banyak bukti, bahwa seseorang yang memiliki kekayaan ilmu dan keterampilan, jika tidak dilengkapi dengan kekayaan akhlak atau moral, maka justru ilmu dan keterampilan yang disandang akan melahirkan sikap-sikap individualistik dan materialistik. Dua sifat ini akan menampakkan perilaku yang kurang terpuji seperti serakah, tidak mementingkan orang lain  dan sifat-sifat jelek lainnya.<br />
Adanya ranah pendidikan yang semakin melenceng jauh dari kehakikiannya, tidak terlepas dari seorang pendidik yang mestinya menjadi suri teladan bagi peserta didiknya justru belakangan ini banyak guru yang membiarkan bahkan membentuk anak didik menjauh dari ajaran Al-Qur&#8217;an sehingga dekadensi moral tak bisa dielakkan lagi. Bukankah pepatah mengatakan, guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari?<br />
B.	Pendidikan dalam Al-Qur&#8217;an<br />
Kelebihan manusia dari makhluk lainnya adalah terletak pada kemampuan akal pikirannya. Menurut Ibnu Khaldun manusia adalah makhluk yang berfikir. Oleh karena itu ia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Sifat-sifat seperti ini tidak dimiliki makhluk lainya. Lewat kemampuan berfikirnya itu manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses yang seperti ini melahirkan peradaban.  Untuk mengantarkan pada suatu pemikiran yang dinamis dan prospektif Al-Qur&#8217;an mengajarkan umat manusia untuk selalu membaca (belajar). Konteks membaca baik secara tekstual maupun membaca secara kontekstual. Sebenarnya membaca dan menulis menjadi simbol pertama dan utama dalam ajaran Al-Qur;an sebagaimana firman Allah yang pertama dalam surat Al-Alaq;<br />
اقراء باسم ربك الذي خلق. خلق الإنسان من علق. إقراء وربك الأكرم. الذي علم بالقلم .علم الانسان مالم يعلم<br />
&#8220;Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu yang menciptakan.   Dia tela menciptakan  manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yg pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.&#8221; (Q.S. Al-‘Alaq/ 96: 1-5 )</p>
<p> Dari firman di atas betapa Allah SWT. sangat apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Dia memberi isyarat pentingnya manusia untuk belajar membaca dan menulis dan menganalisa dari segala yang ada ini dengan diberi potensi akal sebagai pisau pengasahnya. Dengan membaca dan menulis, manusia akan eksis menjadi khalifah di bumi sebagaimana yang dijanjikan-Nya.<br />
Dengan diawali membaca, menulis dan selanjutnya mengetahui jagat raya dan dibalik semuanya, kemudian manusia beriman, disinilah baru nampak kedudukan manusia yang tinggi, sebagaimana Allah SWT. berfirman:<br />
…يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتواالعلم درجات، والله بماتعملون خبير.<br />
&#8220;…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antarmu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuanbeberapa derajat. Dan Alla Maha mengatahui  apa yang kam kerjakan&#8221;.(Q.S. Al-Mujaadilah/ 58: 11).</p>
<p>Dengan demikian betapa pentingnya pendidikan dalam Al-Qur&#8217;an. Pendidikan dengan melalui media membaca, menulis dan menganalisa segala relaitas yang terbesit dalam benak manusia menjadi keniscayaan bagi manusia yg  memiliki potensi sehingga lebih sempurna ketimbang makhluk Tuhan lainnya. Tentunya apabila potensi tersebut digunakan secara dinamis dan benar akan mengantarkan manusia pada posisi hasanah di dunia dan hasanah di akhirat.<br />
C.	Pendidik dalam Islam<br />
1.	pengertian Pendidik<br />
Pendidik menurut W.J.S. Poerwadarminta adalah orang yang mendidik.  Definisi ini memberi pengertian, bahwa pendidik adalah orang yang melakukan aktivitas dalam bidang mendidik. Dalam bahasa Inggris disebut dengan Teacher  yang diartikan guru atau pengajar  dan Tutor yang berarti guru privat, atau guru yang mengajar dirumah.   Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata Ustadz, Mudarris, Mu’allim dan Mu’addib. Kata Ustadz jamaknya Asatidz yang berarti Teacher (guru), professor (gelar akademik), jenjang dibidang intektual, pelatif, penulis, dan penyair.  Adapun kata Mudarris berarti Teacher (guru), Instructor (pelatih) dan Lecturer (dosen).  Selanjutnya kata Mu’allim yang juga berarti Teacher (guru), Instructor (pelatih), Trainer (pemandu).  Selanjutnya kata Mu’addib berarti Educator (pendidik) atau teacher in Koranic School (guru dalam lembaga pendidikan Al-Qur-an).<br />
Dengan demikian, istilah-istilah di atas mengindikasikan dalam arti pendidik, karena seluruh kata tersebut mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain. Secara umum, pendidik adalah orang yang memiliki tanggungjawab untuk mendidik.  Apabila dililihat secara khusus, pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peseta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.<br />
Menurut Suryosubrata, pendidik adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. di bumi, dan mampu sebagai makhluk soial, dan sebagai makhluk individu yang mandiri.<br />
Menurut Al-Ghazali, pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mesucikan hati sehingga menajdi dekat dengan Khaliknya.<br />
Dari beberapa istilah tersebut nampaknya istilah pendidik lebih refresentatif  bila dibandingkan dengan istilah guru, pengajar, tutor dan istilah lainnya. Pendidik mengandung pengertian yang sangat luas dalam cakupannya. Seorang pendidik tidak cukup hanya sekedar menyampaikan materi kepada anak didiknya, namun lebih jauh lagi dia harus membimbing anak didiknya sampai ke akar-akarnya. Disamping pendidik menyampaikan ilmu pegetahuan juga menjadikan peserta didik mengamalkan pengetahuan tersebut.<br />
Seorang pendidik akan selalu respek terhadap gejala dan tingkah laku negatif sekecil apapun dan ia akan selalu memonitor anak didiknya tanpa mengenal batas waktu. Karena tugas pendidik disamping mengajarkan materi dan yang lebih penting lagi ialah mengantarkan anak didik lepas dari perilaku negatif sekecil apapun. Sehingga pembinaan pendidik terhadap anak didiknya mencakup luas tanpa batas materi yang disampaikan, ia akan selalu respek terhadap kondisi yang harus mengantarkan pada suasana pendidikan.  Sementara pengajar apabila dilihat dari akar katanya hanya sekedar menyampaikan dan mengajarkan  materi kepada anak didiknya, sehingga purnalah tgas dia setelah ia mengajarkannya.<br />
2.	Dasar-dasar Pendidik dalam Al-Qur-an<br />
Pada hakikatnya yang menjadi pendidik paling utama adalah Allah SWT.  Sebagai guru Allah telah memberi segala gambaran yang baik dan yang buruk sebagai sarana ikhtiar umat manusia menjadi baik dan bahagia hidup di dunia dan akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut Allah mengutus nabi-nabi yang patuh dan tunduk kepada kehendak-Nya untuk menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia.<br />
Apabila melihat petunjuk yang ada di dalam Al-Qur-an, maka pendidik bisa diklasifikasikan menjadi empat:<br />
a.	Allah SWT.<br />
Allah sebagai pendidik utama yang menyampaikan  kepada para Nabi berupa berita gembira  untuk disosialisasikan kepada umat manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya:<br />
وعلّم ادم الاسماء كلها ثم عرضهم على الملئكة فقال انبؤني باسماء هؤلاء ان كنتم صديقين.<br />
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar-benar orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah/2: 31)</p>
<p>Ayat di atas dengan jelas bahwa Allah mengajar nabi Adam, kemudian di ayat lain Allah mendidik manusia dengan perantaraan tulis baca:<br />
علّم الانسان مالم يعلم.<br />
“Dia megajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuina. (Q.S. al-‘Alaq/ 96: 5).</p>
<p>Allah mendidik manusia sesuatu yang tidak manusia ketahui. Pendidikan Allah menyangkut segala kebutuhan alam semesta ini. Allah sebagai pendidik alam semesta dengan penuh kasih sayang sebagimana firman-Nya dalam surat al-Fatihah; (&#8230;رب العالمين. الرحمن الرحيم) Allah sebagai pendidik telah mengajar nabi Muhammad berupa turunnya ayat-ayat Al-Qur-an untuk di sampaikan kepada umatnya. Seperti Allah mengajari/ menganjurkan nabi berdakwah (Q.S. Al-Muddatstsir/ 74) serta ayat-ayat lain yang pada intinya sebagai imtitsal yang disampaikan pada Nabi untuk disebarkan pada umatnya.<br />
b.	Rasulullah SAW.<br />
Nabi Muhammad SAW. Sebagai penerima wahyu Al-Qur-an yang diajari segala aspek kehidupan oleh Allah SWT (melalui malaikat jibril) untuk disosialisasikan kepada umat manusia. Hal ini pada intinya menegaskan bahwa kedudukan Nabi sebagai pendidik atau guru yang langsung ditunjuk oleh Allah SWT., dimana tingkah lakunya sebagai suri teladan bagi umatnya. Allah berfirman;<br />
لقدكان لكم في رسول لله اسوة حسنة لمن كان يرجواالله واليوم الاخروذكراالله كثيرا.<br />
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab/33: 15).</p>
<p>Dengan demikian segala tingkah laku Rasulullah senantiasa terpelihara dan dikontrol oleh Allah SWT. segala anjuran dan laranganya benar-benar wahyu dari Allah sebagaimana dalam firman-Nya:<br />
وماينطق عن الهوى. ان هو الاوحي يوحى.<br />
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Q.S. An-Najm/ 53: 3-4).</p>
<p>Segala perbuatan Nabi yang dilakukan secara wajar merupakan suri teladan bagi umat manusia. Nabi yang secara langsung dibimbing oleh Tuhan menjadikan aktifitas Nabi sebagai sesuatu yang terbaik untuk diaplikasikan oleh umat manusia. Nabi sebagai Pendidik yang &#8220;sempurna&#8221; menjadi keniscayaan bagi manusia untuk menteladaninya.<br />
c.	Orang Tua<br />
Dalam Al-Qur’an juga telah dijelaskan kedudukan orang tua sebagai pendidik anak-anaknya, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Luqman:<br />
وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يبني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم<br />
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya “Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”.</p>
<p> Al-Qur’an menyebutkan sifat-sifat yag harus dimiliki orang tua sebagai guru yaitu pertama dan utama adalah ketuhanan dan pengenalan Tuhan yang pada akhirnya akan memiliki hikmah atau kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio. dapat bersukur kepada Allah, suka menasihati anaknya agar tidak mensekutukan Tuhan, memerintahkan anaknya agar melaksanakan salat, sabar dalam menghadapi penderitaan.<br />
Kedudukan orang tua sangat penting dalam membina dan mendidik anak-anaknya, karena orang tua yang paling bertanggung jawab terhadap anak keturunannya. Apakah anak-anaknya mau dijadikan orang yang baik atau sebaliknya? Nabi bersabda;<br />
عن أبي هريرة &#8230;.كل مولود يولج على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه. (رواه البخاري و مسلم وأحمد)<br />
&#8220;Tiap-tiap anak terlahir dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, Majusi. </p>
<p>Orang tua disamping memiliki kewajiban memberi nafkah kepada anak-anaknya juga berkewajiban untuk membina dan mendidiknya. Dua kewajiban ini tidak bisa dipisahkan, karena menjadi tanggungan orang tua kepada anaknya. Dalam realitanya kebanyakan orang tua tidak kuasa secara langsung untuk mendidik anak-anaknya. Hal ini karena beberapa aspek yang tidak mungkin untuk dilaksanaknnya, baik karena aspek kesempatan, kemampuan dan kendala-kendala lainnya.<br />
d.	Orang lain<br />
Pendidik yang keempat dalam perspektif Al-Qur’an adalah orang lain. Yaitu kebanyakan orang yang tidak terkait langsung dengan nasabnya terhadap anak didiknya.  sebagaimana firman Allah:<br />
فلمّا جاوز قال لفته اتنا غدائنا لقد لقينا من سفرنا هذا نصبا .<br />
“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhny kita telah merasa letih karena perjalanan ini”.</p>
<p>Menurut para ahli tafsir nabi Musa berkata kepada muridnya yang bernama Yusya bin Nun. Ayat di atas menjelaskan tentang nabi Musa yang mendidik orang yang bukan kerabat dekatnya (orang lain). Selanjutnya dalam ayat lain yang menjelaskan ketika nabi Musa berguru kepada nabi Khidir, Allah berfirman;<br />
قال له موسى هل أتبعك على أن تعلمني مما علمت رشدا<br />
“Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”.</p>
<p>Dalam konteks ayat ini nabi Musa berguru kepada nabi Hidir, dimana nabi Musa kurang bisa bersabar menjadi murid nabi Hidir, sehingga yang bisa diambil hikmahnya bagaimana peserta didik bisa bersabar terhadap pendidiknya. Nampaknya Al-Qur-an secara jelas telah menjelaskan tentang empat klasifikasi pendidik (Allah sebagai pendidik seisi alam semesta, Anbiya’ sebagai pendidik umat manusia, kedua orang tua sebagai pendidik anak dari nasabnya, dan orang lain sebagai orang yang membantu mendidik anak didik secara universal.. Orang lain inilah yang selanjutnya disebut pendidik/ guru. Bergesernya kewajiban orang tua mendidik anak-anaknya kepada pendidik/ guru, setidaknya karena dual hal; pertama karena orang tua lebih fokus kepada kewajiban finansial terhadap anak-anaknya. Kedua karena orang tu memiliki keterbatasan waktu atau kemampuan mendidik/ mengajar.<br />
Dengan demikian menjadi keniscayaan bagi orang tua untuk menyerahkan dan mempercayakan anak-anaknya kepada pendidik yang berada di lembaga pendidikan. Tentunya dengan hal tersebut kewajiban orang tua mendidik secara langsung anak-anaknya bisa diwakili oleh pendidik-pendidik tersebut, sehingga kewajiban orang memberi nafkah anak-anaknya bisa terpenuhi termasuk kewajiban mendidiknya.<br />
3.	Sifat-sifat Pendidik<br />
Sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik sebagaimana tercantum dalam Al-Qur-an, diantaranya: sifat shiddiq, sebagaimana surat. An-Nisa’: 104, amanah sebagaimana surat Al-Qashash: 26, Tabligh, Fathanah, Mukhlish sebagaimana surat Al-Bayyinah: 5, Sabar sebagaimana surat Al-Muzammil: 10, dan surat Ali Imron:159, Saleh (mencintai, membina, menyokong kebaikan) sebagaimana surat An-Nur: 55, Adil sebagaimana surat Al-Maidah: 8, mampu mengendalikan diri sesuai diri sendiri sebagaimana surat An-Nur: 30, kemampuan kemasyarakatan sesuai surat Ali Imron: 112, dan ketaqwaan kepada Allah sebagimana surat Al-A’raf: 26, dan surat Al-Mudatstsir : 1-7).<br />
Menurut Al-Ghazali pendidik dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadiannya, diantanya: (a) Sabar (b) kasih sayang (c) sopan (d) tidak riya’ (e) tidak takabbur (f) tawadhu’ (g) pembicaraan terarah (h) bersahabat (i) tidak pemarah (j) membimbing dan mendidik dengan baik (k) sportif (l) iklash dan lainnya.  Sehingga Al-Ghazali  berpendapat bahwa pendidik tidak boleh meminta bayaran dan apabila  bila mengajar ilmu agama hanya boleh menerimanya.<br />
Sedangkan menurut Ibnu Khaldun bahwa pendidik harus memiliki metode yang baik dan mengetahui faedah yang dipergunakannya.  Disamping itu Ibnu Khaldun menganjurkan agar pendidik bersikap sopan dan halus pada muridnya. Hal ini termasuk juga sikap orang tua terhadap anaknya, karena orang tua adalah pendidik utama. Selanjutnya jika keadaan memaksa harus memukul si anak, maka pukulan tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali.  Sedangkan pendidik boleh menerima ujrah dari hasil mengajarnya.<br />
Sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik menurut Ikhwan al-Safa ialah, pendidik harus cerdas, baik akhlaknya, lurus tabi’atnya, bersih hatinya, menyukai ilmu, bertugas mencari kebenaran, dan tidak bersifat fanatisme terhadap suatu aliran, walaupun dalam hal ini Ikhwan al-Safa tidak konsisten karena pendidik versi mereka harus sesuai denan organisasi dan tujuannya. Mereka memiliki aturan tentang jenjang pendidik yang dikenal dengan nama ashhab al-namus. Mereka itu adalah Mu’allim, Ustrdz dan mu’addib.<br />
Guru ashhab al-namus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu. Guru, ustadz atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga, dengan tingkatan sebagai berikut: (a) Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia sekitar 25 tahun. (b) Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya sekitar 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan. (c) Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun. (d) Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.  Sedangkan menurutnya bahwa pendidik boleh menerima upah dari hasil mengajarnya.<br />
D.	Pendidik masa depan</p>
<p>Pendidikan adalah upaya untuk pengembangan potensi dan sumber daya manusia, artinya pendidikan itu untuk mengaktualisasikan seluruh potensi atau sumber daya manusia secara seimbang dan optimal. Dengan kemampuan mengaktualisasikan potensi atau sumber daya manusia berarti dia telah mampu meralisasikan diri, yakni bersikap sebagai pribadi yang utuh (pribadi muslim).<br />
Pendidik dalam perspek Al-Qur&#8217;an tidak hanya sekedar memiliki sifat-sifat yang baik saja sebagaimana konsep Al-Ghazali, tetapi harus memiliki kemampuan dalam mengaktualisasikan ilmu kepada anak didiknya. Transfer ilmu oleh pendidik menjadi keniscayaan akan kualitas sumber daya pendidik dalam mengikuti perkembangan zaman.<br />
Di era globalisasi ini akan berdampak terhadap persoalan nilai moral, sosial budaya dan keagamaan. Hal ini  merupakan tantangan yang berat terhadap dunia pendidikan, disinilah pendidik ditantang untuk kiranya mampu mengatasi dan mengantisipasinya.<br />
Sebagai jawaban atas prospek pendidik Muslim di era globalisasi hendaknya pendidik harus memiliki seperangkat ilmu pegetahuan dan keterampilan dan profesional. Disamping profesionalisme pendidik perlu dimantapkan dan dimapankan sebagai jawaban tantangan masa depan, selanjutnya perlu disinkronkan, ketika penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, profesionalisme sudah dimapankan dan dimantapkan, maka disaat itu pendidik mengajarkan ilmu-ilmu agama, saat itu pula pendidik hendaknya menyampaikan iptek islami.<br />
Dengan demikian pendidik Muslim tidak cukup hanya berbekal dengan budi pekerti yang luhur, tetapi pendidik harus profesional yang bisa mengintegralkan Al-Qur-an dengan ilmu pengetahuan yang semakin pesat perkembangannya, sehingga  Al-Qur-an benar-benar Kalamullah yang selalu aktual tanpa mengenal batas waktu.<br />
E.	Penutup<br />
Pendidik sebagai komponen yang terpenting di dunia pendidikan menjadi figur di lingkungannya dalam mengantarkan anak-anak didiknya pada ranah kehidupan masa depan yang lebih cerah. Pendidik sebagai ujung tombak dalam memberangus kebodohan dan kemaksiatan, tentunya harus memiliki karakteristik Qur&#8217;ani dengan jalan yang persuasif dan konstruktif.<br />
Apabila dalam Al-Qur&#8217;an setidaknya disebutkan empat klasifikasi pendidik, namun pada dasarnya memiliki &#8220;kesamaan&#8221; dalam pembinaan terhadap anak didik sesaui dengan obyeknya masing-masing dan berujung kepada penegakan kalimatullah.<br />
Sedangkan menyangkut keikhlasan pendidik dalam Al-Qur-an, untuk tidak mengharapkan apa-apa dalam mentransefer ilmunya kepada orang lain, tentunnya hal ini perlu ditanamkan seorang pendidik dari sejak dini. Namun sebagai pendidik, ia mempunyai dua kewajiban yang bersamaan. Satu sisi pendidik mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ilmunya, mencerdaskan masyarakat, sedangkan sisi lain ia mempunyai kewajiban menyambung hidupnya. Sehingga dua kewajiban yang bersamaan ini semestinya harus terpenuhi tanpa mengurangi keikhlasan yang dianjurkan dalam Al-Qur&#8217;an.<br />
Dengan demikian pendidik dalam Al-Qur&#8217;an adalah sebagai penentu kebaikan generasi muda masa depan, karena ditangan pendidiklah generasi muda akan menjadi generasi yang tangguh dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan  masa dengan yang lebih damai sejahtera sesuai dengan ajaran Al-Qur&#8217;an. </p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Imam Suprayogo, Pendidikan Berpradikma Al-Qur&#8217;an, Malang, Aditya Media; 12<br />
H. M. Arifin, 1991, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara: 91<br />
W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia,<br />
Jhon N. Echols dan Hasan Shadily, 1980, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta, Gramedi, cet. Ke 8: 581<br />
Hans Wehr, 1974, A Dictionay of Modern Written Arabic, Beirut, Librairie du Liban, London: Macdonald dan Evans, Ltd; cet. ke-4: 15<br />
Suryosubrata B, 1983, Beberapa Aspek Dasar Kependidikan,Jakarta, Bina Aksara: 26<br />
Al-Ghazali, 1939,  Ihya’ ‘Ulumuddin,Beirut, Dar al-Fikr: 13<br />
Muhammad Munir Mursi, 1987, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah: Ushuluha wa  Tathawwuruha fi al-Bilad al-‘Arabiyah, Mesir, Dar Al-Ma’arif: 255<br />
Ahmad Fu’ad Al-Ahwani, t.t., Al-Tarbiyah fi al-Islam, Mesir, Dar al-Ma’arif: 248<br />
Ahmad Tafsir, 1992, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya: 32<br />
Ahmad D. Marimba, 1989, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, A-Ma’arif : 19</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=22&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pendidik-dalam-perspektif-al-qur-an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/kepemimpinan-kepala-madrasah/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/kepemimpinan-kepala-madrasah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak : Kepala Madrasah sebagai pimpinan tertinggi di suatu lembaga, memiliki peranan yang sangat vital dalam pengelolaan lembaga pendidikan, karena maju mundurnya lembaga berada dibawah tangung jawabnya.. Adanya kreatifitas kepala madrasah menjadi keniscayaan sehingga ia mampu memanej organisasi madrasah dengan baik dan benar. Implikasinya berupa keberhasilan secara menyeluruh, yaitu berupa out put dan adanya sinergitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=20&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abstrak : Kepala Madrasah sebagai pimpinan tertinggi di suatu lembaga, memiliki peranan yang sangat vital dalam pengelolaan lembaga pendidikan, karena maju mundurnya lembaga berada dibawah tangung jawabnya.. Adanya kreatifitas kepala madrasah menjadi keniscayaan sehingga ia mampu memanej organisasi madrasah dengan baik dan benar. Implikasinya berupa keberhasilan secara menyeluruh, yaitu berupa out put dan adanya sinergitas  dalam lingkungan pendidikan. Baik sinergitas seluruh tenaga edukasi dan karyawan, peserta didik, dan lingkungan masyarakatnya.<span id="more-20"></span></p>
<p>A.	Pendahuluan<br />
Pada umumnya kepala sekolah memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dibidang pengajaran dan pengembangan kurikulum, administrasi kesiswaan, administrasi personalia staf, hubungan masyarakat, administrasi school plant, perlengkapan dan oraganisasi sekolah .<br />
Cara kerja kepala sekolah dan cara ia memandang peranannya dipengaruhi oleh kepribadiannya, persiapan dan pengalaman profesionalnya, dan ketetapan yang dibuat oleh sekolah mengenai peranannya kepala sekolah dibidang pengajaran. Pelayanan pendidikan dalam dinas bagi administrasi sekolah dapat memperjelas harapan-harapan atas peranan kepala sekolah.<br />
B.	Kepemimpinan dalam Perspektif Pendidikan Madrasah<br />
1.	Kepemimpinan<br />
a.	Pengertian Kepemimpinan<br />
Istilah kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang artinya bimbing atau tuntun . Dari kata kerja pimpin lahirlah kata kerja memimpin dan kata benda pemimpin. Kemudian timbullah kata “kepemimpinan” . Adapun istilah pemimpin dalam bahasa Inggris adalah leader dan kepemimpinan dari kata leadership.<br />
Beberapa peneliti men-definisikan kepemimpinan sesuai dengan perspektif individual dan aspek lain sebagaimana dikatakan oleh Stogdill;<br />
Researchers usually define leadership according to their individual perspectives and the aspects of the phenomenon of most interest to them.After acomprehensive review of the leadership literature<br />
D. Katz &amp; Khan mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut;<br />
Leadership is the influential increment over and above mechanical compliance with the routine directives of the organization<br />
Sedangkan Jacobs &amp; Behling mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut:<br />
Leadership is a process of giving purpose (meaningful direction) to collective effort, and causing willing effort to be expended to achieve purpose<br />
Kebanyakan definisi mengenai kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang disengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.Dalam memanej tersebut, kelompok bisa bekerja sama sesuai job masing-masing sehingga tercapai tujuannya.<br />
b.	Pendekatan dalam Kepemimpinan<br />
Hampir seluruh penelitian kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat macam pendekatan;<br />
1)	Pendekatan pengaruh kewibawaan (power influence approach)<br />
Pendekatan ini, dikatakan bahwa keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaaan yang ada pada para pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan terhadap bawahan.<br />
2)	Pendekatan sifat (trait approach)<br />
Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin yang energik, intuisi yang tajam, pikiran kedepan, dan menarik.<br />
3)	Pendekatan perilaku (behavior approach)<br />
Pendekatan ini menekankan pentingnya perilaku yang dapat diamati atau yang dilakukan oleh para pemimpin dari sifat-sifat pribadi atau sumber kewibawaan yang dimilikinya.<br />
4)	Pendekatan kontigensi (Continegency approach)<br />
Pendekatan ini menekankan pada ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional .<br />
Dari keempat model pendekatan tersebut, maka pendekatan kontigensi nampaknya lebih kondusif, karena pemimpin bisa melaksanakan tugasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor situsional, sehingga lebih efektif melakukan tugasnya.<br />
c.	Keberhasilan Kepemimpinan<br />
Keberhasilan kepemimpinan hakikatnya berkaitan dengan tingkat kepedulian seorang pemimpin terlibat terhadap kedua orientasi , yaitu; 1) Apa yang telah dicapai oleh organisasi (organizational achievement) yaitu mencakup; produksi, pendanaan, kemampuan adaptasi dengan program-program inovarif dan sebagainya, 2) pembinaan terhadap organisasi (organizational maintenance), berkaitan dengan variable kepuasan bawahan, motivasi dan semangat kerja.<br />
Untuk mengetahui keberhasilan kepemimpinan seseorang dengan melalui dua pendekatan, yaitu:<br />
1)	Organizational achievement<br />
Keberhasilan pemimpin dapat dikaji dengan; a) pengamatan terhadap produk yang dihasilkan oleh proses transformasi kepemimpinan, seperti; penampilan kelompok, tercapainya tujuan, pertumbuhan, kemajuan, kepuasan bawahan, bawahan bertanggung jawab, kesejahteraan, dukungan penuh terhadap pimpinan, b) Dari hasil berupa , pertumbuhan keuntungan, batas minimal keuangan, peningkatan, penyebaran, target, produktifitas, segala bentuk biaya.<br />
2)	Organizational maintenance<br />
Ada aspek lain untuk mengetahui keberhasilan kepemimpinan melalui pengamatan sikap, yaitu sikap bawahan terhadap atasan diantaranya; kepuasan bawahan, menghargai dan kekaguman terhadap pimpinan, melaksanakan tugas sesuai yang diinginkan. untuk mengetahui bisa dengan questionnaire atau interview atau dengan cara lain berupa absensi, pergantian mendadak, keluhan, pengaduan papa yang lebih atas, permintaan pindah, kemunduran, pemogokan, sabotase dan lainnya.<br />
d.	Memperbaiki Kepemimpinan<br />
Ada tiga pendekatan untuk memperbaiki kepemimpinan;<br />
1)	Seleksi (selection)<br />
Apabila terjadi jabatan kepemimpinan yang kosong perlu adanya seleksi untuk mengisi jabatan tersebut. Penyeleksian dengan melalui beberapa prosedur diantaranya; menganalisis cirri-ciri jabatan yang kosong, tes terhadap kandidat, keberhasilan kandidat dan lain-lain.<br />
2)	Pelatihan (training)<br />
Pelatihan merupakan metode yang paling banyak dipakai untuk memperbaiki kepemimpinan. Ada tiga keterampilan melalui pelatihan; 1) keterampilan pengelolaan (managerial skills), 2) Pengetahuan teknis (technical knowledge) yaitu pelatihan khusus untuk pengembangan proses belajar, seperti; programmed text book, teaching machine, computeraided instruction, equipment simulators, videotaped demonstrations, 3) keterampilan konseptual (conceptual skills) seperti permainan kasus dan bisnis secara meluas dipakai sebagai metode pelengkap untuk keterampilan belajar  tenang; analisis persoalan, forecasting, planning, pengambilan keputusan juga tenik mengembangkan gagasan.<br />
3)	Rekayasa situasi (situational engineering)<br />
Dalam pendekatan ini situasi diubah untuk ebih dapat bersaing dengan pemimpin, misalnya perubahan yang terdapat di dalam organisasi unit kerja, seperti peningkatan atau merosotnya otoritas pemimpin, peningkatan atau merosotnya tentang kendali pemimpin<br />
2.	Sejarah Madrasah<br />
Keberadaan madrasah dan pondok pesantren pada awalnya adalah bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Para ahli sejarah dan intelektual muslim masih ikhtilaf tentang kapan masuknya Islam ke Indonesia. namun sekurang-kurangnya sejak abad ke 15 sudah terdapat bentuk pesantren di Jawa yang didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, ini menunjukkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.<br />
Perkembangan dari pesantren ke madrasah muncul pada awal abad ke-20, sebagai akibat dari perasaan kurang puas terhadap sistem pesantren yang terlalu sempit dan terbatas pada pengajaran ilmu-ilmu fard ain.  Paling tidak ada dua hal yang melatar belakangi tumbuhnya system madrasah di Indonesia, 1) faktor pembaharuan Islam, 2) respon terhadap politik pendidikan Hindia Belanda.<br />
Pengertian dari arti istilah madrasah sebagaimana terdapat di dalam peraturan pemerintah dan keputusan menteri agama serta menteri dalam negeri yang mengatur tentang madrasah, yaitu bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang di dalam kurikulumnya memuat materi pelajaran agama dan pelajaran umum, dimana mata pelajaran agama lebih banyak ketimbang umum.<br />
Madrasah dalam dekade terakhir abad XX merupakann lembaga pendidikan altrnatif bagi para orang tua untuk menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan bagi putra-putrinya. Bahkan ada beberapa daerah tertentu jumlah madrasah meningkat cukup signifikan.<br />
Perkembangan madrasah bila kita lihat pada awal pertumbuhannya dimotivasi oleh situasi tertentu yang mengkondisikan madrasah itu tumbuh dengan dimotori oleh perseorangan atau lembaga swasta tertentu, hingga pada perkembangannya dibina langsung oleh pemerintah.<br />
Pembinaan madrasah oleh pemerintah pada akhir-akhir ini lebih tampak tergambar dalam kegiatan dan usaha peningkatan mutu yang bertitik tolak dari peraturan perundang-undangan.<br />
Institusi Madrasah bila dilihat dari segi kelembagaan dalam peraturan perundang-undangan yaitu Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 1990, yang menyatakan bahwa: “sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama yang berciri has agama Islam yang diselenggarakan oleh Departemen Agama masing-masing disebut Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah”  .<br />
C.	Eksistensi Kepemimpinan Kepala Madrasah<br />
1.	Kedudukan Kepemimpinan Kepala<br />
Dalam praktek organisasi kata memimpin. mengandung konotasi: menggerakkan, mengarahkan, membimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan, memberikan bantuan, dan sebagainya.<br />
Betapa banyak variable arti yang terkandung dari kata memimpin memberikan indikasi betapa luas tugas dan peranan kepala Madrasah Aliyah (sebagaimana sekolah secara umum), sebagai seorang pemimpin sebuah organisasi yang bersifat kompleks dan unik.<br />
a)	Sebagai pejabat formal<br />
Didalam suatu organisasi kepemimpinan terjadi melalu dua bentuk, yaitu kepemimpinan formal (formal leadership) dan kepemimpinan informal (informal leadership). Kepemimpinan formal terjadi apabila dilingkungan organisasi jabatan otoritas formal dalam organisasi tersebut didisi oleh orang-orang yang ditunjuk atau dipilih melalui proses seleksi .<br />
Kepala sekolah adalah jabatan pemimpin yang tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan. Oleh karena itu kepala sekolah pada hakikatnya adalah pejabat formal, sebab pengangkatannya melalui suatu proses dan prosedur yang didasarkan atas peraturan yang berlaku.<br />
b)	Sebagai manajer<br />
Sebagai manajer kepala Madrasah/ sekolah harus matang dalam bidang manajemennya yaitu dengan adanya:<br />
1)	proses, yaitu merencanakan, dengan usaha memikirkan, merumuskan suatu program, tujuan dan tindakan yang harus dilakukan; mengorganisasikan, yaitu mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia dan sumber material sekolah, memimpin; yaitu mampu mengarahkan dan mempengaruhi seluruh sumber daya manusia untuk melakukan tugas-tugasnya yan esensial, mengendalikan, yaitu kepala sekolah memperoleh jaminan bahwa sekolah berjalan sampai tujuan.<br />
2)	Sumber daya sekolah, meliputi; dana, perlengkapan, informasi, maupun sumber daya manusia, yang masing-masing berfungsi sebagai pemikir, perencana, pelaku erta pendudukung untuk mencapai tujuan.<br />
3)	Mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.<br />
c)	Sebagai seorang pemimpin<br />
Kepala Madrasah/ sekolah sebagai pemimpin harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing. Disamping itu kepala sekolah harus bisa membimbing dan mengarahkan guru, staf dan para siswa serta memberikan motivasi memacu dan berdiri didepan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan .<br />
Koonts memberikan pengertian tenang fungsi kepemimpinan (kepala sekolah) sebagai berikut;<br />
The function of leadership, therefore, is to induce or persuade all subordinates of followers to contribute willingly to organizational goals in accordance with their maximum capability .<br />
Mengacu dari kalimat di atas, agar bawahan dengan penuh kemauan serta sesuai dengan kemampuan secara maksimal berhasil mencapai tujuan organisasi, pemimpin harus mampu membujuk dan menyakinkan bawahan.<br />
Dalam kepemimpinannya kepala sekolah harus bisa menggerakkan seluruh komunitasnya untuk berkompetisi memajukan lembaga, maka hendaknya kepala sekolah harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut;<br />
1)	Menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap para guru, staf dan para siswa.<br />
2)	Mampu melakukan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru, staf dan para siswa dengan cara; meyakinkan, yakni berusaha agar para guru, staf dan para siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar.<br />
Disamping itu kepala sekolah sebagai pemimpin, menurut H.G. Hicks dan C.R. Gullet  bahwa kepala sekolah harus melakukan peranan atau fungsi-fungsi kepemimpinan sebagai berikut;<br />
1)	Kepala sekolah harus bersikap arif, bijaksana, adil. (arbritrating)<br />
2)	Memberi saran dan anjuran untuk meningkatkan semangat, rela berkorban, rasa kebersamaan dalam melaksanakan tugas. (suggesting<br />
3)	Memberi fasilitas yang nyaman dan suasana yang mendukung untuk kenyamanan dalam berkarya. (Supplying objectives)<br />
4)	Kepala sekolah berperan sebagai katalisator, dalam arti mampu menimbulkan dan memobilisasi semangat bawahan dengan pencapaian tujuan yang ditetapkan. (catalyzing)<br />
5)	Memeri rasa aman dari kegelisahan, kehawatiran, serta memperoleh jaminan keamanan dari kepala. Providing security)<br />
6)	Menjadi pusat perhatian, sehingga harus selalu menjaga integritasnya, selalu terpercaya, dihormati baik sikap, perilaku maupun perbuatannya (representing).<br />
7)	Membangkitkan semangat, percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, sehingga mereka menerima dan memahami tujuan sekolah secara antusias. (inspiring).<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Menghargai segala hasil kerja bawahan. Penghargaan dan pengakuan ini dapat diwujudkan dengan berupa; kenaikan pangkat, fasilitas, kesempatan mengikuti pendidikan dan lain-lain (praising).<br />
Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah berfungsi sebagai berikut; 1) perumus tujuan kerja dan pembuat kebijakan (policy) sekolah; 2) pengatur tata kerja (mengorganisasi) sekolah, yang mencakup; mengatur pembagian tugas dan wewenang, mengatur petugas pelaksanaan, menyelenggarakan kegiatan (mengkoordinasi) .<br />
d)	Sebagai pendidik<br />
Kepala sekolah sebagai pendidik harus mampu menanamkan, memajukan dan meningkatkan paling tidak empat macam nilai, yaitu; 1) mental, hal-hal yang berkaitan dengan sikap batin dan watak manusia; 2) moral, hal-hal yang berkaitan dengan ajaran baik buruk mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban atau moral yang diartikan sebagai akhlak, budi pekrti dan kesusilaan; 3) fisik, hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan, kesehatan dan penampilan manusia secara lahiriyah; 4) artistik, hal-hal yang berkaitan kepekaan manusia terhadap  keindahan .<br />
Kepala sekolah berperan sebagai pendidik juga perlu memperhatikan dua hal pokok, yaitu: 1) sasaran, perilaku kepala sekolah adalah mengaraha kepada para guru, staf, dan para siswa, 2) peranan, kepala sekolah sebagai pendidik perlu berkikap secara persuasi, memberi tauladan, dan penampilan kerja dalam pengertian performance, yaitu bersikap disiplin, jujur, penuh tanggung jawab, bersahabat dan sebagainya.<br />
Disamping hal tersebut, masih ada sasaran yang tidak kalah pentingnya, yaitu konstribusi terhadap pembinaan kehidupan sekolah: organisasi siswa, organisasi orang tua, organisasi guru dan lainnya.<br />
e)	Sebagai Supervisor<br />
Kepala sekolah sebagai supervisor harus meneliti, mencari dan menetukan syarat-syarat mana saja yang diperlukan bagi kemauan sekolah. Syarat-syarat yang perlu diteliti diantaranya: 1) Kondisi gedung sekolah (baik/ buruk, dan jalan keluarnya); 2) kelengkapan alat-alat sekolah; 3) keadaan guru; 4) semanga kerja guru/ sataf; 5) kalitas guru mengajar; 6) hasil belajar siswa; 7) usaha mningkatkan kualitas guru dan siswa; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Tanggung jawab guru dan lain  sebagainya<br />
2.	Tanggung Jawab Pembinaan Kepala<br />
Tanggung jawab pembinaan kepala sekolah adalah pemerintah sebagaimana dalam Peraturan Pemerintah yang mengatur pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa pelaksanaan ketentuan yang menyangkut pengelolaan, penilaian, bimbingan, pengawasan dan pengembangan bagi sekolah-sekolah  yang diselenggarakan oleh pemerintah, menjadi tanggung jawab pemerintah. Maksudnya pemerintah mengeluarkan peraturan dan pedoman tentang bagaimana pengelolaan, penilaian bimbingan, pengawasan dan pengembangan pendidikan dilaksanakan.<br />
Di dalam Sisdiknas tersebut juga di jelaskan secara khusus bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, sehingga dengan demikian kepala sekolah mempunyai kewajiban untuk selalu mengadakan pembinaan dalam arti berusaha  agar pengelolaan, penilaian, bimbingan, pengawasan dan pengembangan pendidikan dapat dilaksanakan dengan lebih baik.<br />
Diantara penyelenggaraan pendidikan yang harus selalu dibina secara terus-menerus oleh kepala sekolah adalah:<br />
a.	Program pengajaran<br />
Pembinaan pengajaran sangat penting sebagai suatu usaha memperbaiki program pengajaran untuk dipahami oleh setiap kepala sekolah. Dengan mengetahui dan memahami tahap-tahap proses perbaikan pengajaran akan membantu para kepala sekolah untuk melaksanakan pembinaan program pengajaran sebagai berikut: 1) penilaian sasaran program (assessing program objectives), perlu diuji keadaan program pengajaran dengan tuntutan masyarakat dan kebutuhan mereka yang belajar; 2) merencanakan perbaikan program (planning program improvement), perlu dibentuk struktur yang tepat, mengusahakan dan memanfaatkan informasi serta mengadakan spesifikasi sumber-sumber yang diperlukan untuk program; 3) melaksanakan perubahan program (implementing program change), termasuk memotivasi para guru, pustakawan, laboran dan para tenaga administrasi, membantu program pengajaran, dan melibatkan mayarakat; 4) evaluasi perubahan program (evaluation of program change constitutes), perlu perhatian untuk merencanakan evaluasi dan penggunaan alat  ukur yang tepat untuk hasil pengajaran .<br />
b.	Pembinaan Kesiswaan<br />
Tanggung jawab legal kepala sekolah dalam hal ini mengadakan pengendalian kehadiran para siswa, penerapan disiplin, kebebasan mengemukakan pendapat dan menghormti proses hak-hak seluruh siswa secara tepat.<br />
Dengan demikian interaksi formal dan informal terus-menerus diantara para siswa, guru dan kelapa sekolah, merupakan bantuan dalam menciptakan dan meningkatkan keserasian dan kecocokan (congruence and compatibility). Secara khusus siswa akan menghargai kepala sekolah. sebagai guru, tempat berkonsultasi, interpretasi dan memberikan keterangan tentang kebijaksanaan sekolah, maupun memberikan nasehat secara terus terang .<br />
c.	Pembinaan staf<br />
Staf adalah kelompok sumber daya manusia yang bertuas membantu kepala sekolah dalam mencapai tujuan sekolah, terdiri dari para guru, laboran, pustakawan, dan kelompok sumber daya manusia yang bertugas sebagai tenaga administrasi.<br />
Semua kegiatan memerlukan keterlibartan orang-orang dengan ltar belakang kemampuan yang berbeda-beda, seperti; para guru yang professional, kelompok orang-orang yang tidak terlibat dalam tugas mengajar, pustakawan, laboran dan lain sebagainya.<br />
Secara umum diakui bahwa keberhasilan usaha seseorang mempunyai hubungan erat dengan kualitas manusia yang memerlukan usaha tersebut, disamping keadaan yang berpengaruh terhadap kondisi fisik dan mental manusia itu sendiri.<br />
Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah yang mempunyai arti vital dalam proses pendidikan harus mampu mengolah dan memanfaatkan segala sumber daya manusia yang ada, sehingga tercapai efektivitas sekolah yang melahirkan perubahan kepada anak didik.<br />
Efektivitas sekolah tercapai, apabila kepala sekolah selalu memperhatikan dan melaksanakan hal-hal berikut; 1) sekolah harus secara terus menerus menyesuaikan dengan kondisi internal dan eksternal yang mutakhir; 2) mampu mengkoordinasikan dan mempersatukan usaha seluruh sumber daya manusia kearah pencapaian tujuan;  3) perilaku sumber daya manusia kearah pencapaian tujuan dapat dipengaruhi secara positif apabila kepala sekolah mampu melakukan pendekatan secara manusiawi; 4) sumber daya manusia merupakan satu komponen penting dari keseluruhan perencanaan organisasi; 5) dalam rangka pengelolaan kepala sekolah harus mampu menegakkan hubungan yang serasi antara tujuan sekolah dan prilaku sumber daya manusia yang ada; 6) dalam meningkatkan afektivitas dan efisiensi sekolah, suber daya manusia harus ditumbuhkan sebagai satu kekuatan utama.</p>
<p>d.	Anggaran Belanja dan fasilitas sekolah<br />
Ketepatan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengusahakan sumber daya material yang ada pada suatu sekolah, oleh sebab itu peranan kepala sekolah dalam kerangka manajemen, berkewajiban untuk menjabarkan tujuan dan sasaran sekolah kedalam istilah-istilah yang pragmatik tentang: permintaan anggaran yang spesifik, mempersiapkan dan mempertahankan anggaran sekolah, pemantauan atau monitoring terhadap pendayagunaan sumber-sumber yang tersedia, dan evaluasi hasil-hasil pendidikan .<br />
e.	Anggaran belanja sekolah<br />
Siklus anggaran belanja sekolah yang mencakup perencanaan, persiapan, pengelolaan dan evaluasi anggaran sekolah memerlukan perhatian yang cermat dari kepala sekolah. Sebab kecermatan kepala sekolah terhadap proses anggaran belanja sekolah akan meningkatakan kewibawaan kepala sekolah terhadap keberhasilan sekolah.<br />
Anggaran belanja suatu sekolah pada dasarnya, adalah pernyataan sistem yang berkaitan dengan program pendidikan yang berupa penerimaan dan pengeluaran yang direncanakan dalam satu periode kebijaksanaan kieuangan (fiscal) dan didukung dengan data yang mencerminkan kebutuhan, tujuan, proses pendidikan, dan hasil sekolah yang direncanakan.<br />
Oleh sebab itu kepala sekolah harus memahami dan berlatih tentang jiwa administrasi dan teknik-teknik manajemen bisnis keseluruhan proses anggaran belanja<br />
3.	Tugas-tugas Kepala<br />
Kepala sekolah merupakan personel sekolah yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan-kegiatn sekolah. Ia mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya.<br />
Kinerja atau tugas-tugas kelapa sekolah adalah sebagai berkut: mengatur penyelenggaraan di sekolah/ madrasah, mengatur urusan tata usaha madrasah, mengatur penyelenggaraan keuangan madrasah, mengatur penyelenggaraan urusan sarana dan peralatan madrasah, mengatur penyelenggaraan urusan rumah tangga madrasah, mengatur penyelenggaraan urusan perpustakaan dan laboratorium, hubungan orang tua siswa dan masyarakat, melakukan pengendalian pelaksanaan seluruh kegiatan di madrasah, melakukan tugas-tugas lain yang diberikan atasan.<br />
4.	Meningkatkan Kualitas Kepala<br />
Kunci keberhasilan suatu sekolah pada hakikatnya terletak pada efisiensi dan efektivitas penampilan seorang kepala sekolah. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah dan keberhasilan kepala sekolah adalah keberhasilan sekolah.<br />
Kualitas kepemimpinan kepala sekolah sangat penting artinya, maka sangat ditekankan adanya tiga kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh kepala sekolah, yaitu: conceptual skills, human skills dan technical skills.<br />
Dengan memiliki ketiga keteampilan tersebut, kepala sekolah diharapkan mampu; menentukan tujuan sekolah, mengatur sekolah, menanamkan pengaruh atau kewibawaan kepemimpinanya, memperbaiki pengambilan keputusan, dan melaksanakan perbaikan pendidikan.<br />
Disamping dasar-dasar itu, kepala sekolah juga perlu memahami dan mewujudkan: prinsip-prinsip, pelaksanaan atau praktek , dan prosedur dalam: memperbaiki program pengajaran, bekerja secara efektif dengan staf dan para siswa, mengelola segala sumber daya sekolah, dan meningkatkan hubungan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat .<br />
D.	Kesimpulan<br />
Kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalm hal ini pengaruh yang disengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lian untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.<br />
Kepala madrasah Aliyah sebagaimana juga sekolah lainnya harus bisa menggerakkan, mengarahkan, membimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan, memberikan bantuan, dan sebagainya terhadap segala sesuatu yang ada kaitannya  dengan lembaga pendidikan.<br />
Kedudukan kepala madrasah sangat unik karena ia memiliki beberapa posisi, yaitu sebagai pejabat formal, sebagai manajer, sebagai pemimpin, sebagai pendidik, dan sebagai staf, merupakan kedudukan yang melekat pada diri kepala madrasah.<br />
Sedangkan tugas pokok yang harus ia lakukan berupa pembinaan program pengajaran, pembinaan kesiswaan, pembinaan staf, anggaran belanja dan fasilitas madrasah serta anggaran belanja madrasah.<br />
Dengan demikian, sebagai kepala madrasah aliyah tentunya pimpinan akan selalu melaksanakan tugasnya sesuai dengan job-jobnya dan kinerja yang diembannya yang diaplikasikan dengan nuasa yang islami, baik bentuk manajemennya, program, dan bentuk aktivitas keseharian dalam lembaga tersebut.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sekretariat Jenderal, 1992, Himpunan Peraturan Perundangan Republik Indonesia Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, PP. No. 28 tahun 1990 Pasal 4 ayat 3.</p>
<p>Hicks, G &amp; Gullet C., Ray, 1975, Organization: Theory and Behavior, McGrow-Hill, Inc. H.M. Daryanto, 2001, Administrasi Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta </p>
<p>Ismail, SM dkk (ed.), 2002, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar</p>
<p>Jacobs, T.O., &amp; Jaques E, 1990, Militery executive leadership, di K.E. Clark % M.B. Clark (Dds), Measures of Leadership, NJ, Leadership Libarary of America</p>
<p>Katz, D. &amp; Kahn R.L, 1978, The Social Psychology of Organizations (2nd ed.), New York, John Wiley</p>
<p>Koonts, et.al., 1980, Management, seventh edition, Kogakusha, McGrw-Hill</p>
<p>Maksum, 1999, Madrasah, Sejarah, dan Perkembangannya, Jakarta, Logos</p>
<p>Nata, Abuddin, (Ed.), 2001, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Grasindo</p>
<p>Poerwadarminta, W.J.S., 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN. Balai Pustaka</p>
<p>Soemanto, Wasty, &amp; Hendyat Soetopo, 1982, Kepemimpinan dalam Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional</p>
<p>Stogdill, Ralph.M. 1974, Handbook of Leadership: A Survey of the literature, New York, Free Press</p>
<p>Wahjosumidjo, 2002, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta, Raja Grafindo Persada<br />
Yukl, Gary, 2002, Leadership in Organizationz, New Jersey, Prentice Hall International</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=20&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/kepemimpinan-kepala-madrasah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENUJU PEMIMPIN YANG EFEKTIF</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/menuju-pemimpin-yang-efektif/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/menuju-pemimpin-yang-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[A. Hantaran Apabila berbicara masalah pemimpin yang tergambar dalam benak adalah seorang presiden, gubernur, pimpinan organisasi formal maupun non formal. Pemimpin ialah seseorang yang memimpin dan mengarahkan orang lain sehingga orang-orang yang masuk dalam institusinya akan mengikutinya. Adanya kerjasama antara pemimpin dengan yang dipimpin menjadi keniscayaan, sehingga pemimpin menjaadi efektif. Adanya partisipasi aktif segenap anggota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=18&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Hantaran<br />
Apabila berbicara masalah pemimpin yang tergambar dalam benak adalah seorang  presiden, gubernur, pimpinan organisasi formal maupun non formal. Pemimpin ialah seseorang yang memimpin dan mengarahkan orang lain sehingga orang-orang yang masuk dalam institusinya akan mengikutinya. Adanya kerjasama antara pemimpin dengan yang dipimpin  menjadi keniscayaan, sehingga pemimpin menjaadi efektif.<span id="more-18"></span><br />
Adanya partisipasi aktif segenap anggota institusi menunjukkan berjalannya kepemimpinan yang aktif. Hal ini perlu adanya langkah-langkah konkrit  untuk mengaktifkan seluruh institusi. Maka timbullah apa yang disebut dengan pemimpin yang sukses atau timbullah pemimpin yang efektif.<br />
B.	Teori Kepemimpinan<br />
1.	Pengertian<br />
Kepemimpinan merupakan suatu wacana publik yang sangat menarik untuk selalu dikaji dan dibahas dalam tataran ilmiah. Berbagai hasil penelitian tentang kepemimpinan telah banyak didapat yang secara teoritikal menjadi acuan ilmiah dan selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi; baik dalam organisasi kenegaraan, politik, perusahaan, keagamaan, pendidikan dan bentuk organisasi lainnya.<br />
Secara konseptual para ilmuan bervariasi dalam mendefinisikan kepemimpinan, baik pengertian kepemimpinan secara umum maupun pengertian kepemimpinan secara khusus pada organisasi tertentu, walaupun intinya merupakan suatu proses dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Diantara definisi kepemimpinan adalah sebagai berikut;<br />
a.	Kepemimpin secara umum<br />
1.	Menurut John D. Pfiffner &amp; Robert Presthus, &#8220;Leadership is the art of coordinating and motivating individuals and group to achieve desired ends.&#8221;  (Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu serta kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan)<br />
2.	Menurut Martin J. Gannon, &#8220;Leadership is the ability of a superior to influence the behavior of subordinates; one of the behavioral in organization.&#8221;  (Kepemimpinan adalah kemampuan seorang atasan mempengaruhi perilaku bawahannya; salah satu prilaku dalam organisasi).<br />
	Dengan demikian, maka inti dari pengertian kepemimpinan tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dalam proses mempengaruhi, mengkoordinasikan, menggerakkan segala komponen dalam suatu organisasi dalam upaya efektivitas dan efesiensi untuk pencapaian tujuan organisasi.<br />
2.	Teori Kepemimpinan<br />
Secara teoritikal kepemimpinan, para pakar peneliti memiliki beberapa pandangan tentang pendekatan atau teori kepemimpinan. Gary Yukl dalam bukunya yang berjudul Leadership in Oraganization menjelaskan bahwa ada lima pendekatan (teori) kepemimpinan.<br />
&#8220;Therefore, it is helpful to classify the theories and empirical research into the following five approaches:   yaitu meliputi;<br />
a.	Trait approach, (pendekatan ciri/ sifat) bahwa keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin banyak dipengaruhi oleh sifat-sifat seorang pemimpin karena pembawaan atau keturunan. Pemimpin adalah dilahirkan bukan dibuat, artinya pemimpin adalah mewarisinya.<br />
b.	Behavior approach, (pendekatan perilaku) bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan. Pendekatan perilaku inilah yang selanjutnya melahirkan berbagai teori tentang tipe atau gaya kepemimpinan.<br />
c.	Power- influence approach () bahwa kekuasaan tidak hanya berada pada pimpinan saja tetapi juga berada pada anggotanya, sehingga efektivitas organisasi akan saling mempengaruhi antara pemimpin dan anggotanya.<br />
d.	Situational approach () bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi tidak hanya bergantung pada perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tetapi juga faktor masalah yang berbeda, lingkungan, semangat dan watak bawahan, situasi yang semuanya berbeda, juga disebut pendekatan kontingensi (kemungkinan)<br />
e.	Integrative approach. () integrasi dari empat pendekatan sebelumnya yang meliputi pendekatan ciri,  perilaku, pengaruh kekuasaan, dan situasional.<br />
3.	Tipologi Kepemimpinan<br />
Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian sendiri yang unik khas; sehingga tingkah laku dan gayanyalah yang membedakan dirinya dari orang lain. Gaya atau style hidupnya ini pasti akan mewarnai perilaku dan tipe kepemimpinannya, sehingga muncullah beberapa tipe kepemimpinan. Sondang P. Siagian membagi dengan 5 tipe kemimpinan:<br />
a.	Tipe kepemimpinan Otokratik; ia akan menonjolkan ke-akuannya dengan kurang menghargai anggota, berorientasi pada penyelesaian tugas, mengabaikan peranan anggota dalam pengambilan keputusan.<br />
b.	Tipe Kepemimpinan Paternalistik; kuatnya ikatan primordial, exented family system, kehidupan masyarakat yang komunalistik. Pemimpin berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan memberi petunjuk, dan anggota menerima segala tugas dengan penuh kepatuhan.<br />
c.	Tipe Kepemimpinan Kharismatik orang cenderung mengatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki &#8220;kekuatan ajaib&#8221; yang tidak mungkin dijelaskan secara ilmiah<br />
d.	Tipe Kepemimpinan Laissez Faire; Ia memiliki sikap yang permisif yang memperlakukan anggota organisasi sebagai rekan sekerja, keberadaan dia karena adanya struktur dan hirarki organisasi.<br />
e.	Tipe kepemimpinan Demokratik. biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen sehingga bergerak sebagai suatu totalitas.<br />
4.	Kualifikasi Seorang Pemimpin<br />
Seorang pemimpin memiliki tanggungjawab penuh  terhadap yang dipimpinnya. Disamping itu pemimpin sebagi sosok suri tauladan yang menjadi rujukan segenap anggotanya. Tentunya ia harus memiliki nilai lebih ketimbang anggota organisasinya. Kualitas yang dimiliki seorang pemimpin berupa kualifikasi yang mestinya harus dimiliki sesuai dengan situasi dan kondisinya. Sehubungan dengan kualifikasi tersebut ada beberapa pendapat dari ilmuan manajemen dan kepemimpinan.<br />
Menurut Charles Bernard, kepemimpinan mempunyai dua aspek. ”Pertama, kelebihan individual teknik kepemimpinan, yaitu mempunyai kondisi fisik, keterampilan yang tinggi, menguasai teknologi, mempunyai persepsi yang tepat, pengetahuan luas, ingatan yang baik, imajinasi yang menyakinkan akan mampu memimpin bawahan. Kedua, kesunggulan pribadi dalam ketegasan, keuletan, kesadaran, dan keberhasilan.   Adanya kelebihan individu saja dianggap belum cukup menjadikan seorang pemimpin yang baik, sehingga masih perlu pendukung aspek-aspek yang lain.<br />
Menurut Bedjo Siswanto bahwa kualifikasi kepemimpinan meliputi hal-hal berikut; 1). Watak dan kepribadian terpuji. 2). Prakarsa yang tinggi. 3). Hasyrat melayani bawahan. 4). Sadar dan paham kondisi lingkungan. 5). Intenlegensi yang tinggi. 6). Berorientasi kemasa depan. 7). Sikap terbuka dan lugas. 8). Widiasuara yang efektif.<br />
Seorang pemimpin yang bisa memanej dan mengatur jalannya institusi tentunya harus memiliki kualifikasi yang baik. Kualifikasi tersebut sebagai merupakan upaya-upaya menjadikan pemimpin yang bisa mengemban tugasnya dengan baik, sehingga ia kan menjadi pemimpin yang efektif.<br />
C.	Pemimpin yang Efektif<br />
Efektif kepemimpinan banyak bergantung pada beberapa variabel, seperti kultur organisasi, sifat dari tugas dan aktivitas kerja, dan nilai serta pengalaman dalam memimpin. ”Yang mempengaruhi efektifitas kepemimpinan mencakup kepribadian, pengalaman, masa lampau, dan harapan  dari manajer yang bersangkutan; harapan dan perilaku bawahan; persyaratan tugas; kultur dan kebijakan organisasi; dan harapan serta perilaku rekan bekerja.”<br />
Kepemimpinan yang sukses ataukah kepemimpinan yang efektif? Ada perbedaan signifikan antara pemimpin yang sukses dengan pemimpin yang efektif. ”kepemimpinan  yang sukses berusaha bagaimana menguasai para bawahan secara individu maupun kelompok, sebaliknya kepemimpinan yang efektif melukiskan kondisi internal atau predisposisi bawahan secara individu atau kelompok, dan oleh karena itu sikap dan prilaku tersebut alamiah.<br />
Kepemimpinan yang sukses bisa saja karena menggunakan kinerjanya secara struktural. Sedangkan pemimpin yang  efektif ia bekerja secara humanisme walaupun tidak melalikan strukturalnya. Sehingga kepemimpinan yang efektif akan disenangi oleh para anggotanya, sedangkan pemimpin yang sukses belum tentu disenanginya. Dalam sebuah riset dihasilkan bahwa ”pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang anggota kelompoknya merasa bahwa kebutuhan mereka terpenuhi dan pemimpin sendiri merasa bahwa kebutuhannya juga telah terpuaskan.<br />
Tentunya tidak serta merta hasil riset di atas dianggap paling benar adanya, namun adanya kombinasi antara hubungan struktural dan humanisme akan menghasilkan kepemimpinan yang lebih efektif.<br />
D.	Penutup<br />
Kepemimpinan dalam sebuah institusi dianggap sukses atau efektif, tergantung dari sisi mana menilainya. Apabila dilihat dari aspek produktifitas, maka kesuksesan bisa dilihat dari apa yang telah dihasilkan. Jika nilai sukses dan efektif dilihat dari sisi kenyamanan dalam institusinya maka aspek humanisme menjadi keniscayaan, dan apabila kesuksesan di ukur dengan berjalannya organisasi sesuai rencana yang telah dibuat , maka kepemimpinan struktural menjadi pilihan yang tepat.<br />
Dengan demikian nampaknya kepemimpinan yang diharapkan efektif ialah apabila dari beberapa aspek di atas menjadi langkah-langkah yang integral  baik dari aspek humanisme, aspek struktural, dan produktifitasnya. Namun hal tersebut akan relatif  lebih efektif lagi kalau segala tatanan tersebut semua mengarah kepada tatanan relegius, sehingga tujuan akhirnya hanya semata-mata karena Allah SWT. (وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون). Wallahu A’lam.</p>
<p>Disampaikan dalam acara LAMUD IPNU Cabang Kraksaan tanggal 13 September 2008</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=18&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/menuju-pemimpin-yang-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EKSISTENSI “ASWAJA” DAN PERKEMBANGANNYA</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/eksistensi-%e2%80%9caswaja%e2%80%9d-dan-perkembangannya/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/eksistensi-%e2%80%9caswaja%e2%80%9d-dan-perkembangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[A. Sejarah Aswaja Islam telah mengisaratkan adanya firqah-firqah yang akan terjadi dalam kehidupan umat manusia, termasuk firqah dalam Islam. ٍSetidaknya terdapat 14 hadits yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi; عن سفيان الثوري&#8230; قال النبي صلى الله عليه وسلم:..وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفرقت أمتي على ثلاث وسبعين ملة [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=16&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Sejarah Aswaja<br />
Islam telah mengisaratkan adanya firqah-firqah yang akan terjadi dalam kehidupan umat manusia, termasuk firqah dalam Islam. ٍSetidaknya terdapat 14 hadits yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi;<span id="more-16"></span><br />
عن سفيان الثوري&#8230; قال النبي صلى الله عليه وسلم:..وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفرقت أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا: ومن هي يارسول الله؟ قال: ماانا عليه و اصحابي {رواه البرميذي: 2565}</p>
<p>Artinya; Dari Sufyan al-Tsauri… Nabi Saw. Bersabda:“…Sesungguhnya Bani Israil itu terpecah menjadi tujuh puluh dua aliran, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran. Semua aliran itu akan masuk neraka, kecuali satu. Para sahabat bertanya: “Siapakah satu aliran itu ya Rasulallah? (mereka itu adalah aliran yang mengikuti) apa yang aku lakukan dan para sahabatku.(Ahli Sunnah wal Jama’ah)<br />
Dalam firqah-firqah tersebut semuanya akan celaka kecuali golongan yang berkometmen melaksanakan segala amaliyah Nabi dan para sahabatnya. Lafadz “Mă Ana ‘alaihi wa Ashhăbĭ” disebut dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah, yang berarti penganut Sunnah Nabi Muhammad dan Jama’ah (sahabat-sahabatnya) (Sirajuddin ‘Abbas, 1983; 16) Menurut pendapat yang lain bahwa, “pada masa sahabat istilah Ahlussunnah wal Jama’ah juga digunakan untuk membedakan dengan golongan Syi’ah (Team Penulis Pendidikan Aswaja &amp; Ke-NU-an, 2007;4). Ada juga yang mengatakan bahwa yang  termasuk 72 golongan yang akan celaka adalah golongan Syi’ah terriqah (22), Khowarij (20), Mu’tazilah (20), Murji’ah (5), Najjariyah (3), Jabariyah (2), Musyabihah (1), (Sirajuddin ‘Abbas, 1983; 24) kecuali Ahlussunnah wal Jam’ah.<br />
Adanya beberapa interpretasi hadits tersebut timbul saling klaim antara firqah-firqah Islam sebagai golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah yang berhak masuk surga.  Apabila firqah-firqah yang 72 tersebut  diinterpretasikan terhadap golongan non Islam (kaum kuffăr), tentunya yang layak masuk surga hanya kaum muslimin terlepas dari golongan manapun. Nampaknya hal ini akan lebih kondusif dalam peningkatan ukhuwah islamiyah. Dalam surat al-Hujarat ; 10 disebutkan “Innamal Mu`minŭna Ikhwatun fa Ashlihŭ Baina Akhawaikum&#8230; menunjukkan bahwa orang mukmin adalah sesaudara, begitu juga firman Allah dalam surat al-Anbiyă’; 92 dan al-Mu’minŭn 52 yang artinya “Sesungguhnya (agama Tauhid/ Islam) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaku”. Dan dalam hadits Shahih Bukhori; 2262 Nabi bersabda; Al-Muslimu Akhul Muslim la Yadhlimuhŭ…<br />
Secara historis para imam Aswaja dibidang akidah telah ada sejak zaman sahabat Nabi (sebelum Mu’tazilah ada). Imam Aswaja di zaman itu adalah Ali ibn Abi Thalib yang membendung faham Khawarij tentang al-wa’d wa al-wa’id (janji dan ancaman), juga Qadariyah tentang masyi’ah (kehendak Tuhan) serta istithă’ah (daya manusia). (Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 13). Aswaja juga merespon Mu’tazilah, dan bahkan kemunculan Aswaja sebagai aliran terjadi pada masa Mu’tazilah mencapai kejayaannya (Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 16). Dalam konteks “ke-Indonesiaan” Aswaja identik dengan golongan “Islam Tradisional” atau lebih spesifik lagi golongan Nahdlatul Ulama’ (NU) yang secara konsisten telah melaksanakan amaliyahnya berdasarkan tekstualitas hadits di atas. Disamping itu NU sebagai penerus ajaran Aswaja yang telah dibawa oleh ajaran Wali Songo.<br />
NU dalam mengusung Aswaja disamping karena sesuai dengan hadits juga secara prinsipil termotivasi dengan dua faktor; a). Adanya ancaman “Internasional”, terjadinya perebutan kekuasaan dari penguasa Mekkah Syarif Husain (yang moderat) direbut oleh Abd. Al-‘Aziz ibn Sa’ud (pengikut kaum Wahabi, pengikut sekte puritan yang paling dogmatis dalam Islam yang terkenal keras dan mengancam keyakinan “Islam Tradisional” dalam beribadah di tanah suci Mekkah. b). Adanya gerakan Serikat Islam  (SI) dan Muhammadiyah yang memiliki pemahaman berbeda dengan golongan “Islam Tradisional”, dan tidak  bisa membawa aspirasi “Islam Tradisional” dalam kancah Internasional (Mekkah), sehingga terbentuklah komite Hijaz yang berlanjut dengan berdirinya Nahdlatoel “Oelama di Surabaya 31 Januari 1926 ( Lihat Martin Van Bruinessen, 1994; 31-32 ).<br />
B.	Aswaja Sebagai Madzhab<br />
Ajaran Islam adalah sempurna yang bersifat universal, tentunya membutuhkan kajian dan penafsiran yang cermat supaya menghasilkan akurasi kesimpulan hukum yang tepat. Maka Aswaja juga berpedoman terhadap pemikiran para mujtahid yang dianggap lebih mampu dalam menginterpretasi dari sumber utamanya.<br />
“Aswaja” adalah faham yang berpegang teguh pada tiga madzhab sebagaimana dilansir oleh KH. Bisri Mustofa, yaitu; a). Bidang hukum Islam menganut salah satu empat masdzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali), b). Bidang Tauhid menganut ajaran Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, c). Bidang Tasawuf menganut Imam Abu Qosim al-Junaidi (Zamakhsyari Dhofier, 1994; 149)<br />
C.	Aswaja Sebagai Minhaj al-Fikr<br />
Dalam pokok-pokok ajaran Islam secara universal hampir semua golongan memiliki pemahaman yang sama terhadap ayat-ayat dan hadits qath’i dan hal-hal pokok lainnya, seperti tentang ke- Esaan Allah, kewajiban shalat, puasa, zakat dan lainnya. Namun dalam hal-hal yang kurang substansial mereka berbeda dalam minhaj al-Fikrnya sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda pula, karena perbedaan penekanan otoritas akal dan intelektualitas dalam menginterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an dan teks-teks Hadits.<br />
Golongan-golongan dalam Islam memiliki minhaj al-Fikr yang berbeda-beda. Mu’tazilah sering disebut berfikiran liberal atau rasional, Asy’ariyah memiliki minhaj al-Fikr tradisional sedangkan paham Al-Maturidi memiliki pemikiran kombinasi dari keduanya, yaitu rasional-tradisional. Dengan menekankan kekuatan akalnya, Mu’tazilah beranggapan bahwa akal manusia bebas menembus hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan, sementara Asy’ariyah mengganggap bahwa akal tidak akan sanggup kecuali ada petunjuk naql atau nash. Sedangkan menurut faham Al-Maturidi bahwa akal manusia memiliki kekuatan menembus hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga memiliki keterbatasan. Namun golongan kedua bisa digabungkan dengan yang ketiga karena sama-sama mempreoritaskan pada kekuatan naql.<br />
Minhaj al-Fikr Aswaja dalam bidang akidah; a). menggunakan metode yang kondisional dalam membela akidah, b). bersikap tawqif, tanzih, dan tafwidh dalam masalah mutasyăbihăt, c). Tawassŭd dengan tidak me-nafi-kan sifat Allah dan tidak men-tasybih-kan-Nya dengan makhluk, d). memadukan aqal dan naql dengan mendahulukan naql apabila ada pertentangan antara keduanya. (Lihat Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 25)<br />
Minhaj al-Fikr Aswaja dalam bidang syari’ah menjadikan Al-Qur`an Hadits, Ijma’, dan qiyas sebagai rujukan dalam pemahaman keagamaan. Dalam artian bahwa rujukan tersebut harus diambil secara berurutan.. Dalil penggunaan sumber tersebut sebagaimana firman Allah;<br />
يا أيها الذين أمنوا أطيعوالله وأطيع الرسول واولى الأمر منكم فإن تنازعتم في شيئ فردوا إلى الله والرسول&#8230;</p>
<p>Artinya; Wahai orang yang beriman Taatlah kepada Allah, kepada Rasul dan pemerintah, maka apabila terjadi pertentangan dalam sesuatu maka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya…(an-Nisă’; 59)<br />
Ayat di atas yang dimaksud athĭ’ullăha merujuk kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) athĭ’urrasŭl (Al-Hadits) wa ulil amri (ijma’) fain tanăza’tum fi syai-in fa ruddŭhu ilaLlah (Qiyas).<br />
	 Aswaja  sebagai Minhaj al-Fikr dalam bidang tashawuh mengikuti thariqah Imam Abu Qosim al-Junaidi dimana ia bertujuan untuk mendapatkan ridla Allah dengan menempuh jalan memerangi hawa nafsu. Perbedaan secara materiil paham tashawuf Aswaja dengan lainnya dalam tingkatan (maqămah) , sedangkan secara materi paham Aswaja tidak menunjukkan paham yang ekstrim melampaui nash agama. (lihat Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004). Dengan demikian ketiga pola pikir tersebut menjadi kental dan menjadi identitas Minhaj al-Fikr Aswaja.<br />
D.	Aswaja dan Transformasi Sosial<br />
Aswaja dalam penerapan ajarannya sangat kondisional dengan lingkungan, sehingga terjadi akulturasi dengan kultur dan sosial masyarakat sekitarnya. Tentunya hal ini berawal dari pemahaman Aswaja terhadap Agama yang fithri, suatu agama yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki oleh manusia.(Lihat Kacung Marijan; 1992; 195). Lenturnya Aswaja dengan lingkungan masyarakat menjadikan Aswaja dinamis dan menjadi inspirasi umat karena responsif terhadap  segala permasalahan umat. Tentunya hal ini tidak terlepas dari pemahaman Aswaja yang tidak ekstrim (moderat).<br />
Aswaja selalu berada pada posisi di tengah dan mengayomi semua golongan yang menitik beratkan pada penyelesaian dialogis. Dengan banyaknya kasus aliran baru, Aswaja mengambil langkah persuatif dengan komunikasi yang santun sebagaimana disampaikan Ali Maschan Musa. “kepada para pembawa ajaran menyimpang sudah sepatutnya untuk dilakukan pendekatan secara intensif. Jangan sampai mereka dibiarkan apalagi dimusui sehingga menyebarkan ajarannya tanpa dapat dicegah. Sudah waktunya mereka diajak bicara agar kita tahu argumentasinya. (Majalah AULA; 2005; 89).<br />
Dalam masalah kebangsaan Aswaja mengajarkan kecintaan kepada negara secara utuh dengan landasan Hubbul Wathan minal Iman, bahkan demi terciptanya negara yang kondusif oleh semua golongan. “Aswaja tidak menginginkan terbentuknya negara Islam legal-formalistik, tetapi ummat Islam wajib hukumnya untuk mendirikan suatu `negara`. Tipologi masa Rasulullah Saw., berikut Khulafaurrasyidĭn merupakan acuan utama  dalam berpolitik dan bernegara. (Tim Pimpinan Pusat LPM-NU; 2004; 45).<br />
Dengan demikian menjadi jelas bahwa Aswaja sangat responsif terhadap transpromasi sosial, dengan memberi solusi secara persuasif dan moderat serta memposisikan duduk sama rendah berdiri sama tinggi di tengah-tengah komunitas umat yang heterogen dalam upaya terciptanya Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafŭr.<br />
DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Kacung Marijan, 1992, Quo Vadis NU; Setelah Kembali ke Khittah 1926, Jakarta, Erlangga<br />
Majalah AULA No. 10 Tahun XXVII Oktober 2005<br />
Martin Van Bruinessen, 1994, NU, Tradisi, Relsi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, yogyakarta, LkiS<br />
Sirajuddin ‘Abbas, 1983,  I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama;ah, Jakarta, Pustaka Tarbiyah<br />
Tim LP. Ma’arif Kraksaan, 2007, Pendidikan Aswaja dan Ke-NU-an kelas VI, Probolinggo, PC-LPM-NU Kraksaan<br />
Tim Pimpinan Pusat LPM-NU, 2004, Nahdlatul Ulama Ideologi Garis Politik dan Cita-cita Pembentukan Umat, Jakarta<br />
Zamakhsyari Dhofier, 1994, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta, LP3ES<br />
Disampaikan dalam diskusi OSPAM BEM-IAINJ tanggal 05 September 2007</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=16&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/eksistensi-%e2%80%9caswaja%e2%80%9d-dan-perkembangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESEHATAN DALAM PERSEPEKTIF ISLAM</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/kesehatan-dalam-persepektif-islam/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/kesehatan-dalam-persepektif-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:13:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[A. Muqaddimah Ajaran langit (Islam) telah dibumikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw., untuk disebar-luaskan kepada segenap umat manusia agar meraka bisa hidup tentram, damai dan hasanah di dunia juga hasanah di akhirat. Untuk mencapai kedua hasanah tersebut manusia yang dimuliakan oleh Allah swt karena diberi akal supaya berfikir dan agar mencari ilmu untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=13&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Muqaddimah<br />
Ajaran langit (Islam) telah dibumikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw., untuk disebar-luaskan kepada segenap umat manusia agar meraka bisa hidup tentram, damai dan hasanah di dunia juga hasanah di akhirat. Untuk mencapai kedua hasanah  tersebut manusia yang dimuliakan oleh Allah swt karena diberi akal supaya berfikir dan agar mencari ilmu untuk mencapai kemashlahatanya.<br />
Dengan ilmu yang diaplikasikan, manusia akan menjadi makhluk yang &#8220;sempurna&#8221;. Beberapa disiplin ilmu-ilmu yang manusia kenal adalah ciptaannya.    Imam Syafi&#8217;ie pernah mengatakan sehubungan dengan masalah ilmu, &#8220;Ilmu itu hanya ada dua; ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu agama adalah ilmu fiqih, sementara ilmu dunia adalah ilmu kedokteran (kesehatan).  <span id="more-13"></span><br />
Dengan mendalami ilmu fiqih dan ilmu kesehatan maka manusia akan mencapai derajat yang tinggi baik dilihat dari aspek langit maupun bumi, sehingga kesehatan memegang peranan yang sangat urgen apabila dilihat dari fungsi dan manfaatnya.<br />
B.	Menjaga Kesehatan<br />
Sebagaimana kita sering dengar motto yang sering silontarkan oleh para medis bahwa &#8220;mencegah lebih baik dari pada mengobati&#8221;. Artinya bahwa pencegahan prefentif dalam kesehatan menjadi keniscayaan bagi manusia khususnya umat Islam apabila umat Islam benar-benar menyadari ajaran agamanya. Bukanlah ajaran Islam sangat kooperatif dengan pencegahan penyakit sebelum virus itu menyebar luas untuk membunuh manusia?<br />
Nabi telah bersabda: (النظافة من الإيمان) &#8221; kebersihan itu adalah sebagian dari iman&#8221; (Al-Hadits). Dari hadits yang singkat padat ini bagaimana Islam mengajak umat manusia secara prefentif untuk mencegah timbulnya penyakit dengan membiasakan hidup bersih. Budaya bersih mestinya menjadi jargon utama Islam karena disamping telah dianjurkan oleh norma-norma agama juga berimplikasi kepada kemashlahatan umat.<br />
Dalam maqalah lain disebutkan (إن الله جميل يحب الجمال) &#8220;Allah adalah indah (bersih) Dia mencintai keindahan (kebersihan). Dari dua konteks di atas nampaknya ajaran Islam sangat memperhatikan bagaimana manusia sehat dan menjaga untuk menghindari dari penyakit, sehingga tidak tanggung-tanggung bahwa nilai kebersihan sebagai awal dari hidup sehat dikaitkan dengan masalah keimanan yang menjadi ajaran paling pokok dalam Islam, karena iman merupakan ajaran yang pertama dan utama bagi manusia sebelum melaksanakan ajaran lainnya.<br />
Islam menjelaskan kesehatan dari dua aspek; yaitu jasmani dan rohani. Orang alim ahli hikmah pernah mengatakan bahwa kesehatan jasmani akan berimplikasi kepada kesehatan rohani, (العفل السالم فى الجسم السالم) &#8220;akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat&#8221;, atau disebut dengan &#8220;Men sana in Carpore sano&#8221;. Kesehatan jasmani akan memberi pengaruh terhadap kesehatan jiwa. Bagaimana Nabi telah melarang seorang hakim memutuskan perkara pengadilan apabila si hakim dalam kondisi yang kurang sehat. Hal ini bisa dirasakan pada diri kita sendiri ketika kita sakit gigi, maka tentunya jiwa kita akan kalut dan akal kita cenderung untuk tidak stabil dan labil.<br />
C.	Penyebab Penyakit<br />
Romantika kehidupan merupakan sunnatullah, yaitu di setting oleh Allah, termasuk diantaranya masalah penyakit dan kesehatan. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menceritakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada Allah swt./ &#8220;Ya Allah dari manakah penyakit? Allah menjawab, Dari Ku. Dari siapakah datangnya obat? Juga dari Ku. Lalu apakah status dokter (Bidan, perawat juga praktisi kesehatan)? Allah swt menjelaskan, dia orang yang menjadi perantara  obat dari-Ku.&#8221;<br />
Penyakit, obat dan perantara pengobatannya merupakan hak preogratif Allah swt.. Namun walau demikian manusia yang diberi akal untuk berikhtiar memilih jalan yang terbaik untuk hidupnya, dan apabila manusia memilih jalan terbaik sesuai anjuran agama maka ia akan mendapat reward berupa pahala dari Allah swt. Apabila manusia memilih yang jelek maka dia akan menerima punishment-dari-Nya.<br />
Selanjutnya Allah berfirman :   (وما أصابكم من مصيبة فبماكسبت أيديكم..)<br />
Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri… </p>
<p>Berpijak dari uraian di atas bahwa Allah memberi kebebasan seluas-luasnya kepada manusia untuk memilih pilihan hidup masing-masing individu, sehingga konsekwensinya ia akan menerima balasan sesuai dengan hasil usahanya, termasuk bagi orang yang tidak menjaga kebersihan akan menghasilkan virus-virus penyakit yang akan berakibat fatal bagi komunitas sekitarnya.<br />
D.	Pahlawan Tanpa Tanda Jasa<br />
Para bidan dan keperawatan sebagai petugas jasa dalam kesehatan umat memegang peranan yang sangat vital dalam menata keberlangsungan hidup manusia. Dengan pertolongan merekalah manusia bisa eksis hidup di dunia fana ini. Dalam konteks Islam, bahwa Allah telah mengapresiasi para bidan, keperawatan dan para medis lainnya sebagai pahlawan yang paling utama. Allah swt berfirman;<br />
من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعا. ومن أحيا فكأنما أحيا الناس جميعا.<br />
Artinya : Barang siapa membunuh jiwa  (manusia) tanpa alasan yang haq atau berbuat kerusakan di bumi di bumi, maka (dosa yang akan ditimpakan kepadanya) seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya (sedunia). Dan barang siapa yang &#8220;menghidupkan&#8221; (membantu keselamatan hidupnya (jiwanya), maka seakan-akan dia telah &#8220;menghidupkan&#8221; (membantu menyelamatkan manusia seluruhnya (sedunia).  </p>
<p>Dari konteks ayat di atas, betapa Allah telah memberi kemuliaan yang tidak terhingga nilainya kepada para bidan, perawat dan praktisi kesehatan lainnya. Seorang bidan atau perawat yang telah membantu mengobati pasiennya ia diberi pahala seakan-akan dia menyembuhkan manusia seluruhnya, begitu juga sebaliknya.<br />
Tentunya menjadi sangat pantas apabila bidan, perawat dan praktisi kesehatan lainnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Hal ini bukan tanpa alasan, namun karena mereka selama 24 jam telah mengabdikan hidupnya semata-mata memberi kemanfaatan kepada masyarakat berupa kesehatan yang menjadi dambaan setiap insan. Dia harus siap melayani masyarakat dimana dan kapan saja tidak mengenal tempat dan waktu.<br />
E.	Ikhtitam<br />
Pada hakikatnya masalah kesehatan telah banyak dipaparkan dari dua sumber utama Islam, yaitu Al-Qur&#8217;an dan Al-Hadits. Sebagai seorang muslim yang beriman tentunya tidak mungkin untuk tidak mengamalkan segala anjurannya apalagi sampai bertentangan dengannya.<br />
Kesenangan Allah terhadap kebersihan dan penyamaan kebersihan dengan iman merupakan hal yang sangat penting artinya, sehingga manusia yang masih bersih akal sehatnya akan melakukan segala apa yang disenangi oleh Tuhannya, sebagaimana karyawan dengan suka rela melakukan segala apa saja yang diperintahkan dan kebahagiakan Bosnya.<br />
Tentunya kebersihan yang disenangi Allah dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad panutan umat manusia, merupakan keniscayaan untuk diaplikasikan oleh umat manusia sebagai makhluk-Nya. Dengan menjaga kebersihan berarti ia telah membentuk lingkungan yang sehat, apabila tercipta lingkungan yang sehat maka ia akan terbebas dari virus-virus penyakit yang akan menerkam kehidupan manusia.<br />
Dengan demikian marilah kita ibda&#8217; bi nafsik dengan mulai anjuran agama berupa pencegahan penyakit dengan menjaga kebersihan pada individu masing-masing sehingga pada akhirnya akan membentuk komunitas yang sehat, baik sehat jasmaninya maupun sehat rohaninya. Semoga kita umat Islam khususnya mahasiswa-mahasiswi  Keperawatan dan Kebidanan bisa mengaplikasikan ilmunya kepada dunia nyata, dan mewujudkan hidup ini dengan motto &#8220;Beramal Ilmiah dan Berilmu Amaliah&#8221;, juga &#8220;Bersih itu Sehat dan Cerdas&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=13&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/kesehatan-dalam-persepektif-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>”Jadilah Pemimpin ala Lebah”</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/%e2%80%9djadilah-pemimpin-ala-lebah%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/%e2%80%9djadilah-pemimpin-ala-lebah%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 08:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Dalam surat Al-Baqarah: 30 Allah berfirman ”&#8230;sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang pemimpin di muka bumi…”. Dalam firman tersebut Allah akan menjadikan pemimpin untuk mengurusi jagat alam raya. Kepemimpin menjadi keniscayaan untuk mengelola segala bentuk instansi baik secara individual maupun secara ‘ammah. Disamping Al-Qur’an menjelaskan tentang kepemimpinan, dalam hadits juga Nabi menjelaskan bahwa setiap “individu adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=10&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam surat Al-Baqarah: 30 Allah berfirman ”&#8230;sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang pemimpin di muka bumi…”. Dalam firman tersebut Allah akan menjadikan pemimpin untuk mengurusi jagat alam raya. Kepemimpin menjadi keniscayaan untuk mengelola segala bentuk instansi baik secara individual maupun secara ‘ammah. Disamping Al-Qur’an menjelaskan tentang kepemimpinan, dalam hadits juga Nabi menjelaskan bahwa setiap “individu adalah sebagai pemimpin dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya” (Bukhori: 2232).<span id="more-10"></span><br />
Betapa pentingnya sebuah kepemimpinan sehingga banyak disebut dalam dua sumber utama umat Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Disamping itu dalam Al-Qur’an juga banyak dicontohkan beberapa pemimpin yang sukses dan juga yang tidak sukses. Berangkat dari itu semua mengapa manusia tidak mau berpijak pada sumber utama sehingga kepemimpinan saat ini baik secara individual maupun secara ‘am sangat jauh dari nilai-nilai relegius yang mestinya kita banggakan. Tidak malukah manusia terhadap binatang Lebah (tawon) yang memiliki organisasi yang solid sehingga tertata rapi dalam kepemimpinannya?<br />
Beberapa pendapat menyebutkan bahwa dalam satu sarang komunitas lebah mencapai 40.000-60.000 dan ada yang berpendapat antara 25.000 – 100.000 anggota (ekor). Setiap lebah (tawon) memiliki tugas masing-masing dalam sarangnya. (Hasnain Walji, Ph.D, 2001;3). Dari puluhan ribu lebah pekerja hanya diketuai oleh satu ratu yang dijaga ketat dari marabahaya oleh anggotanya yang ditugaskan untuk melindunginya. Sementara yang lainnya bekerja sesuai posnya masing-masing.<br />
Lebah-lebah pekerja bertugas mencari sari-sari bunga (nectar) dengan menggunakan lidah panjangnya yang berbentuk seperti tabung. Lebah-lebah ini sangat selektif memilih bunga, dimana mereka mengambil nectar-nya dan bisa berkeliling hingga dua mil jauhnya hanya untuk mencari bunga yang tepat. Mereka umumnya tertarik dengan warna (lebih suka warna kuning dan biru) dan bau bunga tersebut. (Ibid;7)<br />
Lebah (tawon) merupakan hewan yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Nabi Muhammad pernah bersabda “madu merupakan obat dari segala penyakit (Al-Hadits).  Dalam surat An-Nahl: 69 Allah berfirman, “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Disamping madu sangat bermanfaat, serbuk lebah juga mengandung manfaat yang luar biasa. Menurut Dr. Lunden bahwa serbuk lebah memiliki kandungan thiamine, riboflavin, asam nikotin, pyridoxine, asam panthotenic, biotin, asam foli,dan vitamin B 12. (Lunden, 1954)<br />
Berpijak dari uraian di atas betapa hebatnya binatang lebah yang bisa mengorganisir sebegitu rapinya dan menghasilkan yang terbaik bagi makhluk yang lainnya. Tentunya kehidupan lebah akan menjadi inspirasi tersendiri bagi umat manusia sebagai makhluk yang berakal dan untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Paling tidak ada tiga hal yang bisa dicermati dalam kehidupan lebah bagi kehidupan manusia.<br />
Pertama,  Soliditas dan manajemen keorganisasian Lebah menjadi modal utama untuk diaplikasikan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman yang sengaja dikelola oleh dunia Barat yang menginginkan kehancuran Islam. Ratu Lebah bisa memimpin puluhan ribu bahkan ratusan ribu Lebah lainnya dalam satu komunitas. Ratu Lebah membagi tugas lebah-lebah lainnya dengan tugas yang berbeda-beda baik dari aspek Hankam, pembangunan,dan ekonomi yang meliputi pengadaan bahan dan pencari sari-sari bunga. Mereka merupakan Team Work yang solid bekerja sesuai bidang-nya masing-masing. Ratu Lebah sebagai pemimpin tunggal telah menerapkan unsur-unsur manajemen dalam kepemimpinannya. Menurut As-Sayyid al-Hawary unsur-unsur manajemen meliputi “Planning (التخطيط), Organising (التتظيم), Commanding (إصدارالأوامر), Coordinating (التنسيق), Controlling (الرقابة) (ِAs-Sayyid Mahmud al-Hawary, 1976, Cet., III;542). Apabila kepemimpinan umat Islam bisa mengadopsi keorganisasian Lebah tidak heran lagi bila umat Islam akan maju dan solid memegang Ukhuwah Islamiyah. Hal ini sangat beralasan karena Lebah memiliki manajemen yang aplikatif, pekerja keras, tunduk kepada pimpinannya, amanah sesuai tugas yang diembannya.<br />
Kedua, binatang Lebah mengkonsumsi sari-sari bunga yang terbaik walaupun ia setiap harinya harus mencari sari-sari itu sampai sejauh 2 mil. Bagaimana seorang muslim dalam mencari nafkah benar-benar mencari sari-sari bunga yang bersih (harta yang halal) walaupun harus melalui perjalanan panjang. Seorang muslim harus memilih hidup terhormat walau melarat dengan mengkonsumsi barang yang halal. Kuantitas harta benda bukan menjadi tujuan tetapi bagaimana kualitas harta benda menjadi pilihan umat Islam, karena dengan kualitas itu manusia akan hidup layak dan hiudp barakah. Dalam pepatah “Berakit-rakit kehulu berenang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”  Hatta Yaumal Akhirah.<br />
Ketiga, dengan mengkonsumsi sari-sari bunga (harta yang halal) maka menjadi keniscayaan apabila ia akan menhasilkan sesuatu yang terbaik dan akan memberi manfaat bagi orang lain, sehinga dengan mengkonsumsi barang yang halal dia akan bersikap dengan “huluqun karim” yang tercipta dari makanan yang halal, tentunya hal ini yang menjadi idaman setiap insan.sebagaimana disabdakan “paling baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain (خيرالناس أنفعهم للناس) sebagaimana madu merupakan hasil karya lebah yang sangat bermanfaat bagi makhluk lain.<br />
Dari tiga hal ini bagaimana seorang muslim bisa ibda’ bi nafsik dengan mengambil suri tauladan dari kehidupan lebah yang rapi dalam bidang organisasinya, mengkonsumsi makanan yang terbaik (halal) dan tentunya akan memberi manfaat bukan hanya pada dirinya tetapi kepada makhluk lainnya. Sebagaimana Para ‘Alim, para Wali termasuk Wali Songo yang sampai sekarang bermanfaat bagi umat Islam baik yang berziarah ke Maqbarah-nya, Pemilik kendaraan yang disewanya, asset daerah yang ditempatinya, termasuk masyarakat sekitarnya yang berjualan mencari nafkah untuk jalan hidupnya. Semoga umat Islam akan menjadi pemimpin ala “Lebah” sehingga menjadi manusia yang bermanfaat dan menjadi Rahmatan lil ‘Alamin. Amin.  (Majalah Missi SMU NJ 2008)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=10&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/%e2%80%9djadilah-pemimpin-ala-lebah%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesantren dan Globalisasi</title>
		<link>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pesantren-dan-globalisasi/</link>
		<comments>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pesantren-dan-globalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hefniy</dc:creator>
				<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hefniy.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[A. Globalisasi dan dampaknya Kehidupan manusia yang pada awalnya terpisah antara budaya satu dengan lainnya, antar daerah dan terskat-skat oleh negara, kini dengan mudahnya skat-skat yang dulu kokoh sudah melebur tanpa batas. Pengembangan ekonomi, sosial, seni, budaya, politik antar negara bisa masuk dengan mudahnya. Itulah globalisasi dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan zona, sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=7&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Globalisasi dan dampaknya<br />
Kehidupan manusia yang pada awalnya terpisah antara  budaya satu dengan lainnya, antar daerah dan terskat-skat oleh negara, kini dengan mudahnya skat-skat yang dulu kokoh sudah melebur tanpa batas. Pengembangan ekonomi, sosial, seni, budaya, politik antar negara bisa masuk  dengan mudahnya. Itulah globalisasi dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan zona, sehingga &#8220;transparansi&#8221; menjadi keniscayaan.<br />
Dulu pepatah mengatakan “dunia tidak selebar daun kelor” maksudnya bahwa dunia itu sangat luas sulit terjangkau, sehingga untuk mengetahui situasi dan kondisi di Mekkah saja orang harus naik haji ke Baitullah. Bagi yang ingin mengetahui keadaan Amerika ia harus berkunjung ke negeri Paman Sam.  Kini pepatah itu dengan sendirinya di-nasakh menjadi “dunia selebar daun kelor. Artinya saat ini manusia  dengan mudahnya bisa mengakses segala keadaan suatu negara di ujung paling Barat-pun, bahkan suatu kejadian di suatu negara satu menit yang lalu sudah bisa di akses dengan menggunakan telepon seluler atau media elektronik lainnya.<br />
Tidak adanya pembatas antara satu negara dengan negara lainnya menjadikan arus informasi tidak bisa difilter lagi masuk ke lorong-lorong kecil, gang-gang sempit, bahkan pelosok pedalaman sekalipun. Tentunya hal ini pada satu sisi akan berdampak posisitf  karena perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan dengan mudahnya bisa tersosialisasi dengan sangat mudah kepada masyarakat luas. Namun pada sisi yang lain juga berdampak negatif terutama yang menyangkut moralitas manusia yang akan semakin bobrok, karena dengan sangat mudahnya orang akan meniru budaya dan prilaku yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam.<br />
<span id="more-7"></span><br />
Arus budaya Barat yang mengalir dengan derasnya melalui media televisi menjadi suguhan rutin bagi anak kecil, remaja, orang tua, tokoh-tokoh masyarakat bahkan kiai sekalipun. Bagi anak kecil dan remaja akan mudah untuk mengapresiasikan apa yang mereka lihat, baik dari segi pakaian, tingkah-laku dan gaya hidup yang ingin mewah dan hedonis. Bagi orang tua juga akan terbawa oleh kultur-kultur non Islam yang sengaja di-setting untuk menghancurkan nilai-nilai akhlakul karimah, sehingga mereka terkikis oleh nilai-nilai tersebut. Bagi tokoh masyarakat dan &#8220;kiai&#8221; paling tidak mereka yang dulunya ruhul jihad-nya sangat kuat menentang hal-hal yang berbeda dengan nilai-nilai relegius kini menjadi &#8220;moderat&#8221; dan menyaksikan budaya-budaya Barat melalui media bahkan &#8220;memberi permakluman&#8221; terhadap tayangan-tayangan yang jelas-jelas mengkikis norma-norma agama.<br />
Suatu ketika almarhum KH. Hasan Abdul Wafi pernah dawuh &#8220;sekarang orang-orang perempuan yang telanjang tiap saat dengan mudah dan bebasnya bisa keluar masuk ke rumah-rumah kiai, yaitu melalui media televisi.&#8221; Apa yang beliau sampaikan memang memprihatinkan karena sangat tipis perbedaan antara orang yang telanjang bedeneran dengan tayangan televisi yang sering berpakaian tidak senonoh. Menurut pandangan beliau hal ini sangat ironis sehingga selama hidupnya beliau tidak pernah melihat TV dan bahkan melarang-putra-putrinya memiliki Televisi. Hal ini merupakan jihad beliau dalam memfilter westernisasi yang semakin menjadi-jadi untuk menghancurkan moralitas manusia khususnya umat Islam.<br />
Moralitas manusia menjadi barometer kemajuan suatu bangsa secara hakiki. Karena bagaimanapun kemajuan di suatu negara tanpa di dasari akhlakul karimah maka pembangunan akan sia-sia. Kemajuan dalam bidang knowledge dan skill-nya merupakan harapan setiap insan, namun tanpa didasari oleh ahkhlakul karimah maka akan menjadi bumerang, sehingga kemampuan apapun yang diperoleh oleh perkembangan jaman akan digunakan untuk berma&#8217;syiat kepada Allah SWT. Realitas di masyarakat, orang yang tidak berilmu ia bisa mencuri seekor ayam lalu dijebloskan ke tahanan dan di dera sekitar 2-3 tahun. Sementara dengan kepandaiannya seorang pejabat bisa mencuri uang rakyat milyaran bahkan trilyunan dan hebatnya selang beberapa hari saja ia bisa menghirup alam bebas. Inilah kepandaian yang sistematis baik pelaku, jaksa, dan pihak keamanannya, sehingga pada sisi yang lain ia sangat mudah untuk melakukan NKK (Nepotisme, Kolusi, Korupsi) dan kema&#8217;syiatan lain. Begitu juga kema&#8217;syiatan  berupa kesopanan sikap, cara berpakaian yang dengan mudah mengikuti tren-tren di televisi yang tentunya telah melanggar syari&#8217;at Allah.</p>
<p>B.	Pesantren yang Realistik<br />
Pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan Islam tertua dan eksis dalam setiap pergantian masa menjadi sangat urgen untuk memegang peran dalam menanamkan tatanan kehidupan yang islami.  Filterisasi budaya Barat menjadi keniscayaan untuk selalu diupayakan. Adanya filterisasi tersebut tidak sertamerta dengan menutup mata terhadap perkembangan zaman dan suguhan media informasi yang sulit dibendung. Atau dengan uzlah hidup di tempat pedalaman yang jauh dari keramaian sebagaimana pada saat kejayaan sufisme klasik tempo dulu. Tentunya pesantren harus pro aktif melakukan upaya-upaya konstruktif dengan meminimalisir bahkan mencegah arus globalisasi yang lebih cenderung kepada mafsadah.<br />
Dalam bidang keilmuan diniyah, pesantren telah cukup untuk memenuhi kebutuhan relegius bagi umat Islam. Pesantren dengan konsisten tetap eksis dalam kesehariannya membahas nilai-nilai keagamaan dari sekedar furudul ainiyah-nya juga dari pemikiran keagamaan baik secara tekstual maupun kontekstual. Artinya secara konseptual keagamaan seluruh pesantren telah ikut andil dalam mentransfer keilmuannya dibidang diniyah. Hal ini merupakan nilai positif pesantren dalam mensosialisasi pemahaman relegius.<br />
Dalam perspektif yang lain semestinya pesantren tidak hanya berkutat pada sosialisasi pemahaman diniyah-nya saja, namun lebih diharapkan pada aplikasi dari pemahamannya. Sehingga ada istilah &#8220;ilmu yang bermanfaat&#8221;, maksudnya ilmu dari hasil pemahaman tersebut harus direfleksikan pada kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari pemahaman agama nampaknya sangat lemah yang dilakukan oleh pesantren, sehingga alumni pesantren lebih banyak pandai terhadap teoritisnya tapi sangat  kering dari pengamalannya.<br />
Tentunya kedepan pesantren harus lebih mengintegralkan antara konsep diniyah dan realitas, sehingga konsep diniyahnya yang melangit menjadi relaistis dan membumi. Hal ini harus dimulai oleh top figur di pesantren (dari jajaran pengasuh, pengurus, asatidz dan pengurus struktural pada tingkatan terendahpun), untuk merealisasi ajaran agamanya. Contoh paling sederhana bagaimana komunitas pesantren membiasakan ubudiayah, berpakaian, bertutur kata dengan akhlakul karimah yang telah dicontohkan oleh Nabi sebagai panutan umat manusia, karena hanya Nabi yang pantas menjadi idola umat Islam. Hal ini perlu Ibda&#8217; bi nafsik dari masing-masing individu sehingga umat Islam akan bisa &#8220;Beramal Ilmiah Berilmu Amaliah. Wallahu A&#8217;lam. (dalam Bulletin Duniyah Nurul Jadid Juli 2008)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hefniy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hefniy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hefniy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hefniy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hefniy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hefniy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hefniy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hefniy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hefniy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hefniy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hefniy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hefniy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hefniy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hefniy.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hefniy.wordpress.com&amp;blog=5082419&amp;post=7&amp;subd=hefniy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hefniy.wordpress.com/2008/10/06/pesantren-dan-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6fce09e952434f859d658728761b0e14?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hefniy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
