KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH

6 10 2008

Abstrak : Kepala Madrasah sebagai pimpinan tertinggi di suatu lembaga, memiliki peranan yang sangat vital dalam pengelolaan lembaga pendidikan, karena maju mundurnya lembaga berada dibawah tangung jawabnya.. Adanya kreatifitas kepala madrasah menjadi keniscayaan sehingga ia mampu memanej organisasi madrasah dengan baik dan benar. Implikasinya berupa keberhasilan secara menyeluruh, yaitu berupa out put dan adanya sinergitas dalam lingkungan pendidikan. Baik sinergitas seluruh tenaga edukasi dan karyawan, peserta didik, dan lingkungan masyarakatnya.

A. Pendahuluan
Pada umumnya kepala sekolah memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dibidang pengajaran dan pengembangan kurikulum, administrasi kesiswaan, administrasi personalia staf, hubungan masyarakat, administrasi school plant, perlengkapan dan oraganisasi sekolah .
Cara kerja kepala sekolah dan cara ia memandang peranannya dipengaruhi oleh kepribadiannya, persiapan dan pengalaman profesionalnya, dan ketetapan yang dibuat oleh sekolah mengenai peranannya kepala sekolah dibidang pengajaran. Pelayanan pendidikan dalam dinas bagi administrasi sekolah dapat memperjelas harapan-harapan atas peranan kepala sekolah.
B. Kepemimpinan dalam Perspektif Pendidikan Madrasah
1. Kepemimpinan
a. Pengertian Kepemimpinan
Istilah kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang artinya bimbing atau tuntun . Dari kata kerja pimpin lahirlah kata kerja memimpin dan kata benda pemimpin. Kemudian timbullah kata “kepemimpinan” . Adapun istilah pemimpin dalam bahasa Inggris adalah leader dan kepemimpinan dari kata leadership.
Beberapa peneliti men-definisikan kepemimpinan sesuai dengan perspektif individual dan aspek lain sebagaimana dikatakan oleh Stogdill;
Researchers usually define leadership according to their individual perspectives and the aspects of the phenomenon of most interest to them.After acomprehensive review of the leadership literature
D. Katz & Khan mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut;
Leadership is the influential increment over and above mechanical compliance with the routine directives of the organization
Sedangkan Jacobs & Behling mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut:
Leadership is a process of giving purpose (meaningful direction) to collective effort, and causing willing effort to be expended to achieve purpose
Kebanyakan definisi mengenai kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang disengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.Dalam memanej tersebut, kelompok bisa bekerja sama sesuai job masing-masing sehingga tercapai tujuannya.
b. Pendekatan dalam Kepemimpinan
Hampir seluruh penelitian kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat macam pendekatan;
1) Pendekatan pengaruh kewibawaan (power influence approach)
Pendekatan ini, dikatakan bahwa keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaaan yang ada pada para pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan terhadap bawahan.
2) Pendekatan sifat (trait approach)
Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin yang energik, intuisi yang tajam, pikiran kedepan, dan menarik.
3) Pendekatan perilaku (behavior approach)
Pendekatan ini menekankan pentingnya perilaku yang dapat diamati atau yang dilakukan oleh para pemimpin dari sifat-sifat pribadi atau sumber kewibawaan yang dimilikinya.
4) Pendekatan kontigensi (Continegency approach)
Pendekatan ini menekankan pada ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional .
Dari keempat model pendekatan tersebut, maka pendekatan kontigensi nampaknya lebih kondusif, karena pemimpin bisa melaksanakan tugasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor situsional, sehingga lebih efektif melakukan tugasnya.
c. Keberhasilan Kepemimpinan
Keberhasilan kepemimpinan hakikatnya berkaitan dengan tingkat kepedulian seorang pemimpin terlibat terhadap kedua orientasi , yaitu; 1) Apa yang telah dicapai oleh organisasi (organizational achievement) yaitu mencakup; produksi, pendanaan, kemampuan adaptasi dengan program-program inovarif dan sebagainya, 2) pembinaan terhadap organisasi (organizational maintenance), berkaitan dengan variable kepuasan bawahan, motivasi dan semangat kerja.
Untuk mengetahui keberhasilan kepemimpinan seseorang dengan melalui dua pendekatan, yaitu:
1) Organizational achievement
Keberhasilan pemimpin dapat dikaji dengan; a) pengamatan terhadap produk yang dihasilkan oleh proses transformasi kepemimpinan, seperti; penampilan kelompok, tercapainya tujuan, pertumbuhan, kemajuan, kepuasan bawahan, bawahan bertanggung jawab, kesejahteraan, dukungan penuh terhadap pimpinan, b) Dari hasil berupa , pertumbuhan keuntungan, batas minimal keuangan, peningkatan, penyebaran, target, produktifitas, segala bentuk biaya.
2) Organizational maintenance
Ada aspek lain untuk mengetahui keberhasilan kepemimpinan melalui pengamatan sikap, yaitu sikap bawahan terhadap atasan diantaranya; kepuasan bawahan, menghargai dan kekaguman terhadap pimpinan, melaksanakan tugas sesuai yang diinginkan. untuk mengetahui bisa dengan questionnaire atau interview atau dengan cara lain berupa absensi, pergantian mendadak, keluhan, pengaduan papa yang lebih atas, permintaan pindah, kemunduran, pemogokan, sabotase dan lainnya.
d. Memperbaiki Kepemimpinan
Ada tiga pendekatan untuk memperbaiki kepemimpinan;
1) Seleksi (selection)
Apabila terjadi jabatan kepemimpinan yang kosong perlu adanya seleksi untuk mengisi jabatan tersebut. Penyeleksian dengan melalui beberapa prosedur diantaranya; menganalisis cirri-ciri jabatan yang kosong, tes terhadap kandidat, keberhasilan kandidat dan lain-lain.
2) Pelatihan (training)
Pelatihan merupakan metode yang paling banyak dipakai untuk memperbaiki kepemimpinan. Ada tiga keterampilan melalui pelatihan; 1) keterampilan pengelolaan (managerial skills), 2) Pengetahuan teknis (technical knowledge) yaitu pelatihan khusus untuk pengembangan proses belajar, seperti; programmed text book, teaching machine, computeraided instruction, equipment simulators, videotaped demonstrations, 3) keterampilan konseptual (conceptual skills) seperti permainan kasus dan bisnis secara meluas dipakai sebagai metode pelengkap untuk keterampilan belajar tenang; analisis persoalan, forecasting, planning, pengambilan keputusan juga tenik mengembangkan gagasan.
3) Rekayasa situasi (situational engineering)
Dalam pendekatan ini situasi diubah untuk ebih dapat bersaing dengan pemimpin, misalnya perubahan yang terdapat di dalam organisasi unit kerja, seperti peningkatan atau merosotnya otoritas pemimpin, peningkatan atau merosotnya tentang kendali pemimpin
2. Sejarah Madrasah
Keberadaan madrasah dan pondok pesantren pada awalnya adalah bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Para ahli sejarah dan intelektual muslim masih ikhtilaf tentang kapan masuknya Islam ke Indonesia. namun sekurang-kurangnya sejak abad ke 15 sudah terdapat bentuk pesantren di Jawa yang didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, ini menunjukkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.
Perkembangan dari pesantren ke madrasah muncul pada awal abad ke-20, sebagai akibat dari perasaan kurang puas terhadap sistem pesantren yang terlalu sempit dan terbatas pada pengajaran ilmu-ilmu fard ain. Paling tidak ada dua hal yang melatar belakangi tumbuhnya system madrasah di Indonesia, 1) faktor pembaharuan Islam, 2) respon terhadap politik pendidikan Hindia Belanda.
Pengertian dari arti istilah madrasah sebagaimana terdapat di dalam peraturan pemerintah dan keputusan menteri agama serta menteri dalam negeri yang mengatur tentang madrasah, yaitu bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang di dalam kurikulumnya memuat materi pelajaran agama dan pelajaran umum, dimana mata pelajaran agama lebih banyak ketimbang umum.
Madrasah dalam dekade terakhir abad XX merupakann lembaga pendidikan altrnatif bagi para orang tua untuk menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan bagi putra-putrinya. Bahkan ada beberapa daerah tertentu jumlah madrasah meningkat cukup signifikan.
Perkembangan madrasah bila kita lihat pada awal pertumbuhannya dimotivasi oleh situasi tertentu yang mengkondisikan madrasah itu tumbuh dengan dimotori oleh perseorangan atau lembaga swasta tertentu, hingga pada perkembangannya dibina langsung oleh pemerintah.
Pembinaan madrasah oleh pemerintah pada akhir-akhir ini lebih tampak tergambar dalam kegiatan dan usaha peningkatan mutu yang bertitik tolak dari peraturan perundang-undangan.
Institusi Madrasah bila dilihat dari segi kelembagaan dalam peraturan perundang-undangan yaitu Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 1990, yang menyatakan bahwa: “sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama yang berciri has agama Islam yang diselenggarakan oleh Departemen Agama masing-masing disebut Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah” .
C. Eksistensi Kepemimpinan Kepala Madrasah
1. Kedudukan Kepemimpinan Kepala
Dalam praktek organisasi kata memimpin. mengandung konotasi: menggerakkan, mengarahkan, membimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan, memberikan bantuan, dan sebagainya.
Betapa banyak variable arti yang terkandung dari kata memimpin memberikan indikasi betapa luas tugas dan peranan kepala Madrasah Aliyah (sebagaimana sekolah secara umum), sebagai seorang pemimpin sebuah organisasi yang bersifat kompleks dan unik.
a) Sebagai pejabat formal
Didalam suatu organisasi kepemimpinan terjadi melalu dua bentuk, yaitu kepemimpinan formal (formal leadership) dan kepemimpinan informal (informal leadership). Kepemimpinan formal terjadi apabila dilingkungan organisasi jabatan otoritas formal dalam organisasi tersebut didisi oleh orang-orang yang ditunjuk atau dipilih melalui proses seleksi .
Kepala sekolah adalah jabatan pemimpin yang tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan. Oleh karena itu kepala sekolah pada hakikatnya adalah pejabat formal, sebab pengangkatannya melalui suatu proses dan prosedur yang didasarkan atas peraturan yang berlaku.
b) Sebagai manajer
Sebagai manajer kepala Madrasah/ sekolah harus matang dalam bidang manajemennya yaitu dengan adanya:
1) proses, yaitu merencanakan, dengan usaha memikirkan, merumuskan suatu program, tujuan dan tindakan yang harus dilakukan; mengorganisasikan, yaitu mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia dan sumber material sekolah, memimpin; yaitu mampu mengarahkan dan mempengaruhi seluruh sumber daya manusia untuk melakukan tugas-tugasnya yan esensial, mengendalikan, yaitu kepala sekolah memperoleh jaminan bahwa sekolah berjalan sampai tujuan.
2) Sumber daya sekolah, meliputi; dana, perlengkapan, informasi, maupun sumber daya manusia, yang masing-masing berfungsi sebagai pemikir, perencana, pelaku erta pendudukung untuk mencapai tujuan.
3) Mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
c) Sebagai seorang pemimpin
Kepala Madrasah/ sekolah sebagai pemimpin harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing. Disamping itu kepala sekolah harus bisa membimbing dan mengarahkan guru, staf dan para siswa serta memberikan motivasi memacu dan berdiri didepan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan .
Koonts memberikan pengertian tenang fungsi kepemimpinan (kepala sekolah) sebagai berikut;
The function of leadership, therefore, is to induce or persuade all subordinates of followers to contribute willingly to organizational goals in accordance with their maximum capability .
Mengacu dari kalimat di atas, agar bawahan dengan penuh kemauan serta sesuai dengan kemampuan secara maksimal berhasil mencapai tujuan organisasi, pemimpin harus mampu membujuk dan menyakinkan bawahan.
Dalam kepemimpinannya kepala sekolah harus bisa menggerakkan seluruh komunitasnya untuk berkompetisi memajukan lembaga, maka hendaknya kepala sekolah harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut;
1) Menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap para guru, staf dan para siswa.
2) Mampu melakukan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru, staf dan para siswa dengan cara; meyakinkan, yakni berusaha agar para guru, staf dan para siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar.
Disamping itu kepala sekolah sebagai pemimpin, menurut H.G. Hicks dan C.R. Gullet bahwa kepala sekolah harus melakukan peranan atau fungsi-fungsi kepemimpinan sebagai berikut;
1) Kepala sekolah harus bersikap arif, bijaksana, adil. (arbritrating)
2) Memberi saran dan anjuran untuk meningkatkan semangat, rela berkorban, rasa kebersamaan dalam melaksanakan tugas. (suggesting
3) Memberi fasilitas yang nyaman dan suasana yang mendukung untuk kenyamanan dalam berkarya. (Supplying objectives)
4) Kepala sekolah berperan sebagai katalisator, dalam arti mampu menimbulkan dan memobilisasi semangat bawahan dengan pencapaian tujuan yang ditetapkan. (catalyzing)
5) Memeri rasa aman dari kegelisahan, kehawatiran, serta memperoleh jaminan keamanan dari kepala. Providing security)
6) Menjadi pusat perhatian, sehingga harus selalu menjaga integritasnya, selalu terpercaya, dihormati baik sikap, perilaku maupun perbuatannya (representing).
7) Membangkitkan semangat, percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, sehingga mereka menerima dan memahami tujuan sekolah secara antusias. (inspiring).
8) Menghargai segala hasil kerja bawahan. Penghargaan dan pengakuan ini dapat diwujudkan dengan berupa; kenaikan pangkat, fasilitas, kesempatan mengikuti pendidikan dan lain-lain (praising).
Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah berfungsi sebagai berikut; 1) perumus tujuan kerja dan pembuat kebijakan (policy) sekolah; 2) pengatur tata kerja (mengorganisasi) sekolah, yang mencakup; mengatur pembagian tugas dan wewenang, mengatur petugas pelaksanaan, menyelenggarakan kegiatan (mengkoordinasi) .
d) Sebagai pendidik
Kepala sekolah sebagai pendidik harus mampu menanamkan, memajukan dan meningkatkan paling tidak empat macam nilai, yaitu; 1) mental, hal-hal yang berkaitan dengan sikap batin dan watak manusia; 2) moral, hal-hal yang berkaitan dengan ajaran baik buruk mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban atau moral yang diartikan sebagai akhlak, budi pekrti dan kesusilaan; 3) fisik, hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan, kesehatan dan penampilan manusia secara lahiriyah; 4) artistik, hal-hal yang berkaitan kepekaan manusia terhadap keindahan .
Kepala sekolah berperan sebagai pendidik juga perlu memperhatikan dua hal pokok, yaitu: 1) sasaran, perilaku kepala sekolah adalah mengaraha kepada para guru, staf, dan para siswa, 2) peranan, kepala sekolah sebagai pendidik perlu berkikap secara persuasi, memberi tauladan, dan penampilan kerja dalam pengertian performance, yaitu bersikap disiplin, jujur, penuh tanggung jawab, bersahabat dan sebagainya.
Disamping hal tersebut, masih ada sasaran yang tidak kalah pentingnya, yaitu konstribusi terhadap pembinaan kehidupan sekolah: organisasi siswa, organisasi orang tua, organisasi guru dan lainnya.
e) Sebagai Supervisor
Kepala sekolah sebagai supervisor harus meneliti, mencari dan menetukan syarat-syarat mana saja yang diperlukan bagi kemauan sekolah. Syarat-syarat yang perlu diteliti diantaranya: 1) Kondisi gedung sekolah (baik/ buruk, dan jalan keluarnya); 2) kelengkapan alat-alat sekolah; 3) keadaan guru; 4) semanga kerja guru/ sataf; 5) kalitas guru mengajar; 6) hasil belajar siswa; 7) usaha mningkatkan kualitas guru dan siswa; 8) Tanggung jawab guru dan lain sebagainya
2. Tanggung Jawab Pembinaan Kepala
Tanggung jawab pembinaan kepala sekolah adalah pemerintah sebagaimana dalam Peraturan Pemerintah yang mengatur pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa pelaksanaan ketentuan yang menyangkut pengelolaan, penilaian, bimbingan, pengawasan dan pengembangan bagi sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, menjadi tanggung jawab pemerintah. Maksudnya pemerintah mengeluarkan peraturan dan pedoman tentang bagaimana pengelolaan, penilaian bimbingan, pengawasan dan pengembangan pendidikan dilaksanakan.
Di dalam Sisdiknas tersebut juga di jelaskan secara khusus bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, sehingga dengan demikian kepala sekolah mempunyai kewajiban untuk selalu mengadakan pembinaan dalam arti berusaha agar pengelolaan, penilaian, bimbingan, pengawasan dan pengembangan pendidikan dapat dilaksanakan dengan lebih baik.
Diantara penyelenggaraan pendidikan yang harus selalu dibina secara terus-menerus oleh kepala sekolah adalah:
a. Program pengajaran
Pembinaan pengajaran sangat penting sebagai suatu usaha memperbaiki program pengajaran untuk dipahami oleh setiap kepala sekolah. Dengan mengetahui dan memahami tahap-tahap proses perbaikan pengajaran akan membantu para kepala sekolah untuk melaksanakan pembinaan program pengajaran sebagai berikut: 1) penilaian sasaran program (assessing program objectives), perlu diuji keadaan program pengajaran dengan tuntutan masyarakat dan kebutuhan mereka yang belajar; 2) merencanakan perbaikan program (planning program improvement), perlu dibentuk struktur yang tepat, mengusahakan dan memanfaatkan informasi serta mengadakan spesifikasi sumber-sumber yang diperlukan untuk program; 3) melaksanakan perubahan program (implementing program change), termasuk memotivasi para guru, pustakawan, laboran dan para tenaga administrasi, membantu program pengajaran, dan melibatkan mayarakat; 4) evaluasi perubahan program (evaluation of program change constitutes), perlu perhatian untuk merencanakan evaluasi dan penggunaan alat ukur yang tepat untuk hasil pengajaran .
b. Pembinaan Kesiswaan
Tanggung jawab legal kepala sekolah dalam hal ini mengadakan pengendalian kehadiran para siswa, penerapan disiplin, kebebasan mengemukakan pendapat dan menghormti proses hak-hak seluruh siswa secara tepat.
Dengan demikian interaksi formal dan informal terus-menerus diantara para siswa, guru dan kelapa sekolah, merupakan bantuan dalam menciptakan dan meningkatkan keserasian dan kecocokan (congruence and compatibility). Secara khusus siswa akan menghargai kepala sekolah. sebagai guru, tempat berkonsultasi, interpretasi dan memberikan keterangan tentang kebijaksanaan sekolah, maupun memberikan nasehat secara terus terang .
c. Pembinaan staf
Staf adalah kelompok sumber daya manusia yang bertuas membantu kepala sekolah dalam mencapai tujuan sekolah, terdiri dari para guru, laboran, pustakawan, dan kelompok sumber daya manusia yang bertugas sebagai tenaga administrasi.
Semua kegiatan memerlukan keterlibartan orang-orang dengan ltar belakang kemampuan yang berbeda-beda, seperti; para guru yang professional, kelompok orang-orang yang tidak terlibat dalam tugas mengajar, pustakawan, laboran dan lain sebagainya.
Secara umum diakui bahwa keberhasilan usaha seseorang mempunyai hubungan erat dengan kualitas manusia yang memerlukan usaha tersebut, disamping keadaan yang berpengaruh terhadap kondisi fisik dan mental manusia itu sendiri.
Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah yang mempunyai arti vital dalam proses pendidikan harus mampu mengolah dan memanfaatkan segala sumber daya manusia yang ada, sehingga tercapai efektivitas sekolah yang melahirkan perubahan kepada anak didik.
Efektivitas sekolah tercapai, apabila kepala sekolah selalu memperhatikan dan melaksanakan hal-hal berikut; 1) sekolah harus secara terus menerus menyesuaikan dengan kondisi internal dan eksternal yang mutakhir; 2) mampu mengkoordinasikan dan mempersatukan usaha seluruh sumber daya manusia kearah pencapaian tujuan; 3) perilaku sumber daya manusia kearah pencapaian tujuan dapat dipengaruhi secara positif apabila kepala sekolah mampu melakukan pendekatan secara manusiawi; 4) sumber daya manusia merupakan satu komponen penting dari keseluruhan perencanaan organisasi; 5) dalam rangka pengelolaan kepala sekolah harus mampu menegakkan hubungan yang serasi antara tujuan sekolah dan prilaku sumber daya manusia yang ada; 6) dalam meningkatkan afektivitas dan efisiensi sekolah, suber daya manusia harus ditumbuhkan sebagai satu kekuatan utama.

d. Anggaran Belanja dan fasilitas sekolah
Ketepatan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengusahakan sumber daya material yang ada pada suatu sekolah, oleh sebab itu peranan kepala sekolah dalam kerangka manajemen, berkewajiban untuk menjabarkan tujuan dan sasaran sekolah kedalam istilah-istilah yang pragmatik tentang: permintaan anggaran yang spesifik, mempersiapkan dan mempertahankan anggaran sekolah, pemantauan atau monitoring terhadap pendayagunaan sumber-sumber yang tersedia, dan evaluasi hasil-hasil pendidikan .
e. Anggaran belanja sekolah
Siklus anggaran belanja sekolah yang mencakup perencanaan, persiapan, pengelolaan dan evaluasi anggaran sekolah memerlukan perhatian yang cermat dari kepala sekolah. Sebab kecermatan kepala sekolah terhadap proses anggaran belanja sekolah akan meningkatakan kewibawaan kepala sekolah terhadap keberhasilan sekolah.
Anggaran belanja suatu sekolah pada dasarnya, adalah pernyataan sistem yang berkaitan dengan program pendidikan yang berupa penerimaan dan pengeluaran yang direncanakan dalam satu periode kebijaksanaan kieuangan (fiscal) dan didukung dengan data yang mencerminkan kebutuhan, tujuan, proses pendidikan, dan hasil sekolah yang direncanakan.
Oleh sebab itu kepala sekolah harus memahami dan berlatih tentang jiwa administrasi dan teknik-teknik manajemen bisnis keseluruhan proses anggaran belanja
3. Tugas-tugas Kepala
Kepala sekolah merupakan personel sekolah yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan-kegiatn sekolah. Ia mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya.
Kinerja atau tugas-tugas kelapa sekolah adalah sebagai berkut: mengatur penyelenggaraan di sekolah/ madrasah, mengatur urusan tata usaha madrasah, mengatur penyelenggaraan keuangan madrasah, mengatur penyelenggaraan urusan sarana dan peralatan madrasah, mengatur penyelenggaraan urusan rumah tangga madrasah, mengatur penyelenggaraan urusan perpustakaan dan laboratorium, hubungan orang tua siswa dan masyarakat, melakukan pengendalian pelaksanaan seluruh kegiatan di madrasah, melakukan tugas-tugas lain yang diberikan atasan.
4. Meningkatkan Kualitas Kepala
Kunci keberhasilan suatu sekolah pada hakikatnya terletak pada efisiensi dan efektivitas penampilan seorang kepala sekolah. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah dan keberhasilan kepala sekolah adalah keberhasilan sekolah.
Kualitas kepemimpinan kepala sekolah sangat penting artinya, maka sangat ditekankan adanya tiga kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh kepala sekolah, yaitu: conceptual skills, human skills dan technical skills.
Dengan memiliki ketiga keteampilan tersebut, kepala sekolah diharapkan mampu; menentukan tujuan sekolah, mengatur sekolah, menanamkan pengaruh atau kewibawaan kepemimpinanya, memperbaiki pengambilan keputusan, dan melaksanakan perbaikan pendidikan.
Disamping dasar-dasar itu, kepala sekolah juga perlu memahami dan mewujudkan: prinsip-prinsip, pelaksanaan atau praktek , dan prosedur dalam: memperbaiki program pengajaran, bekerja secara efektif dengan staf dan para siswa, mengelola segala sumber daya sekolah, dan meningkatkan hubungan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat .
D. Kesimpulan
Kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalm hal ini pengaruh yang disengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lian untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.
Kepala madrasah Aliyah sebagaimana juga sekolah lainnya harus bisa menggerakkan, mengarahkan, membimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan, memberikan bantuan, dan sebagainya terhadap segala sesuatu yang ada kaitannya dengan lembaga pendidikan.
Kedudukan kepala madrasah sangat unik karena ia memiliki beberapa posisi, yaitu sebagai pejabat formal, sebagai manajer, sebagai pemimpin, sebagai pendidik, dan sebagai staf, merupakan kedudukan yang melekat pada diri kepala madrasah.
Sedangkan tugas pokok yang harus ia lakukan berupa pembinaan program pengajaran, pembinaan kesiswaan, pembinaan staf, anggaran belanja dan fasilitas madrasah serta anggaran belanja madrasah.
Dengan demikian, sebagai kepala madrasah aliyah tentunya pimpinan akan selalu melaksanakan tugasnya sesuai dengan job-jobnya dan kinerja yang diembannya yang diaplikasikan dengan nuasa yang islami, baik bentuk manajemennya, program, dan bentuk aktivitas keseharian dalam lembaga tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sekretariat Jenderal, 1992, Himpunan Peraturan Perundangan Republik Indonesia Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, PP. No. 28 tahun 1990 Pasal 4 ayat 3.

Hicks, G & Gullet C., Ray, 1975, Organization: Theory and Behavior, McGrow-Hill, Inc. H.M. Daryanto, 2001, Administrasi Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta

Ismail, SM dkk (ed.), 2002, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Jacobs, T.O., & Jaques E, 1990, Militery executive leadership, di K.E. Clark % M.B. Clark (Dds), Measures of Leadership, NJ, Leadership Libarary of America

Katz, D. & Kahn R.L, 1978, The Social Psychology of Organizations (2nd ed.), New York, John Wiley

Koonts, et.al., 1980, Management, seventh edition, Kogakusha, McGrw-Hill

Maksum, 1999, Madrasah, Sejarah, dan Perkembangannya, Jakarta, Logos

Nata, Abuddin, (Ed.), 2001, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Grasindo

Poerwadarminta, W.J.S., 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN. Balai Pustaka

Soemanto, Wasty, & Hendyat Soetopo, 1982, Kepemimpinan dalam Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional

Stogdill, Ralph.M. 1974, Handbook of Leadership: A Survey of the literature, New York, Free Press

Wahjosumidjo, 2002, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta, Raja Grafindo Persada
Yukl, Gary, 2002, Leadership in Organizationz, New Jersey, Prentice Hall International

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: