APLIKASI TQM DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

6 10 2008

Abstract: ´Total Quality Management is becoming increasingly used to describe a variety of differentinitiatives in organizations.It refers to the systematic managemen of an organization’s customer-supplierrelationships in such a way as to ensure sustainable, steep-slope inprovements in quality performance.
TQM aims at significant and substantive quality inprovements and performance improvements, not just small, marginal gains. The idea is that TQM, if applied over the whole chain of customer supplier relationship, can lead to substantial gains in process quality and performance outcomes.
Student and parent are not the only customer for the processes of schooling. But they have a great effect on the way the school functions and operates, on school performance and on its reputation.

A. Pendahuluan
Pembangunan bidang pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersa-sama dengan masyarakat dalam rangka upaya pengejawantahan salah satu cita-cita yang sangat mulia dan luhur, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktup dalam UUD ’45.
Dalam upaya tersebut, masyarakat juga pemerintah bahu-membahu dalam upaya mencerdaskan seluruh komponen bangsa dengan pendidikan baik formal maupun non formal, baik melalui sekolah maupun luar sekolah, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa bisa mengenyam dan menikmati pendidikan sebagai kebutuhan primer masyarakat.
Disaat yang besamaan nampaknya sangat urgen dalam upaya adanya peningkatan kualitas pendidikan untuk memberikan peningkatan mutu secara signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia. Hal ini berlaku bagi orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan, sehingga kualitas benar-benar menjadi tujuan yang mendasar.
Dengan demikian, lembaga pendidikan harus diusahakan berupa langkah-langkah adanya inovasi-inovasi pendidikan secara profesional dengan manajemen yang handal, sehingga lembaga pendidikan tersebut bisa mencetak kader-kader yang ready for yours di tengah-tengah masyarakat, baik siap dalam intelektualnya, keterampilannya, maupun spiritualnya.
Pada zaman globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang semakin canggih terus menggelobal dan berdampak pada hampir smua sistem kehidupan umat manusia di muka bumi dewasa ini .
Lembaga pendidikan sebagai organisasi merupakan salah satu sistem juga tidak dapat terhindar dampak dari kemajuan tersebut, dengan demikian maka disetiap lembaga pendidikan dituntut untuk dapat mengantisipasi berbagai perubahan-perubahan tersebut.
Keberadaan TQM yang digunakan dalam penerapan di dunia bisnis menuai hasil yang sangat signifikan, sehingga TQM memiliki daya tarik tersendiri, untuk bisa diaplikasikan pada objek-objek kelembagaan atau organisasi yang lain, baik dalam bidang politik, sosial, termasuk dalam dunia pendidikan. Hal ini dalam rangka efektivitas dan hasil yang baik sebagai target yang diidam-idamkan.

B. Eksistensi TQM
1 Definisi TQM
Dalam mendefinisikan kualitas produk, ada beberapa pakar utama dalam manajemen mutu terpadu (Total quality Manajement) yang saling berbeda pendapat, tetapi maksudnya sama. Diantara beberapa definisi tersebut adalah :
1. Menurut Crosby, kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. Standar kualitas meliputi bahan baku, proses produksi dan produksi jadi.
2. Menurut Feigenbaum, kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full costumer satisfaction). Suatu produk dikatakan berkualitas apabila dapat memberi kapuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk.
3. Menurut Garvin, kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia atau tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen .
Berangkat dari beberapa definisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa hal mendasar dalam mendefinisikan kualitas adalah quality assurance, contract conformance and costumer driven .
Meskipun tidak ada definisi mengenai kaulitas yang diterima secara universal, namun ketiga definisi kualitas tersebut di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut :
a. Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
b. Kualitas mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan
Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang).
Beberapa ahli managemen memberi definisi TQM (Total Quality Management} sebagai berikut:
a) Menurut Edward Sallis bahwa “Total Quality Management is a philosophy and a methodologhy which assits institutions to manage change and to set their oum agendas for dealing whit the pletbora of new external pressures .” Pengertian ini menekankan bahwa Total Quality Management merupakan suatu filsafatdan metodologi yang membantu berbgai institusi, terutama industri, dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing-masing untuk menanggapi tekanan-tekanan faktor eksternal.
b) Menurut Cafee dan Sherr menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu adalah suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas dan mengurangi pembiayaan .
c) Hradesky; TQM is a philosophy, a set of tools, and a process whose output yield customer satisfaction and continuous improvement
Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas yang diinginkan dengan didasarkan pada kepuasan pelanggan, maka diperlukan manajemen yang tepat guna, yaitu Total Quality Manajement (TQM). Istilah utama yang terkait dengan kajian Total Quality Manajement (TQM) adalah continous improvement (perbaikan terus menerus) dan quality improvement (perbaikan mutu).
Pada dasarnya Managemen Kualitas (Quality Management) Manajemen Kulaitas Terpadu (Total Quality Management = TQM) didefinisikan sebagai suatu cara meningkatkan performansi secara terus-menerus (continuous formanceimprovement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia .
Dari beberapa definisi tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Total Quality Manajement (TQM) memfokuskan pada suatu proses atau system pencapaian tujuan organisasi. Dengan dimulai dari proses perbaikan mutu, maka TQM diharapkan dapat mengurangi peluang membuat kesalahan dalam menghasilkan produk, karena produk yang baik adalah harapan para pelanggan. Jadi rancangan produk diproses sesuai dengan prosedur dan tekhnik untuk mencapai harapan pelanggan. Penggunaan metode ilmiah dalam menganalisis data diperlukan sekali untuk menyelesaikan masalah dalam peningkatan mutu. Partisipasi semua pegawai digerakkan agar mereka memiliki motivasi dan kinerja yang tinggi dalam mencapai tujuan kepusan pelanggan.
2 Sejarah TQM
Landasan histories Manajemen ini sebenarnya adalah Stantistical Process Control (SPC) yang merupakan model manajemen manufaktur yang pertama kali diperkenalkan oleh Edward Deming dan Joseph Juran sesudah perang dunia II, guna membantu bangsa Jepang untuk membangun kembali infrastruktur negaranya. Ajaran Deming dan Juran ini berkembang terus hingga kemudian dinamakan Total Quality Management oleh US Navy pada taahun 1985 .
3 Konsep Dasar dan Prinsip-prinsipTQM
a Konsep Dasar TQM
Konsep manajemen TQM lebih memusatkan perhatian kepada uapaya pergerakan dan pemberdayaan sumber daya manusia (human resources empowering and motivating)
Kepuasan pelanggan merupakan fokus dari pelaksanaan TQM. Filosofi ini menyebabkan beberapa implikasi yang sangat besar dalam pelaksanaan sistem manajemen dibandingkan dengan sistem managemen konvensional. Kepuasan pelanggan yang dinyatakan dalam TQM merupakan kepuasan pelanggan baik pelanggan internal maupun eksternal, sehingga penentuan visi dan tujuan harus selalu melibatkan pelanggan, sehingga sebuah organisasi yang hendak menerapkan TQM harus mendefinisikan terlebih dahulu siapa yang termasuk dalam pelanggannya yang kebutuhan dan harapannya harus selalu diidentifikasi
b Prinsip-prinsip TQM
Prinsip-prinsip Total Quality Manajement (TQM) Menurut Hensler & Brunell, yaitu ada empat sprinsip utama:
1) Kepuasan Pelanggan
Dalam TQM, konsep mengenai kualitas pelanggan diperluas. Kualitas tidak lagi hanya bermakna kesesuaan dengan spesipikasi-spesipikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Pelanggan itu sendiri meliputi pelanggan internal dan eksternal. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala aspek, diantaranya harga, keamanan, dan ketepatan waktu. Oleh karena itu segala aktivitas harus dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan. Kualitas yang dihasilkan suatu perusahaan sama dengan nilai (value) yang diberikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para pelanggan. Semakin tinggi nilai yang diberikan, maka semakin besar pula kepuasan pelanggan.
2) Respek terhadap setiap orang
Setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreativitas tersendiri yang unik. Dengan demikian karyawan merupakan sumber daya organisasi yang peling bernilai. Oleh karena itu setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.
3) Manajemen berdasarkan fakta
Setiap keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan (feeling). Ada dua konsep pokok berkaitan dengan hal ini. (1) prioritisasi (prioritization) yakni suatu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilkukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu dengan menggunkan data maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital.(2) variasi (variation) atau variabilitas kinerja manusia. Data statistik dapat memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar dari suatu sistem organisasi. Dengan demikian menejemen dapat memberikan prediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.
4) Perbaikan berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses secara sistematis dalam melakukan perbaikan berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCA (plan-do-chek-act), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan, dan tindakan korektif terhadap hasil yang diperoleh.
4 Karakteristik TQM
Adapun karakteristik Total Quality Manajement (TQM) menurut Joseph M. Juran adalah meliputi;
a Kualitas menjadi bagian dari setiap agenda managemen atas
b Sasaran kualitas dimasukkan dalam mrencana bisnis.
c Jangkauan sasaran diturunkan dari benchmarking: fokus adalah pada pelanggan dan pada kesesuaian kompetisi, di sana adalah sasaran untuk peningkatan kualitas tahunan.
d Sasaran disebarkan ketingkat yang mengambil tindakan.
e Pelatihan dilaksanakan pada semua tingkat.
f Pengukuran ditetapkan seluruhnya.
g Manajer atas sedar teratur meninjau kembali kemajuan dibandingkan dengan sasaran.
h Penghargaan diberikan untuk performansi terbaik.
i Sistem imbalan (reward system) diperbaiki .

C. Implementasi TQM dalam Pendidikan
Ketika dikaitkan dengan konteks aplikasinya dalam konsep pendidikan, maka Total Quality Manajement dapat didefinisikan sebagai “a philoshophy improvement which can provide any educational institution with a set of practical tools for meeting and exceeding present and future coctumer need, wants and expextations”.
Definisi Total Quality Management tersebut menekankan pada dua konsep utama. Pertama, sebagai suatu filosofi perbaikan terus menerus (continous improvement), dan kedua berhubungan dengan alat-alat dan tekhnik seperti “brainstorming” dan “force field analysis” (analisis kekuatan lapangan), yang digunakan untuk perbaikan kualitas dalam tindakan manajeen untuk mencapai kebutuha dan harapan pelanggan.
Sedangkan Total Quality Management dalam pendidikan telah dinyatakan oleh Sallis, bahwa “Total Quality Management is about creating a quality culture where the aim of every member of staff is to delight their customer, and where the stucture of their organizations allow todo so . Hal ini mengandung pengertian bahwa Total Quality Management berhubungan dengan penciptaan budaya kualitas dengan memposisikan tujuan karyawan dan staf untuk menyenangkan konsumen sekaligus didukung oleh organisasi mereka dan melakukan sesuatu yang dikehendaki.
Untuk bisa menyenangkan konsumen dalam pendidikan maka perlu perbaikan program sekolah yang mungkin dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif, dan yang paling vital adalah bagaimana mutu kualitas dalam programnya dapat mengobah kultur sekolah para pelajar dan orang tuanya menjadi tertarik dengan adanya inovasi yang ditimbulkan oleh TQM.
Franklin P. Schargel menegaskan bahwa “Total Quality Educations is a process which involves focussing on meeting and exceeding customer expectations, continuous improvement, sharing responsibilities with employees, and reducing scrap and rework bahwa mutu terpadu pendidikan dipahami sebagai suatu proses yang melibatkan pemusatan pada pencapaian kepuasan harapan pelanggan pendidikan, perbaikan terus-menerus, pembagian tanggung jawab dengan para pegawai, dan pengurangan pekerjaan tersisa dan pengerjaan kembali.
Sedangkan konsep Total Quality Management in Educations menurut A.R. Tenner & Detoro, berupa: adanya tujuan TQM tentang peningkatan kualitas sistem layanan jasa pendidikan secara berkelanjutan, terus-menerus, dan terpadu. Pencapaian tujuan tersebut dapat di wujudkan dengan menggunakan prinsip-prinsip berupa; pemfokusan pada pelanggan sekolah, peningkatan kualitas proses, dan melibatkan semua komponen lembaga .
Dalam rangka melaksanakan peningkatan kualitas pendidikan perlu melaksanakan metode yang dikenal dengan metode PDCA (Plan-Do-Chek-Act). Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Sheward dan divisualisasikan oleh Deming , berupa siklus PDCA

Berangkat dari siklus di atas bisa diambil pengertian dengan beberapa tahapan, yaitu:
1. Plan berisi penentuan proses yang man yang perlu diperbaiki, menentukan perbaikan apa yang dipilih, dan menentukan data dan informasi yang diperlukwan untuk perbaikan proses.
2. Do, beirisi pengumpulan data dasar tentang jalannya proses, implementasi perubahan yang dikehendaki (skala kecil), mengumpulkan data untuk mengetahui perubahan (ada perbaikan atau tidak).
3. Check, berisi langkah pemimpin untuk menafsirkan hasil implementasi (berhasil atau tidak) atau upaya pemimpin untuk memperoleh pengetahuan baru tentang proses yang berada dalam tanggung jawabnya.
4. Act, berupa pengambilan keputusan perubahan mana yang akan diimplementasikan, penyusunan prosedur baku, pelatihan ulang bagi anggota terkait, dan pemantauan secara kontineu .
Untuk memperoleh mutu yang diidam-idamkan, tentunya membutuhkan perencaan yang matang, karena total Quality adalah sesuatu yang diraih dengan berkelanjutan. Untukmengejar mutu, maka kesalahan harus dieleminasi untuk mencapai keunggulan kompetitif alumninya dan keunggulan koperatif dengan lulusan yang lain sesuai dinamika dunia kerja.
Menurut Joseh C. Field, bahwa ada sepuluh langkah-langkah untuk menerakan Total Quality Management dalam pendidikan:
1. Mempelajari dan memahami Total Quality Management secara menyeluruh.
2. Memahami dan mengadopsi jiwa dan filosofi untuk perbaikan terus-menerus.
3. Menilai jaminan kualitas saat ini dan program pengendalian mutu.
4. Membangun sistem kualitas terpadu (kebijakan kualitas, rencana strategi mutu, impelmentasi rencana, rencana pelatihan, organisasi dan struktur, prosedur bagi tindakan perbaikan, pendefinisian terhadap nilai tambah tindakan).
5. Mempersiapkan orang-orang untuk perubahan, enilai budaya mutu sebagai tujuan untuk mempersiapkan perbaikan, melatih orang-orang untuk bekerja pada suatu kelompok.
6. Mempelajari teknik untuk menyerang atau mengatasi akar persoalan (penyebab) dan mengaplikasikan tindakan koreksi dengan menggunakan teknik dan alat Total Quality Management .
7. Memilih dan menetapkan pilot project untuk diaplikasikan.
8. Menetapkan prosedur tindakan perbaikan dan sadari akan keberhasilannya.
9. Menciptakan komitmen dan strategi yang benar mutu terpadu oleh pemimpin yang akan menggunakannya.
10. Memelihara jiwa mutu terpadu dalam penyelidikan dan aplikasi pengetahuan yang amat luas .
Dari sepuluh langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai total quality sebagaimana disebut di atas, bagaimana TQM bisa di implementarikan terhadap lembaga pendidikan, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Peningkatan secara berkesinambungan
Sebagai suatu pendekatan TQM mencari suatu bentuk permanen dalam lembaga, sehingga fokus bukan diarahkan jangka pendek, melainkan diarahkan pada peningkatan kualitas jangka panjang. Inovasi konstan, peningkatan dan perubahan merupakan inti TQM, dan lembaga-lembaga tersebut dalam pelaksanaan peningkatan secara berlanjut.
2. Perubahan budaya
Dalam melaksanakan perubahan budaya (kualitas) dalam organisasi yang pertama-tama harus dilakukan adalah “melelehkan” status quo, kemudian menggerakkan ke arah yang baru (budaya baru untuk kualitas), dan jika mantap dipermaninkan lagi.
3. Komunikasi organisasi
Adanya suatu komunikasi yang efektif , baik secara internal maupun secara eksternal, antara pelanggan dan suplier. Semua jaringan dan media komunikasi baik secara vertikal maupun horizontal perlu dioptimalkan.Hal ini sangat diperlukan untuk membentuk iklim kondusif bagi terciptanya budaya kualitas yang diharapkan.
4. Menjaga hubungan dengan pelanggan
Lembaga yang unggul akan selalu menjaga kedekatan dengan pelanggan serta memiliki terterik (obsesi) terhadap kualitas. Pemimpinan lembaga pendidikan harus mempreoritaskan dan memuaskan pelanggan. Hal ini didasarkan pada ciri utama penentu kualitaqs versi TQM bahwa pelangganlah yang akhirnya menentukan kualita.
5. Kolega sebagai pelanggan
Fokus TQM terhadap pelanggan bukan sekedar memenuhi kebutuhan dari luar, akan tetapi kolega-koleganya yang ada dalam lembaga juga menrupakan pelanggan. Keseimbangan dalam memenuhi semua pelanggan baik internal maupun eksternal harus dilakukan secara proporsional.
6. Pemasaran internal
Pemasaran internal adalah alat untuk mengkomunikasikan berbagai informasi pada staf guna meyakinkan mereka tentang apa yang terjadi di sekolah, sehingga staf memiliki kesempatan untuk membrikan ide umpan balik. Pemasaran internal adalah bentuk ola mengkomunikasikanide. Jika pemasaran internal berjalan dengan baik, niscaya dukungan terhadap implementasi TQM dalam bidang pendidikan dapat berjalan dengan baik pula, justru melalui pemasaran internal itulah nantinya menjadi pendongkrak pada pemasaran eksternal yang lebih luas.
7. Profesionalisme dan fokus pelanggan
Menunjukkan kepedulian pada standar akademik yang memadai. Mempersatukan unsur terbaik bagi profesionalisme dengan total quality merupakan modal penting untuk meraih sukses. Fokuskan keprofesionalannya kepada keinginan dan kepuasan pelanggan dalam jangka panjang. Implikasinya, opini pelanggan terhadap sistem layanan jasa pendidikan disekolah menjadi terbentuk dengan baik.
8. Kulitas belajar
Dalam menerapkan TQM harus mengantisipasi gaya belajar siswa secara serius, sehingga mendapatkan strategi yang baik untuk melayanimasing-masing invidu yang memiliki perbedaan dalam belajar. Penggunaan TQM dalam kelas pertama harus menetapkan misi yang disepakati antar siswa dan guru. Berdasarkan hasil kesepakatan tersebut timbul keinginan untuk mencapai misi tersebut. Dalam proses menentukan kesepakatan bersama diperlukan adanya ketetapan tentang kualitas dari forum agar dapat diberikan umpan balik serta memberikan kesempatan kepad siswa mengatur cara belajar tersendiri. Selain itu wakil dari orang tua juga diperlukan untuk mengatisipasi kesalahan dan mencari jalan keluar.
9. Mengatasi hambatan dalam memperkenalkan TQM
Ada beberapa hambatan yang sering timbul dalam pelaksanaan TQM di sekolah, antara lain; (1) pemimpin membutuhkan hasil dri TQM, dipihak lain mereka enggan memberikan dukungan; (2) staf tidak memahami tujuan dan misi lembaga; (3) peran manajer madya, yang memiliki peran sangat penting karena merka bertanggung jawab atas operasional lembaga sehati-hari dan berperan juga sebagai saluran komunikasi yang utama. Manajer madya tidak boleh bertindak sebagai inovator kecuali manajer seniaor sudah mengemukakan misinya dimasa yang akan datang. Manajer senior harus konsisten dalam menasehati dan mengkomunikasikan pesan-pesan untuk meningkatkan kualitas.
Bagaimanapun baiknya konsep TQM, memang tidak menjamin sepenuhnya bahwa TQM bisa berhasil diimplimentasikan pada organisasi, beberapa contoh yang gagal mengimplementasikannya antara lain General Motor ,Perum Jasa Tirta Malang dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa konsep TQM masih perlu revitalisasi pengembangan inovasi-inovasi konsep sehingga benar-benar lebih baik, disamping itu kiranya perlu adanya sikap ketelatenan dan kesabaran serta proaktif semua pihak untuk selalu ditingkatkan serta diupayakan perbaikan secara terus menerus untuk optimalisasi keberhasilan.

D. Penutup
Manajemen merupakan keniscayaan bagi kehidupan umat manusia. Sebenarnya tanpa disengaja manusia talah melaksanakan manajemen baik secara personal maupun secara kolektif (kelompok), baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Namun efektivitas manajemen akan tercapai bila mengetahui ilmu manajemen dan bisa biaplikasikan dalam keseharian.
Walaupun lembaga pendidikan telah melaksanakan manajemen dari sejak keberadaannya, namun lembaga pendidikan perlu meningkatkan inovasi-inovasi manajemen dalam upaya semakin meningkatkan kualitasnya. Diilhami keberhasilan konsep-konsep TQM yang dilahirkan untuk peningkatan mutu produksi di pabrik, nampaknya lembaga pendidikan sangat perlu untuk menerapkan konsep TQM dalam dunia pendidikan.
Apabila dunia industri meningkatkan mutu produknya berupa benda mati, lain halnya dengan lembaga pendidikan, dimana yang diproduksi berupa benda hidup (bergerak), sehingga nampaknya sangat urgen bila konsep TQM yang diaplikasikan kepada lembaga pendidikan untuk di kembangkan kembali, karena bagaimanapun produk pabrik yang pasif tidak sepenuhnya bisa disinkronisasi dengan produk pendidikan yang aktif.
Disamping itu barometer terhadap kepuasan pelanggan dalam dunia pendidikan masih menimbulkan penilaian yang agak abstrak, hampir sama juga dengan kurang jelasnya pengukuran kualitas output yang dihasilkan oleh lembaga.
Masyarakat pedalaman akan merasa puas terhadap prosesi kegiatan belajar mengajar, bahkan terhadap output dari lembaga tersebut karena hanya anaknya bisa sekolah, dana yang relatif murah, dan karena anaknya bisa baca dan menulis. Lain lagi dengan di perkotaan, tentunya akan lain lagi kepuasan pelanggan terhadap pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran-ukuran tersebut sangat kondisional dan tidak ada ukuran yang relatif sama dengan ukuran kualitas barang yang tidak bergerak.
Namun bagaimanapun konsep-konsep TQM saat ini masih sangat relevan untuk peningkatan kualitas lembaga pendidikan, walaupun kita masih perlu melengkapi konsep tersebut dari segala kekurangan-kekurangannya.

DAFTAR PUSTAKA

B. Creech, 1996, Lima pilar (Manajemen Mutu Terpadu) TQM: Cara membuat Total Quality Management Bekerja bagi anda, Alih bahasa: Sindoro. A., Jakarta, Binarupa Aksara

B. Ibrahim, 2000, TQM: Panduan untuk menghadapi persaingan global, Jakarta, Djambatan

Burhanuddin, 2002, Manajemen Pendidikan, Malang, UNM/UM

Field, Joseph C., 1993, Total Quality Management, Wisconsin, ASQC Quality Press

Franklin P. Schargel, 1994, Transforming Education Through Total Quallity Management: A Practitioner”s Guide. New York, EYE on Education

Gaspersz, Vincent, 2005, Total Quality Management, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama

Hardjosoedarmo, Soewarso, 1996, Total Quality Management, Yogjakarta, Andi Offset

J. Hradesky, 1995, Total Quality Management, New York, McGraw-Hill, Inc

Prabowo, Sugeng Sugeng Listiyo, Manajemen Mutu Terpadu: Alternatif Untuk Mengembangkan Perguruan Tinggi, dalam EL-JADID: Jurnal Ilmiah Pengetahuan Islam, Vol. 2 No. 4, Januari 2005

Sallis, Edward, 1993, Total Quality Management in Education, London, Kogan Page Educational Management Series

Soedarmo, Harjo, 1997, Dasar-dasar Total Quality Management, Yogyakarta, Andi

Tjiptono, Fandy, & Diana, Anastasia, 2003, Total Quality Manajemen, yogyakarta, Andi

Tunner & Detoro, 1992: Total Quality Manajement : Tree Steeps to Continuous Improvement, Massachuset, Addison-Weley Publishing Company


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: